Harga Minyak Terdorong Lagi, Rencana Blokade Iran Membuat Timur Tengah Makin Rawan

Laporan terbaru menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta pejabat keamanan nasional menyiapkan blokade panjang terhadap pelabuhan Iran. Langkah itu disebut sebagai bagian dari tekanan untuk memaksa Teheran menghentikan program nuklirnya, di tengah keyakinan Washington bahwa Iran tidak bernegosiasi dengan itikad baik.

Sikap keras itu ikut mendorong ketegangan di Timur Tengah naik lagi. Di saat pembicaraan masih jauh dari kata longgar, pasar energi bergerak cepat, sementara Washington tetap memberi sinyal bahwa tekanan terhadap Iran belum akan mereda.

Tekanan dari Washington makin jelas

Trump disebut ingin menekan Iran agar menghentikan pengayaan uranium selama 20 tahun dan menerima pembatasan ketat setelah periode itu berakhir. Laporan yang sama juga menggambarkan bahwa Gedung Putih belum melihat ruang kompromi yang besar dengan Teheran.

Nada keras Trump bukan hanya muncul lewat jalur diplomatik. Di Truth Social, ia menulis bahwa Iran “can’t get their act together” dan perlu segera “get smart”, sambil mengunggah foto dirinya memegang senapan serbu dengan tulisan “NO MORE MR. NICE GUY!”.

Pernyataan serupa juga ia sampaikan saat jamuan kenegaraan di Gedung Putih bersama Raja Charles III. Trump menyebut Iran telah “militarily defeated” dan menegaskan Amerika Serikat tidak akan membiarkan lawannya memiliki senjata nuklir.

Iran juga tertekan dari dalam negeri

Di tengah tekanan dari luar, Iran menghadapi situasi yang berat di dalam negeri. Kantor hak asasi manusia PBB menyatakan setidaknya 21 orang telah dieksekusi dan lebih dari 4.000 orang ditangkap sejak perang dimulai.

PBB menggambarkan tindakan pemerintah Iran itu sebagai “harsh and brutal”. Dalam keterangannya, sembilan orang dieksekusi terkait protes Januari 2026, sepuluh orang karena diduga menjadi anggota kelompok oposisi, dan dua orang atas tuduhan spionase.

Data tersebut memperlihatkan bahwa konflik regional tidak hanya berdampak pada posisi Iran di luar negeri, tetapi juga memicu penindakan domestik yang makin keras. Situasi itu membuat stabilitas politik di dalam negeri Iran ikut rentan.

Timur Tengah belum menemukan titik tenang

Ketegangan tidak berhenti pada Iran. Lebanon juga kembali menjadi sorotan setelah Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan serangan Israel pada Selasa menewaskan delapan orang, termasuk petugas penyelamat pertahanan sipil, serta melukai dua tentara di selatan negara itu.

Serangan itu terjadi saat gencatan senjata masih berlangsung, sehingga menunjukkan betapa rapuhnya jeda kekerasan di kawasan tersebut. Israel disebut terus berperang melawan Hezbollah sejak awal Maret dan mengerahkan pasukan ke Lebanon selatan untuk menghadapi kelompok militan yang didukung Iran itu.

Kekerasan tersebut masih berlanjut meski gencatan senjata yang goyah sempat tercatat pada 17 April. Kondisi itu membuat perbatasan Israel-Lebanon tetap menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik yang lebih luas.

Pasar minyak langsung merespons

Di pasar energi, sinyal eskalasi itu cepat mendorong harga minyak naik. Brent bergerak di atas level sebelum gencatan senjata awal April, sementara West Texas Intermediate sempat menembus $100 pada Selasa untuk pertama kalinya dalam dua minggu.

Pada perdagangan Rabu, Brent masih bertahan di atas $113 dan WTI di atas $101. Kenaikan itu mencerminkan seberapa sensitif pasar terhadap perkembangan di Timur Tengah, terutama yang menyangkut jalur logistik energi.

Laporan juga menyebut harga minyak terdorong setelah muncul dugaan bahwa Trump kemungkinan tidak akan menerima proposal Iran untuk memulihkan lalu lintas di Selat Hormuz. Qatar bahkan memperingatkan potensi terjadinya “frozen conflict”.

Dampaknya terasa sampai ke perusahaan besar

Lonjakan harga minyak ikut mengangkat kinerja perusahaan energi global. TotalEnergies melaporkan laba bersih kuartal pertama naik 51 persen menjadi $5.8 miliar, didorong oleh kenaikan harga minyak yang berkaitan dengan perang di Timur Tengah.

Perusahaan asal Prancis itu juga mengatakan telah memulai kembali kilang Satorp di Arab Saudi pada pertengahan April. Fasilitas milik bersama Aramco tersebut sebelumnya sempat dihentikan setelah mengalami kerusakan akibat serangan udara selama perang di Timur Tengah.

TotalEnergies menjelaskan bahwa setelah peristiwa 8 April yang memengaruhi tiga unit di lokasi Satorp, unit yang tidak rusak bisa dioperasikan kembali. Sejak 14 April, kilang itu berjalan dengan kapasitas 230.000 barel per hari.

Tekanan politik di Washington ikut meningkat

Di dalam negeri Amerika Serikat, perang ini juga memunculkan pertanyaan dari Kongres. Menteri Pertahanan Pete Hegseth dijadwalkan menghadapi pertanyaan sulit dalam kesaksian pertamanya sejak konflik dimulai.

Sidang di House Armed Services Committee itu digelar untuk membahas permintaan anggaran pertahanan Trump senilai $1.5 triliun. Sejumlah anggota parlemen dari dua partai sebelumnya menyatakan ketidakpuasan atas informasi yang mereka terima dalam pembaruan rahasia soal perang, sementara General Dan Caine juga dijadwalkan memberi kesaksian dalam sidang yang diperkirakan berlangsung panas.

Berita Terkait