Hantavirus layak mendapat perhatian serius karena infeksinya dapat berakhir pada gangguan napas akut atau kerusakan ginjal akut. Penyakit ini bukan sekadar mirip flu di awal, sebab keterlambatan mengenali tanda-tandanya bisa membuat kondisi pasien turun cepat.
Di Indonesia, virus ini juga sudah ditemukan sejak beberapa tahun terakhir. Sejak 2024, tercatat 23 kasus pada manusia, sehingga kewaspadaan tetap diperlukan terutama di lingkungan yang berisiko paparan tikus.
Gejala awal sering mengecoh
Tahap awal hantavirus kerap tidak menimbulkan tanda yang khas. Batuk, pilek, demam, dan nyeri otot bisa muncul, sehingga keluhannya mudah disangka infeksi flu biasa.
Karena gejalanya umum, pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk memastikan diagnosis. Waspada perlu ditingkatkan ketika kondisi pasien menurun mendadak atau muncul kegagalan pernapasan.
Dampak terberat pada paru-paru dan ginjal
Hantavirus dapat memicu dua kondisi berat, yaitu hantavirus pulmonary syndrome atau HPS dan hemorrhagic fever with renal syndrome atau HFRS. HPS menyebabkan gangguan pernapasan akut, sedangkan HFRS dapat memicu gangguan ginjal akut.
Kedua kondisi itu menunjukkan bahwa hantavirus bukan infeksi ringan. Jika terlambat ditangani, penyakit ini dapat berkembang cepat dan membebani organ vital.
Penularan terkait tikus dan lingkungan
Berbeda dari banyak virus pernapasan lain, hantavirus tidak menyebar dengan pola yang sama. Manusia bisa terinfeksi saat menghirup partikel dari kotoran tikus atau melalui kontak langsung dengan hewan pengerat.
Risiko penularan meningkat di wilayah dengan permukiman padat, sanitasi buruk, dan populasi tikus yang tinggi. Situasi seperti ini membuat paparan pada manusia lebih mudah terjadi dan memperbesar ancaman kesehatan.
Lebih dari 40 varian yang dikenal
Saat ini dikenal lebih dari 40 varian hantavirus, dan sekitar 20 di antaranya bersifat patogenik atau dapat menular ke manusia. Fakta ini menunjukkan bahwa ancaman tidak datang dari satu jenis virus saja, melainkan dari beberapa varian dalam kelompok yang sama.
Dokter spesialis penyakit dalam sekaligus dosen FKK Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Zulistian Nurul Hidayati, menegaskan bahwa penyakit ini berbahaya karena tingkat fatalitasnya tinggi. Ia juga mengingatkan bahwa penularannya perlu diperhatikan, terutama di area yang berisiko paparan tikus.
Langkah pencegahan yang perlu dijaga
Masyarakat tidak perlu panik karena hantavirus berbeda dari COVID-19 yang sangat cepat menular antarmanusia. Meski begitu, kebersihan lingkungan dan pengendalian rodensia tetap menjadi langkah utama untuk menekan risiko.
Masker dan sarung tangan juga dianjurkan saat berisiko bersentuhan dengan area yang mungkin terpapar kotoran tikus. Langkah sederhana ini penting di rumah maupun area kerja yang rentan menjadi sarang hewan pengerat.
