Honda Super One langsung menarik perhatian bukan hanya karena statusnya sebagai mobil listrik mungil, tetapi juga karena paket pengemudiannya yang dibuat berbeda dari EV kebanyakan. Di Jepang, hatchback ini dijual sekitar Rp 378 jutaan dan sudah membawa mode Boost, simulasi transmisi 7-percepatan, serta active sound control yang menghadirkan suara seperti mesin di kabin.
Keunikan itu membuat Super One terasa lebih berkarakter dibanding mobil listrik kecil pada umumnya. Honda sengaja menggabungkan tampilan retro dan modern, lalu mempertahankan bentuk yang disebut tidak jauh berbeda dari versi prototype yang lebih dulu diperkenalkan ke publik.
Karakter berkendara dibuat tidak biasa
Salah satu sorotan terbesar ada pada mode Boost. Saat fitur ini aktif, daya maksimal Super One naik dari 43 kW menjadi 70 kW, sehingga mobil bisa menawarkan respons yang lebih agresif ketika dibutuhkan.
Honda juga menyematkan simulasi transmisi 7-percepatan. Kehadiran fitur ini memberi sensasi perpindahan gigi saat akselerasi, sesuatu yang jarang ditemui pada mobil listrik berukuran kecil.
Selain itu, active sound control membuat kabin tidak terasa senyap seperti EV pada umumnya. Sistem ini menghadirkan suara seperti mesin mobil di dalam kabin, sehingga pengalaman berkendaranya dibuat lebih dramatis.
Basis N-One e: dengan paket khusus
Super One dibangun dari basis N-One e: dan memakai sasis N-One e: sebagai dasar pengembangan. Honda kemudian menambahkan paket khusus untuk pasar Jepang berupa e-Axle yang ringkas dan baterai ramping dengan kapasitas tinggi.
Pendekatan itu membuat mobil ini tetap kecil dan praktis, tetapi mendapat karakter yang lebih istimewa. Di saat yang sama, Honda tetap menjaga identitas desainnya agar tidak terlalu jauh dari model konsep yang sudah dikenal sebelumnya.
Jarak tempuh dan pengisian daya
Untuk mobil listrik di kelasnya, jarak tempuh Super One memang bukan yang paling jauh. Honda mencatat daya jelajahnya mencapai 274 km dalam sekali pengisian penuh.
Pengisian daya dibuat cukup praktis untuk kebutuhan harian. Baterainya dapat terisi penuh dalam 4,5 jam lewat pengisian biasa, sedangkan pengisian cepat membutuhkan sekitar 30 menit.
Honda juga membekali mobil ini dengan Honda Power Supply Connector. Fitur tersebut membuat Super One bisa berfungsi sebagai generator berjalan dan menyuplai daya hingga 1.500 watt saat diperlukan.
Kabin tampil lebih futuristik
Bagian interior mendapat sentuhan yang membuat Super One terasa lebih modern. Ada lampu garis LED di dasbor penumpang depan, lalu tampilan MiD yang berubah warna dari biru menjadi ungu ketika mode Boost aktif.
Detail itu memberi kesan berbeda tanpa mengubah karakter dasarnya sebagai hatchback ringkas. Justru lewat elemen kecil seperti ini, mobil terasa lebih menonjol dibanding banyak model sekelas yang tampil lebih sederhana.
Pasar awal dan arah pemasaran global
Jepang menjadi negara pertama yang menerima Super One. Honda menyebut model ini akan dibawa ke pasar lain setelahnya, termasuk Indonesia yang masuk daftar negara tujuan pemasaran global.
Meski begitu, Super One bukan kei car seperti N-One e:. Karena itu, model ini tidak masuk kategori yang sama dengan BYD Racco di Jepang, walaupun harga keduanya bisa saling berdekatan dan berpotensi bersaing di pasar yang sama.
Honda menempatkan Super One sebagai andalan baru di segmen BEV setelah prototipenya diperlihatkan beberapa bulan lalu. Dengan banderol sekitar Rp 378 jutaan, harga itu sudah termasuk pajak konsumsi 10 persen dan membuat mobil ini diposisikan sebagai hatchback listrik yang relatif terjangkau di pasar Jepang.
Di saat yang sama, Honda juga menyiapkan 0 Alpha sebagai model BEV lain untuk pasar global. Model itu belum dijual di India, dan kini menjadi satu-satunya model dalam 0 Series yang masih bertahan setelah dua model lain dihentikan pengembangannya karena dianggap kurang menguntungkan.
Source: ridertua.com






