Harga Masih Raja Saat Beli Smartphone, AI Dan Pengalaman Pakai Kini Jadi Penentu Utama

Harga tetap menjadi faktor paling menentukan saat orang memilih smartphone. Sebanyak 60 persen pengguna menempatkan harga dan nilai untuk uang sebagai pertimbangan utama, sehingga ponsel yang dianggap paling masuk akal dari sisi biaya dan manfaat punya peluang lebih besar dipilih.

Namun, murah saja tidak cukup. Laporan Smartphone Insights Report 2026 dari Flipkart dan Counterpoint Research menunjukkan bahwa pembeli kini makin menghitung pengalaman nyata, termasuk performa, kamera, daya tahan baterai, dan fitur AI yang benar-benar terasa dipakai sehari-hari.

AI tidak lagi dianggap fitur tambahan

Perhatian terhadap kecerdasan buatan terlihat sangat tinggi dalam laporan tersebut. Sebanyak 89 persen pengguna disebut mempertimbangkan fitur AI saat memilih smartphone, dan angka ini memperlihatkan bahwa AI sudah masuk ke daftar kebutuhan utama, bukan sekadar pelengkap.

Di banyak kasus, AI dipakai untuk membantu pembuatan konten, mencari informasi, dan menyelesaikan tugas rutin. Pola pemakaian juga berbeda antar pengguna, karena kelompok muda lebih sering memanfaatkannya untuk hiburan, sedangkan kelompok lain cenderung mengarah ke produktivitas dan perencanaan.

Arah pengembangan AI pada smartphone pun ikut berubah. Fokusnya bergeser dari fitur yang berdiri sendiri menjadi pengalaman yang menyatu di level sistem, dengan dukungan teks, suara, gambar, hingga video.

Performa dan kamera tetap harus meyakinkan

Meski AI makin menonjol, pembeli tidak meninggalkan kebutuhan dasar. Performa, kamera, dan baterai tetap dipandang sebagai standar minimum yang harus ada pada sebuah smartphone.

Laporan itu mencatat bahwa 45 persen pengguna bersedia membayar lebih demi performa yang lebih baik. Sementara itu, 57 persen menaruh perhatian lebih besar pada peningkatan kamera, yang menunjukkan bahwa kualitas inti tetap menjadi bahan pertimbangan serius sebelum membeli.

Temuan ini juga menegaskan bahwa pembaruan kecil pada perangkat keras tidak otomatis menarik minat jika tidak memberi dampak nyata dalam pemakaian harian. Konsumen tampaknya semakin selektif terhadap perubahan yang benar-benar terasa.

Kepercayaan merek dan ulasan ikut memengaruhi keputusan

Selain harga dan fitur, reputasi juga punya peran besar dalam proses pembelian. Laporan tersebut menyebut 57 persen pembeli dipengaruhi oleh kepercayaan terhadap merek, sedangkan 56 persen lainnya mengandalkan ulasan online sebelum mengambil keputusan.

Kombinasi itu membuat proses memilih smartphone semakin terukur. Konsumen tidak hanya melihat spesifikasi di atas kertas, tetapi juga membandingkan nama merek, pengalaman pengguna lain, dan kecocokan harga dengan kebutuhan masing-masing.

Di sisi lain, pilihan untuk naik kelas juga tetap terbuka. Sebanyak 43 persen pengguna memilih skema cicilan atau EMI agar bisa membeli smartphone dengan spesifikasi yang lebih mumpuni. Ini menunjukkan bahwa minat terhadap perangkat premium masih ada, selama cara bayarnya tetap terasa masuk akal.

Perangkat dipakai lebih lama, desain tetap punya tempat

Kebiasaan mengganti ponsel juga ikut berubah. Siklus penggantian perangkat kini memanjang menjadi sekitar empat tahun, dari sebelumnya sekitar 3,5 tahun, seiring harga yang meningkat dan perangkat yang dinilai makin tahan lama.

Kondisi itu membuat pembeli makin berhati-hati saat memilih. Keputusan awal menjadi lebih penting karena ponsel cenderung dipakai dalam jangka yang lebih panjang, sehingga nilai jangka panjang ikut naik posisinya dalam daftar prioritas.

Selain fungsi, tampilan fisik masih mendapat perhatian. Sebanyak 64 persen pengguna disebut lebih menyukai perangkat berwarna, dan sebagian bahkan rela membayar lebih untuk finishing serta material tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa desain kini ikut dianggap sebagai bagian dari nilai produk.

Gambaran yang muncul dari laporan Flipkart dan Counterpoint Research adalah pasar smartphone yang makin matang. Pembeli tidak lagi terpaku pada angka spesifikasi semata, melainkan mencari perangkat yang terasa berguna, punya AI yang relevan, kuat di kebutuhan inti, dan tetap sepadan dengan harga yang dibayar.

Source: www.gadgets360.com

Berita Terkait