Ancaman hantavirus paling berbahaya muncul ketika orang tidak sadar sudah menghirup partikel dari lingkungan yang tercemar tikus. Partikel halus dari urine, kotoran, atau air liur hewan pengerat yang terangkat ke udara bisa masuk ke tubuh, terutama di ruang tertutup dengan ventilasi buruk.
Situasi itu membuat hantavirus sering luput dikenali sejak awal. Gejalanya kerap menyerupai flu biasa, padahal infeksi ini dapat berkembang menjadi gangguan serius pada paru-paru atau ginjal.
Di Indonesia, infeksi hantavirus memang masih jarang, tetapi Kementerian Kesehatan mencatat delapan kasus Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome atau HFRS hingga pertengahan 2025. Kasus itu ditemukan di DI Yogyakarta, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara.
Penularan yang sering tidak disadari
Jalur penularan yang paling umum terjadi saat debu yang bercampur kotoran atau urine tikus kering terhirup. Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa partikel seperti ini mudah masuk ke tubuh ketika seseorang berada di ruang yang tidak memiliki sirkulasi udara memadai.
Penularan juga dapat terjadi ketika tangan menyentuh permukaan yang sudah terkontaminasi lalu berpindah ke hidung, mulut, atau mata. Dalam kondisi tertentu, gigitan tikus juga bisa menjadi jalur infeksi, meski penularan antarmanusia sangat jarang dan hanya dilaporkan pada strain tertentu seperti virus Andes.
Gejala awal yang mudah tertukar dengan flu
Hantavirus memiliki dua bentuk utama, yaitu HFRS yang menyerang ginjal dan Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS yang menyerang paru-paru. Pada tahap awal, penderita bisa mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan, sehingga penyakit ini mudah disangka infeksi ringan.
Masalahnya, kondisi tersebut dapat memburuk menjadi nyeri perut, mual, gangguan ginjal, batuk, dan sesak napas. Pada HPS, penumpukan cairan di paru-paru dapat memicu gagal napas, sedangkan HFRS bisa berujung pada gangguan fungsi ginjal.
Risikonya juga tidak kecil. HPS memiliki angka kematian sekitar 38–40 persen, sementara HFRS dapat mencapai sekitar 6 persen tergantung tingkat keparahan dan penanganan medis.
Kasus yang terus diawasi
Di dalam negeri, kasus yang tercatat belum masuk kategori Kejadian Luar Biasa. Pemerintah tetap melakukan pelacakan kontak dan edukasi masyarakat, sementara salah satu pasien di Bandung Barat dilaporkan telah sembuh setelah menjalani perawatan intensif.
Sorotan internasional datang dari kapal pesiar Oceanwide Expeditions di Samudra Atlantik. WHO mengonfirmasi dua kasus hantavirus di kapal itu, termasuk seorang wanita asal Belanda yang meninggal pada 27 April dan seorang warga negara Inggris yang dievakuasi ke Johannesburg untuk perawatan intensif.
Situasi di kapal tersebut dipantau ketat karena ada dua anggota kru yang mengalami gejala pernapasan. Sekitar 150 orang masih berada di kapal saat kasus ditemukan, sehingga pemantauan kesehatan dilakukan secara intensif.
Pemeriksaan medis dan penanganan
Diagnosis hantavirus dilakukan dengan melihat riwayat paparan, gejala klinis, dan hasil laboratorium seperti serologi serta PCR. Untuk kasus yang menyerang paru-paru, dokter juga dapat menggunakan rontgen atau CT scan agar kondisi organ pernapasan terlihat lebih jelas.
Hingga kini belum ada antivirus atau vaksin khusus untuk hantavirus. Penanganan difokuskan pada terapi suportif, termasuk pemberian oksigen, ventilator, dan pengaturan cairan tubuh secara ketat.
Pada kasus berat, pasien HFRS dapat memerlukan dialisis karena gangguan ginjal. Sementara itu, pasien HPS dengan kondisi kritis dapat membutuhkan bantuan teknologi lanjutan seperti ECMO.
Pencegahan yang paling penting
Karena hantavirus lebih sering menyebar lewat lingkungan yang terkontaminasi hewan pengerat, pencegahan menjadi langkah utama. Kebersihan rumah dan area kerja perlu dijaga, makanan harus disimpan dalam wadah tertutup, dan populasi tikus harus dikendalikan.
Saat membersihkan ruangan yang lama tertutup atau berpotensi terpapar tikus, penggunaan masker dan sarung tangan sangat dianjurkan. Ruangan juga sebaiknya diangin-anginkan lebih dulu sebelum dipakai kembali agar partikel berbahaya tidak langsung terhirup.
Kotoran tikus tidak boleh dibersihkan sembarangan dan sebaiknya ditangani dengan disinfektan. Edukasi masyarakat menjadi bagian penting untuk menekan paparan, terutama di wilayah dengan sanitasi buruk dan populasi tikus tinggi.
Source: lifestyle.bisnis.com






