AI Makin Canggih, Google Cloud Nilai Empati dan Adaptasi Tetap Jadi Kekuatan Manusia

Author: Redaksi Android62

Kemajuan AI tidak otomatis menghapus peran manusia di dunia kerja. Google Cloud menilai empati dan kemampuan beradaptasi tetap menjadi dua keunggulan yang sulit ditiru teknologi.

Dua kemampuan tersebut dinilai penting karena pekerjaan tidak hanya bergantung pada pengolahan data dan instruksi. Interaksi sosial, pemahaman emosi, serta kemampuan menciptakan cara kerja baru masih membutuhkan penalaran manusia.

Vice President Customer Engineering Google Cloud Asia Pacific, Moe Abdula, mengatakan keterampilan manusia telah bertahan melewati berbagai perubahan teknologi. Menurut dia, teknologi dapat membantu banyak pekerjaan, tetapi tidak menggantikan sisi manusia dalam memahami emosi dan konteks sosial.

Dua Kemampuan yang Disorot Google Cloud

Kemampuan Peran Utama Alasan Sulit Digantikan AI
Empati Memahami emosi dan kondisi orang lain Membutuhkan koneksi serta respons sosial yang tepat
Adaptasi Menciptakan cara baru dalam bekerja Manusia dapat menyesuaikan diri dengan perubahan

Empati menjadi perhatian utama karena manusia dapat merasakan keadaan orang lain dan meresponsnya sesuai situasi. Kemampuan itu dianggap penting ketika seseorang harus mengambil keputusan di tengah persoalan yang rumit.

Moe mencontohkan profesi kepolisian yang kerap berhadapan langsung dengan masyarakat dalam kondisi sulit. Upaya meredakan ketegangan, memahami persoalan, dan membantu seseorang menentukan langkah dinilai memerlukan penalaran manusia.

“Saya pikir ada keterampilan manusia yang akan bertahan, dan mereka telah melewati semua pergeseran teknologi di masa lalu. Kemampuan kita untuk memiliki empati dan koneksi adalah hal yang sangat manusiawi,” kata Moe pada Rabu (15/7/2026).

Dalam pandangan Google Cloud, pekerjaan yang bertumpu pada empati, penalaran, dan interaksi sosial tetap membutuhkan keterlibatan manusia. AI belum dapat mengambil alih seluruh fungsi tersebut hanya dengan memproses data.

Adaptasi Menjadi Pembeda di Tengah Perubahan

Kemampuan kedua adalah adaptasi, yakni kecakapan manusia menemukan pendekatan baru saat teknologi mengubah cara bekerja. Moe menilai manusia tidak sekadar memakai teknologi, melainkan juga dapat menggunakannya untuk menciptakan inovasi.

AI pada dasarnya bekerja berdasarkan data dan instruksi yang diberikan manusia. Sistem ini cenderung menghasilkan respons dari pola yang telah dipelajari sebelumnya.

Manusia memiliki kemampuan untuk mengubah pola kerja ketika menghadapi perkembangan baru. Perubahan teknologi transportasi, dari pemanfaatan hewan sebagai alat angkut hingga kendaraan modern, menjadi salah satu contoh pergeseran tersebut.

Ia juga menyinggung perubahan dalam pendidikan dan pekerjaan setelah kalkulator digunakan secara luas. Alat tersebut mengubah cara berhitung, tetapi juga mendorong manusia menyelesaikan persoalan yang lebih kompleks.

“Manusia terus menemukan cara baru untuk bekerja dan memanfaatkan teknologi. Itu adalah keterampilan yang hanya dimiliki manusia,” kata Moe.

Perkembangan AI dengan demikian dipandang sebagai perubahan yang menuntut penyesuaian, bukan sekadar penggantian tenaga kerja. Empati dan adaptasi akan tetap menjadi pembeda ketika teknologi semakin banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru