Guru menjadi titik awal yang dipilih Google untuk memperluas pemanfaatan AI di kelas digital Asia-Pasifik. Melalui AI Opportunity Fund, perusahaan itu menambah pendanaan USD10 juta sehingga total investasi program mencapai USD37 juta.
Dana tambahan ini diarahkan untuk membekali 4,7 juta pelajar, pendidik, dan pekerja di 19 negara dengan keterampilan AI. Fokus tersebut menunjukkan bahwa penguatan teknologi di ruang belajar tidak hanya soal perangkat, tetapi juga soal siapa yang paling dekat dengan proses belajar setiap hari.
Guru Jadi Pusat Pemanfaatan AI
Google menempatkan pendidik sebagai pihak yang paling penting dalam penerapan AI di sekolah. Alasannya sederhana, guru yang berhadapan langsung dengan siswa, sehingga dukungan teknologi diarahkan untuk membantu pengajaran dan bukan menambah beban administratif.
Di sejumlah sekolah, AI sudah dipakai untuk kebutuhan yang sangat praktis. Aurelius Yeo dari School of Science and Technology di Singapura menggunakan NotebookLM untuk membantu siswa memahami materi yang kompleks sesuai gaya belajar mereka.
Di sekolah yang sama, Kar Mun Lam dari Dunman High School memanfaatkan Gemini untuk mengotomatisasi tugas administratif. Cara ini memberi guru lebih banyak waktu untuk mendampingi siswa secara langsung di kelas.
Pelatihan Masih Jadi Tantangan
Dorongan penggunaan AI datang dengan catatan penting, yaitu masih adanya kesenjangan pelatihan formal. Google merujuk survei yang menunjukkan 77% pendidik dan 79% pelajar percaya AI akan meningkatkan kualitas pembelajaran.
Meski keyakinan terhadap manfaat AI cukup tinggi, pemanfaatannya belum merata di lembaga pendidikan. Karena itu, banyak institusi menilai perlu ada kerangka kerja yang jelas agar integrasi AI bisa berlangsung aman dan efektif.
Pendekatan seperti ini dipandang penting supaya teknologi benar-benar mendukung proses belajar. Tanpa arahan yang tepat, AI berisiko menimbulkan kebingungan dalam penerapannya di sekolah.
Dukungan Belajar untuk Pendidik
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Google menyiapkan jalur pembelajaran terintegrasi dengan sejumlah sumber daya. Di dalamnya ada Experience AI, Gemini Academy, dan AI Research Foundations yang ditujukan untuk memperkuat pemahaman tentang AI.
Google juga menyediakan Buku Panduan AI bagi Pendidik dan platform pembelajaran terpusat. Platform itu membantu pemantauan progres sekaligus memudahkan otomatisasi pendaftaran, sehingga akses pembelajaran bisa lebih teratur.
Selaras dengan Kebutuhan Lokal
Pelaksanaan program dilakukan bersama lebih dari 20 mitra agar selaras dengan agenda digital nasional masing-masing negara. Pola ini menunjukkan perluasan AI Opportunity Fund tidak berjalan sendiri, melainkan menyesuaikan kebutuhan lokal di Asia-Pasifik.
Sejak 2024, program ini telah melatih 500.000 pekerja dan mendukung 11.000 usaha kecil. Google.org juga disebut mendanai lebih dari 100 organisasi di Asia-Pasifik dengan dukungan total USD200 juta, donasi non-tunai senilai USD600 juta, serta kontribusi 170.000 jam kerja sukarela.
Secara keseluruhan, inisiatif ini telah membuka peluang bagi lebih dari 60 juta pelajar. Dengan menempatkan guru sebagai pusat, Google ingin mendorong AI menjadi sarana yang lebih inklusif untuk memperluas akses pendidikan dan meningkatkan kualitas pembelajaran di Asia-Pasifik.
Source: www.medcom.id