Harga Besi Di Lamongan Ikut Terdorong Naik Saat Rupiah Melemah, Margin Pengusaha Menyusut

Author: Redaksi Android62

Kenaikan harga besi kini tidak berhenti di level pabrik atau distributor. Di Lamongan, dampaknya sudah terasa sampai ke kontraktor, bengkel las, dan toko besi kecil yang harus menyesuaikan biaya pembelian material agar usaha tetap berjalan.

Di tengah tekanan itu, ruang keuntungan pelaku usaha ikut menyempit. Saat harga bahan baku bergerak naik, keluhan pelanggan juga bertambah karena ongkos produksi dan pembelian material ikut terdorong lebih mahal.

Kondisi tersebut terlihat di Duta Merpati Depo Lamongan, salah satu pemasok besi di Lamongan dan sekitarnya. Tempat ini melayani kebutuhan kontraktor, bengkel las, dan toko besi skala kecil yang sangat bergantung pada ketersediaan material dengan harga yang masih masuk hitungan.

Harga coil melonjak tajam

Salah satu jenis material yang paling terasa kenaikannya adalah coil atau besi gulungan. Muhammad Zaki, Store Manager Duta Merpati Depo Lamongan, menyebut harga coil yang sebelumnya berada di kisaran Rp 14.000 hingga Rp 15.500 per kilogram kini sudah menembus lebih dari Rp 20.000 per kilogram.

Lonjakan itu membuat pelaku usaha di hilir ikut menyesuaikan harga jual. Langkah tersebut diperlukan agar biaya pembelian material tetap tertutup, meski pada saat yang sama daya tahan margin semakin terbatas.

Impor masih dominan

Tekanan harga ini tidak lepas dari ketergantungan besar pada pasokan luar negeri. Menurut Zaki, sekitar 90% kebutuhan besi masih berasal dari impor, terutama dari China.

Ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS, perubahan itu cepat tercermin ke harga jual di pasar domestik. Karena itulah, hampir semua jenis besi ikut mengalami kenaikan harga saat rupiah tertekan.

Keluhan naik, permintaan belum surut

Meski harga naik, transaksi di Duta Merpati Depo Lamongan sejauh ini masih bergerak. Zaki menyebut volume penjualan masih relatif stabil karena kebutuhan dari sektor konstruksi dan usaha kecil belum berhenti.

Keluhan dari pelanggan memang terus muncul, tetapi permintaan tetap ada. Perusahaan itu masih memasok kebutuhan kontraktor dan toko besi skala kecil di Lamongan, sehingga aktivitas perdagangan belum benar-benar melambat.

Tekanan rupiah terasa langsung di daerah

Bagi pelaku usaha besi, pelemahan rupiah bukan sekadar kabar dari pasar valuta asing. Setiap perubahan kurs langsung memengaruhi biaya pembelian material, harga jual, dan sisa keuntungan yang bisa dipertahankan.

Selama bahan baku masih sangat bergantung pada impor, gejolak dolar AS akan terus menjadi faktor penting dalam menentukan arah harga besi di dalam negeri. Di daerah seperti Lamongan, situasi ini membuat pelaku usaha berharap rupiah kembali stabil agar tekanan biaya impor mereda dan perdagangan tetap bergerak.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru