Hendra Setiawan Akui Tugas Pelatih Thomas Cup Lebih Rumit, Harus Menentukan Komposisi Tim

Tugas baru Hendra Setiawan sebagai pelatih Thomas Cup langsung memperlihatkan sisi lain dari dunia bulu tangkis yang selama ini ia jalani sebagai pemain. Mantan andalan ganda putra Indonesia itu kini harus memikirkan lebih banyak hal sebelum tim bertanding, mulai dari komposisi pemain hingga cara membaca kekuatan lawan.

Peran tersebut ia jalani saat mendampingi skuad Thomas Cup Indonesia berangkat dari Jakarta menuju Horsens, Denmark. Bagi Hendra, perubahan dari pemain menjadi pelatih bukan sekadar pergantian posisi, melainkan juga perubahan besar dalam cara bekerja dan mengambil keputusan.

Lebih rumit daripada saat bermain

Hendra Setiawan mengakui bahwa tugas di bangku pelatih terasa lebih berat dibandingkan ketika masih aktif bertanding. Saat masih menjadi pemain, ia hanya perlu menyiapkan diri sendiri dan tampil ketika dipercaya turun ke lapangan.

Kini, ia harus melihat kondisi seluruh pemain sekaligus menyesuaikannya dengan kebutuhan tim. Situasi itu membuat proses pengambilan keputusan menjadi lebih kompleks karena tidak bisa dilakukan secara spontan.

Melansir laporan siaran resmi PBSI melalui bolasport.com, Hendra sudah berdiskusi dengan koh Anton untuk memetakan pemain yang paling tepat dimainkan. Dari sudut pandangnya, bagian tersulit justru ada pada penentuan siapa yang paling sesuai dengan situasi pertandingan dan karakter lawan.

“Rasanya mungkin lebih susah kali ya, jadi pelatih harus nentuin,” ujar Hendra Setiawan.

Harus membaca kondisi tim dan lawan

Sebagai pelatih, Hendra tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman panjangnya di lapangan. Ia juga perlu memperhitungkan kesiapan fisik, kondisi mental, serta peta kekuatan lawan sebelum pertandingan dimulai.

Dalam ajang beregu seperti Thomas Cup, semua faktor itu saling berkaitan. Satu keputusan kecil bisa memengaruhi hasil tim secara keseluruhan, sehingga penilaian harus dilakukan dengan cermat dan tidak tergesa-gesa.

Menurut Hendra, justru pada tahap itulah tantangan terbesar muncul. Ia menilai pekerjaan pelatih menuntut perhatian pada banyak detail sekaligus, bukan hanya pada kemampuan individu pemain.

“Kalau ini harus lihat kondisi pemainnya juga, terus lawannya siapa, susahnya di situ,” kata Hendra Setiawan.

Menjalani amanah yang datang mendadak

Hendra juga menegaskan bahwa peran barunya ini tidak pernah benar-benar ia bayangkan sebelumnya. Namun ia menerima kesempatan tersebut sebagai bentuk tanggung jawab saat negara memanggil.

“Tidak terpikir sebenarnya, tetapi ini panggilan jadi saya harus siap,” ucapnya.

Pengalaman panjang sebagai atlet disebut menjadi bekal penting untuk menjalani tugas baru tersebut. Meski demikian, ia tetap melihat peran kepelatihan sebagai ruang belajar yang berbeda karena tuntutannya lebih luas daripada saat tampil sebagai pemain.

Pesan tentang fokus dan daya juang

Di hadapan para pemain, Hendra menekankan bahwa turnamen beregu menuntut semangat yang lebih tinggi. Setiap poin yang diraih atau hilang akan berdampak pada rekan satu tim, sehingga rasa tanggung jawab harus dijaga sejak awal.

“Pasti daya juangnya harus lebih lagi karena main tim hasil kita akan berpengaruh juga untuk lainnya,” ujar Hendra Setiawan.

Ia juga mengingatkan bahwa fokus pribadi tetap menjadi kunci utama di tengah tekanan pertandingan. Menurutnya, tim hanya bisa berjalan baik jika setiap pemain mampu menjaga konsentrasi di momen-momen penting.

“Tapi yang terpenting bagaimana lebih ke fokusnya masing-masing mereka,” kata dia.

Dua pemain debutan ikut jadi sorotan

Selain debut Hendra sebagai pelatih, perhatian juga tertuju pada Sabar Karyaman Gutama dan Moh Reza Pahlevi Isfahani. Keduanya akan menjalani penampilan perdana di Thomas Cup dengan harapan bisa memberi kontribusi maksimal untuk Indonesia di Denmark.

Sabar menyebut kesempatan itu sebagai kebanggaan tersendiri. Ia berharap dirinya bersama Reza dapat menyumbang poin dan membantu tim meraih hasil terbaik.

“Mudah-mudahan kami bisa memberikan kontribusi yang baik, yang maksimal, bisa menyumbang poin untuk Indonesia,” kata Sabar.

Reza menilai pengalaman tampil di SEA Games menjadi modal yang berguna untuk menghadapi atmosfer turnamen beregu yang lebih tinggi. Ia juga merasa latihan di pelatnas sebelum Kejuaraan Asia membantu menambah kualitas permainan mereka.

“Pengalaman SEA Games kemarin menjadi modal yang baik bagi kami,” ujar Reza.

Meski demikian, Reza tidak menutupi adanya rasa tegang karena ini menjadi Piala Thomas pertama bagi mereka. Ia menegaskan bahwa kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin, terlebih setelah mendapat peringatan bahwa persaingan di level ini jauh lebih ketat.

“Jadi kami harus lebih siap dan tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan,” kata Reza.

Dengan kombinasi pelatih baru, pemain debutan, dan kesiapan tim yang terus dibangun, Indonesia membawa harapan besar saat tampil di Horsens. Bagi Hendra Setiawan, perjalanan ini menjadi ujian baru yang menuntut ketelitian, ketenangan, dan kemampuan membaca situasi dengan lebih luas daripada saat masih memegang raket sebagai pemain.

Berita Terkait