Hang Seng menjadi salah satu indeks yang masih mampu mencatat penguatan ketika bursa Asia-Pasifik dibuka campuran, di tengah pasar yang terus menimbang risiko dari ketegangan Iran dan Amerika Serikat. Di saat banyak investor memilih bersikap hati-hati, indeks Hong Kong naik 0,46 persen, sementara dorongan tambahan datang dari aksi korporasi besar yang menyita perhatian pasar.
Saham Victory Giant langsung menjadi sorotan di Hong Kong setelah debut perdagangannya, karena melonjak lebih dari 50 persen dari harga penawaran awal HK$209,88. Perusahaan yang dikenal sebagai pemasok papan sirkuit tercetak Nvidia itu berhasil menghimpun dana sebesar $2,24 miliar lewat penawaran umum perdana, menjadikannya IPO terbesar di Hong Kong sejak Zijin Gold pada September lalu.
Pergerakan di Hong Kong memberi warna berbeda di tengah suasana pasar yang cenderung waspada. Minat terhadap emiten yang terkait rantai pasok teknologi masih kuat, meski latar belakang geopolitik membuat banyak pelaku pasar enggan mengambil risiko secara agresif.
Di kawasan lain, bursa Asia bergerak tidak seragam karena investor mencoba membaca arah situasi yang masih rapuh. Susunan perdagangan yang campuran menunjukkan pasar belum punya kepastian penuh, terutama saat sentimen global sangat dipengaruhi oleh perkembangan diplomasi dan ancaman eskalasi militer di Timur Tengah.
Di Jepang, Nikkei 225 naik 1,15 persen dan Topix bergerak tipis lebih tinggi. Penguatan ini memperlihatkan bahwa minat beli tetap muncul, meskipun tekanan dari luar kawasan belum sepenuhnya hilang.
Korea Selatan juga ikut bergerak positif, dengan Kospi naik 2,11 persen. Namun, Kosdaq yang berisi saham berkapitalisasi kecil justru turun tipis, menandakan investor masih selektif dalam memilih saham di tengah ketidakpastian yang ada.
Pasar Australia tidak mampu mempertahankan penguatan awalnya. S&P/ASX 200 akhirnya turun 0,24 persen, sementara CSI 300 China daratan terkoreksi 0,21 persen, sehingga mempertegas bahwa arah pasar regional masih terpecah.
Kehati-hatian pasar tidak lepas dari ketegangan yang masih berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat. Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menuduh Presiden Donald Trump ingin mengubah meja perundingan menjadi “meja penyerahan” atau justru jalan menuju perang baru.
Ghalibaf juga menegaskan bahwa Iran tidak menerima negosiasi “di bawah bayang-bayang ancaman”. Pernyataan itu muncul ketika pasar masih mencermati sikap Teheran dan Washington yang belum menunjukkan peredaan yang jelas.
Dari sisi Amerika Serikat, Trump sebelumnya mengatakan pada Senin bahwa “lots of bombs [will] start going off” jika kesepakatan tidak tercapai sebelum gencatan senjata yang rapuh dengan Iran berakhir pada Selasa malam. Pernyataan itu menambah ketidakpastian, terlebih ketika delegasi Amerika bersiap kembali ke Pakistan untuk kemungkinan putaran kedua pembicaraan damai.
Situasi tersebut membuat investor regional terus menimbang apakah risiko geopolitik akan mereda atau justru memicu tekanan baru. Arah perdagangan sempat dipengaruhi oleh harapan akan diplomasi, tetapi nada keras dari kedua pihak masih membuat pasar sulit lepas dari sikap defensif.
Di pasar energi, kontrak berjangka minyak melemah dan memberi sedikit penyangga bagi aset berisiko. West Texas Intermediate untuk pengiriman Mei turun 1,51 persen menjadi $88,26 per barel pada pukul 9.34 malam waktu New York, sedangkan Brent untuk pengiriman Juni turun 0,48 persen ke $95,01 per barel.
Sementara itu, indeks berjangka Wall Street dibuka menguat tipis. Futures S&P 500 naik 0,1 persen, Nasdaq 100 menguat 0,2 persen, dan kontrak Dow Jones Industrial Average naik 70 poin atau 0,2 persen.
Pada sesi reguler di Wall Street, pasar saham melemah tipis pada Senin. S&P 500 turun 0,24 persen ke 7.109,14, Nasdaq Composite terkoreksi 0,26 persen ke 24.404,39, dan Dow Jones Industrial Average turun 4,87 poin atau 0,01 persen ke 49.442,56.
Penurunan Nasdaq juga memutus reli 13 hari beruntun, yang menjadi rekor positif terpanjang sejak 1992. Di tengah kondisi seperti ini, Ohsung Kwon, chief equity strategist di Wells Fargo, mengatakan di CNBC bahwa “I think the economy is going to be fine for the next three months,” pandangan yang ikut menjaga optimisme jangka pendek di pasar ekuitas.
Source: www.cnbc.com






