Gumoh pada bayi umumnya masih tergolong normal selama berat badan tetap naik sesuai usia, bayi tampak nyaman, dan tidak muncul keluhan lain yang mengarah pada gangguan serius. Dalam banyak kasus, kondisi ini berkaitan dengan saluran cerna bayi yang belum matang.
Namun, orang tua perlu lebih waspada bila gumoh berubah menjadi berlebihan atau berbeda dari kebiasaan biasanya. Situasi seperti itu dapat menandakan ada masalah yang perlu diperiksa lebih lanjut oleh dokter.
Tanda yang tidak boleh diabaikan
Beberapa gejala berikut perlu mendapat perhatian khusus karena dapat menunjukkan gumoh tidak lagi dalam batas wajar:
- Muntah darah
- Berat badan tidak naik sesuai usia
- Postur Sandifer, yaitu bayi melengkungkan punggung
- Rewel berkepanjangan
- Menolak makan
- Sembelit atau diare
- Gangguan tidur
Gejala tersebut penting dipantau terutama jika muncul bersamaan atau berlangsung terus-menerus. Pemeriksaan medis diperlukan agar penyebabnya dapat dinilai dengan lebih tepat.
Mengapa gumoh sering muncul pada usia awal
Menurut Sri Kesuma Astuti dari Divisi Gastrohepatologi Anak RS Mohammad Hoesin Palembang, gumoh dipicu oleh beberapa faktor yang saling berkaitan. Faktor itu meliputi asupan bayi yang masih berupa cairan, kapasitas lambung yang kecil, kebiasaan bayi sering tidur, dan kapasitas kerongkongan yang masih terbatas.
Kondisi ini biasanya muncul setelah bayi minum susu atau saat tubuh bayi lebih sering berbaring. Karena pintu kerongkongan bawah belum bekerja sempurna, isi lambung lebih mudah kembali ke atas.
Gumoh pada bayi bahkan mencapai puncaknya pada usia 2 sampai 5 bulan. Setelah itu, frekuensinya cenderung menurun dan menjadi kurang dari 5 persen setelah usia 12 bulan.
Langkah sederhana yang bisa dilakukan orang tua
Orang tua dapat membantu mengurangi gumoh dengan teknik menyusui yang benar. Pemberian minum juga sebaiknya tidak berlebihan agar lambung bayi tidak terlalu penuh.
Frekuensi dan volume makanan perlu disesuaikan dengan kebutuhan bayi. Dengan cara ini, bayi tetap mendapat asupan yang cukup tanpa membebani saluran cerna yang masih berkembang.
Meski cairan gumoh bisa mengandung asam lambung, empedu, dan enzim pencernaan, kondisi ini umumnya tidak langsung menimbulkan kerusakan pada kerongkongan. Karena itu, perhatian utama tetap terletak pada perubahan gejala dan kondisi umum bayi.
Source: lifestyle.bisnis.com






