Pemeriksaan laboratorium memastikan seorang warga negara asing yang tinggal di Jakarta tidak terinfeksi hantavirus. Seluruh spesimen yang diambil dari orang tersebut dinyatakan negatif, sehingga kekhawatiran awal terkait dugaan paparan akhirnya terjawab.
Kementerian Kesehatan menyebut proses penanganan dilakukan cepat setelah ada notifikasi internasional yang masuk dari Inggris. Informasi itu diterima oleh IHRNFP Indonesia di bawah Ditjen P2 pada 7 Mei pukul 21.55 WIB, lalu langsung ditindaklanjuti dengan penelusuran identitas dan riwayat kontak.
Orang yang masuk dalam penelusuran itu diketahui memiliki hubungan kontak dengan penumpang kapal MV Hondius. Kemenkes juga menemukan bahwa keterkaitan tersebut berkaitan dengan kasus kedua, yaitu seorang perempuan berusia 69 tahun yang meninggal.
Riwayat perjalanan keduanya ikut diperiksa untuk memperjelas kemungkinan paparan. Keduanya disebut berada dalam penerbangan yang sama dari Saint Helena menuju Johannesburg, Afrika Selatan, dan juga menginap di hotel yang sama.
Setelah koordinasi lintas sektor dilakukan pada 8 Mei, petugas menjemput WNA tersebut dan membawanya ke Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso pada 9 Mei 2026. Rumah sakit rujukan itu menjadi lokasi pemeriksaan lanjutan untuk memastikan status kesehatannya.
Di RSPI Sulianti Saroso, pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh dengan mengambil lima jenis spesimen. Sampel yang diuji meliputi serum, urine, saliva, usap tenggorok, dan darah lengkap.
Hasil uji laboratorium menunjukkan seluruh sampel negatif hantavirus. Keterangan itu disampaikan oleh Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, dalam penjelasan resmi secara daring.
Kemenkes juga memastikan bahwa orang yang diperiksa adalah seorang pria. Selama proses penanganan, yang bersangkutan disebut kooperatif, berada dalam kondisi stabil, dan tidak menunjukkan gejala yang mengarah pada hantavirus.
Kasus ini menunjukkan bahwa pelaporan internasional dapat memicu respons cepat di dalam negeri. Dalam penelusuran terhadap WNA di Jakarta tersebut, pemeriksaan berlapis akhirnya tidak menemukan bukti infeksi hantavirus.
Source: www.beritasatu.com






