Simbol bidadari yang terperangkap dalam jaring karya Heri Dono kini diterjemahkan ke dalam perhiasan eksklusif. Gagasan yang lahir menjelang reformasi 1996 itu akan hadir dalam medium berlian dan batu mulia.
Kolaborasi Heri Dono, Adelle Jewellery, dan G3N Project membawa bahasa seni kontemporer ke benda pakai yang dapat diwariskan. Koleksi tersebut dirancang agar tetap memuat narasi kebebasan, harapan, serta keterbatasan sosial dan politik.
Empat Bentuk Karya yang Dapat Dikenakan
Koleksi ini terdiri atas empat desain eksklusif yang menerjemahkan karakter visual Heri Dono. Bentuknya mencakup bros, liontin, anting, dan karya kinetik.
Setiap desain memadukan ciri artistik sang perupa dengan ketelitian pengerjaan perhiasan. Tantangannya adalah menjaga karakter visual karya tetap kuat, tanpa mengabaikan fungsi dan keanggunan saat dikenakan.
| Rangkaian | Waktu | Lokasi |
|---|---|---|
| The Collectors Gallery: Gems & Arts | 17-18 Juli 2026 | Hotel Park Hyatt Jakarta |
| Peluncuran koleksi kolaborasi | Tahun ini | Belum disebutkan |
Gagasan kolaborasi ini diperkenalkan dalam The Collectors Gallery: Gems & Arts di Hotel Park Hyatt Jakarta pada 17-18 Juli 2026. Pertemuan privat tersebut mempertemukan kolektor, pelaku seni, dan industri perhiasan Indonesia.
Perhiasan sebagai Ruang Dialog Seni
Bagi Heri Dono, perhiasan tidak berhenti sebagai aksesori pelengkap penampilan. Medium ini dipandang sebagai bagian dari ekosistem seni yang memungkinkan desain, arsitektur, teknologi, dan seni murni saling berdialog.
“Di dalam seni murni kadang terjadi stagnasi selera. Kolaborasi seperti ini membuka wilayah baru bagi imajinasi untuk bergerak lebih jauh dan menjangkau masyarakat yang lebih luas,” ujar Heri Dono dalam acara privat tersebut.
Transformasi karya ke medium perhiasan tidak dimaksudkan untuk menghapus makna awal simbol bidadari dan jaring. Sebaliknya, narasi itu dibawa ke konteks yang lebih personal melalui karya yang dapat digunakan sehari-hari.
Makna Reformasi dalam Batu Mulia
Sosok bidadari dalam jaring merupakan bahasa visual khas Heri Dono yang berkembang pada 1996. Figur tersebut menjadi metafora bagi kebebasan, harapan, dan gagasan yang kerap dibatasi keadaan sosial maupun politik.
Melalui berlian dan batu mulia, metafora itu memperoleh bentuk baru tanpa melepaskan akar pemikirannya. Nilai koleksi ini dengan demikian tidak hanya bertumpu pada material, tetapi juga pada cerita visual dan identitas budaya yang dibawanya.
Owner Adelle Jewellery Michael Surya mengatakan karya pakai dapat memuat cerita sekaligus identitas budaya yang kuat. Ia menyatakan pihaknya ingin menghadirkan karya seni yang dapat digunakan, diwariskan, dan membawa cerita Indonesia ke dunia.
Menurut Michael, desain tersebut ditujukan agar relevan bagi perempuan maupun laki-laki. Pendekatan itu menempatkan perhiasan sebagai medium yang menjembatani ekspresi artistik dan fungsi personal.
Kolaborasi Lintas Disiplin
General Manager G3N Project Andry Ismaya Permadi menilai kolaborasi lintas disiplin penting bagi perkembangan ekosistem seni Indonesia. Seni, menurutnya, perlu berdialog dengan industri kreatif lain agar dapat menjangkau publik lebih luas tanpa kehilangan kedalaman gagasan.
“Seni memiliki kemampuan untuk menghubungkan disiplin yang berbeda dan menciptakan nilai kebaruan,” ujar Andry. Empat desain ini menunjukkan kemungkinan karya seni kontemporer bertahan lintas generasi melalui perubahan medium yang tetap menjaga makna asalnya.
Source: hot.detik.com






