Hewan Pertama Menembus Orbit, Dari Laika Hingga Ham dan Jejak Sains Antariksa

Jejak hewan dalam sejarah penerbangan antariksa muncul jauh sebelum astronot manusia menatap Bumi dari orbit. Uji coba itu dilakukan untuk menjawab pertanyaan paling dasar: apakah makhluk hidup mampu bertahan saat roket melaju, saat tubuh memasuki mikrogravitasi, dan ketika radiasi kosmik mulai bekerja di luar atmosfer.

Dari percobaan awal hingga misi yang berakhir tragis, hewan menjadi bagian penting dari riset antariksa. Data dari perjalanan mereka membantu ilmuwan memahami batas tubuh hidup di ruang angkasa, sekaligus memperlihatkan bahwa kemajuan teknologi kerap dibayar dengan risiko besar bagi nyawa.

Dari organisme kecil ke pembuktian awal

Langkah pertama tidak langsung melibatkan mamalia. Lalat buah menjadi hewan pertama yang dikirim dengan roket pada 1947 karena ukurannya kecil dan dinilai bisa memberi petunjuk awal tentang pengaruh radiasi serta peluang bertahan hidup di lingkungan antariksa.

Setelah itu, berbagai spesies lain ikut dikirim atau diteliti untuk melihat bagaimana tubuh merespons kondisi ekstrem. Dari rangkaian percobaan inilah pemahaman tentang efek penerbangan luar angkasa mulai dibangun sebelum manusia benar-benar masuk ke orbit.

Laika dan simbol pahit eksplorasi

Nama Laika menjadi salah satu yang paling dikenal dalam sejarah luar angkasa. Anjing asal Uni Soviet itu tercatat sebagai makhluk hidup pertama yang mengorbit Bumi setelah diluncurkan pada 3 November 1957, meski misi tersebut memang tidak dirancang untuk membawa pulang.

Laika mati beberapa jam setelah peluncuran akibat suhu kabin yang meningkat. Meski berakhir tragis, penerbangan itu membuktikan bahwa makhluk hidup bisa melewati fase peluncuran dan mencapai orbit, sehingga membuka jalan bagi misi-misi berikutnya.

Ham dan kemampuan bekerja di luar angkasa

Jika Laika menunjukkan bahwa organisme dapat mencapai orbit, Ham memberi bukti lain yang tak kalah penting. Simpanse ini menjalani misi suborbital selama sekitar 16 menit pada 31 Januari 1961 dan kembali selamat setelah menyelesaikan tugas yang diberikan selama penerbangan.

Kisah Ham penting karena memperlihatkan bahwa makhluk hidup tidak hanya mampu bertahan dalam penerbangan antariksa, tetapi juga bisa menjalankan aktivitas tertentu di tengah kondisi ekstrem. Hasil ini menjadi salah satu pijakan dalam pengembangan misi berawak.

Hewan yang berhasil pulang dari orbit

Keberhasilan besar berikutnya datang melalui Belka dan Strelka. Keduanya menjadi hewan pertama yang mengorbit Bumi lalu kembali hidup-hidup setelah berada di luar angkasa selama sekitar satu hari bersama organisme lain.

Misi itu memberi keyakinan bahwa penerbangan orbit berdurasi lebih lama dapat dilakukan dengan risiko yang lebih terkendali. Data yang dikumpulkan kemudian membantu penyempurnaan rancangan misi manusia yang menyusul setelahnya.

Jejak misi lain yang tak kalah penting

Peran hewan dalam riset antariksa tidak berhenti pada anjing dan simpanse. Dua kura-kura juga ikut dalam misi yang mengelilingi Bulan pada 1968 dan menjadi hewan pertama yang mencapai jarak sejauh itu dari Bumi, lalu kembali sekitar satu minggu kemudian dalam kondisi masih hidup meski mengalami penurunan berat badan.

Penerbangan hewan juga mencakup spesies lain yang lebih kecil. Pada 1991, sekitar 2.000 ubur-ubur dikirim ke orbit untuk meneliti mikrogravitasi, dan hasilnya menunjukkan kemampuan adaptasi di luar angkasa tidak selalu sejalan dengan kondisi ketika kembali ke Bumi.

Rangkaian hewan astronot itu dapat diringkas sebagai berikut:

  1. Lalat buah memberi data awal tentang radiasi dan kelangsungan hidup.
  2. Laika menjadi makhluk hidup pertama yang mengorbit Bumi.
  3. Ham membuktikan makhluk hidup bisa bekerja selama penerbangan antariksa.
  4. Belka dan Strelka menjadi hewan pertama yang pulang hidup-hidup dari orbit.
  5. Dua kura-kura mencapai jarak lunar dan kembali selamat.
  6. Ubur-ubur menunjukkan perubahan perilaku saat menghadapi mikrogravitasi.

Dampak ilmiah dan batas etika

Dari seluruh misi tersebut, ilmuwan mempelajari bahwa tubuh makhluk hidup dapat berubah tanpa gravitasi, sementara radiasi kosmik tetap menjadi ancaman serius untuk perjalanan jauh. Tekanan besar saat peluncuran dan pendaratan juga menjadi faktor yang harus diperhitungkan dalam desain wahana antariksa.

Di sisi lain, cara riset dilakukan kini jauh lebih ketat dibanding masa awal eksplorasi. NASA, misalnya, menerapkan pengawasan melalui Institutional Animal Care and Use Committee untuk menilai penelitian yang melibatkan hewan, termasuk dalam misi luar angkasa, agar perlakuan terhadap hewan tetap manusiawi dan risikonya diawasi sejak awal.

Warisan hewan astronot masih terasa dalam rencana penerbangan manusia ke Bulan dan Mars. Data yang mereka hasilkan tetap menjadi bagian penting dari sejarah antariksa, sekaligus pengingat bahwa setiap langkah besar di luar angkasa pernah dimulai dari tubuh hewan yang lebih dulu menanggung risikonya.

Source: www.beritasatu.com

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer