Helm Pintar ITB Ini Bisa Cegah Microsleep, Tetap Bisa Dipasang di Helm Biasa

Sebuah helm pintar buatan mahasiswa Institut Teknologi Bandung menawarkan pendekatan baru untuk menekan risiko kecelakaan akibat microsleep. Perangkat ini dirancang sebagai sistem retrofit, sehingga bisa dipasang pada helm standar SNI yang sudah beredar di pasaran.

Pilihan desain tersebut membuat teknologinya lebih mudah dijangkau dibanding helm pintar bawaan pabrikan. Pengguna juga tidak perlu bergantung pada sistem deteksi kantuk berbasis kamera atau Electroencephalography yang umumnya mahal.

Deteksi sejak fase pra-microsleep

Inovasi itu diberi nama SADAR Helmet dan dikembangkan oleh Tim iConic yang terdiri dari Mahesya Friemay Romadhoni, Rizky Miftah Alfiah, dan Muhammad Yasser Saputro. Karya ini meraih juara dua nasional dalam Smart Safety Competition (SASECOM) 2026 yang diselenggarakan OSH Forum FKM Universitas Diponegoro.

Fokus utama SADAR Helmet ada pada deteksi gejala kantuk sebelum kondisi berbahaya benar-benar terjadi. Sistem ini memantau pengendara melalui sensor Photoplethysmography atau PPG untuk membaca detak jantung dan Heart Rate Variability secara real-time.

Selain itu, perangkat tersebut memakai akselerometer dan giroskop untuk memantau gerakan kepala. Data dari berbagai sensor kemudian diolah dengan metode machine learning untuk mengklasifikasikan kondisi pengendara dan mengenali tanda pra-microsleep.

Ketika gejala awal kantuk terdeteksi, helm memberi peringatan preventif. Peringatan itu muncul dalam bentuk getaran, suara, dan notifikasi digital agar pengendara segera sadar sebelum risiko kecelakaan meningkat.

Dirancang untuk kebutuhan keselamatan yang nyata

Pendekatan ini relevan dengan tingginya ancaman microsleep di jalan raya, terutama bagi pengendara sepeda motor. Gejalanya sering datang singkat dan sulit disadari, padahal dampaknya bisa sangat fatal.

Karena itu, alat yang bekerja langsung di helm memiliki nilai praktis tersendiri. Sistem keselamatan tidak dipisahkan dari perlengkapan utama pengendara, sehingga deteksi dan peringatan dapat diberikan lebih cepat.

Mahesya mewakili Tim iConic ITB menekankan bahwa keberhasilan inovasi tidak hanya bergantung pada ide yang bagus. Hasil yang kuat juga ditentukan oleh riset yang serius dan pemahaman atas persoalan nyata di masyarakat.

Pernyataan itu sejalan dengan arah pengembangan SADAR Helmet yang menitikberatkan pada masalah keselamatan yang dekat dengan pengguna jalan. Pengendara motor menjadi kelompok yang rentan, sementara kantuk kerap tidak terdeteksi sampai terlambat.

Masih disiapkan untuk pengembangan lanjutan

Pengembangan SADAR Helmet tidak berhenti di level kompetisi. Tim iConic ITB kini membidik peluang kolaborasi dengan industri otomotif, produsen helm nasional, hingga pemerintah.

Langkah tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem smart mobility yang lebih aman. Jika kerja sama terwujud, inovasi ini berpeluang masuk ke tahap produksi yang lebih luas.

Tim pengembang juga menyiapkan integrasi lanjutan dengan aplikasi gawai, pelacakan GPS, pemantauan cloud, dan analitik berbasis kecerdasan buatan. Rencana itu menunjukkan bahwa SADAR Helmet diposisikan bukan hanya sebagai alat peringatan lokal, melainkan bagian dari sistem keselamatan berkendara yang lebih terhubung.

Bagi industri, model retrofit seperti ini juga membuka peluang baru pada segmen produk safety riding. Helm standar SNI yang sudah dimiliki pengguna bisa ditingkatkan kecerdasannya tanpa harus diganti sepenuhnya.

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer