Harga minyak dunia kembali bergerak naik setelah pasar menilai risiko gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah makin besar. Brent tercatat di US$ 108,25 per barel, sedangkan WTI menguat ke US$ 103,76 per barel.
Kenaikan itu muncul saat perhatian pelaku pasar kembali tertuju pada Selat Hormuz. Jalur ini sangat penting bagi distribusi minyak mentah internasional, sehingga setiap tanda ketegangan di sekitarnya cepat memicu kekhawatiran baru.
Dalam perdagangan terakhir, harga minyak bahkan melompat lebih dari 2%. Lonjakan ini mencerminkan respons pasar terhadap ancaman serangan dan penerapan tarif sepihak di sekitar Hormuz yang menambah ketidakpastian.
Selat Hormuz kembali jadi pusat perhatian
Posisi Selat Hormuz membuatnya menjadi titik paling sensitif dalam perdagangan energi global. Volume minyak yang melintas di jalur itu sangat besar, sehingga gangguan sekecil apa pun dapat memicu kekhawatiran lanjutan di pasar.
Karena itu, ketika tensi geopolitik meningkat di kawasan tersebut, pelaku pasar langsung bersiap menghadapi kemungkinan hambatan aliran energi. Sentimen seperti ini membuat harga minyak lebih mudah terdorong naik.
Trump menaikkan tekanan terhadap Iran
Di tengah situasi yang memanas, Presiden AS Donald Trump mengatakan kesabarannya terhadap Iran sudah habis. Ia menyampaikan sikap itu dalam wawancara dengan Fox News dan menegaskan bahwa tidak ada lagi ruang untuk menunggu terlalu lama.
Trump juga menyebut pembahasan damai belum menghasilkan kesepakatan. “Saya tidak akan lebih sabar lagi. Mereka harus membuat kesepakatan,” ujarnya, sebuah pernyataan yang segera menarik perhatian pasar.
Nada yang lebih keras dari Washington membuat kebuntuan diplomatik terlihat belum menemukan jalan keluar. Bagi pasar minyak, sikap seperti ini menambah risiko bahwa ketegangan di kawasan akan bertahan lebih lama.
China ikut masuk ke dalam sorotan
Trump juga mengklaim telah mendapat dukungan dari Presiden China Xi Jinping terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Ia mengatakan Beijing sepakat jalur itu harus bebas hambatan dan bahkan akan menghentikan pasokan peralatan militer ke Iran.
Menurut Trump, Xi tidak menyukai fakta bahwa Iran mengenakan biaya tol kepada kapal-kapal yang melintas di Hormuz. Klaim tersebut ikut menjadi perhatian karena China punya kepentingan besar terhadap kelancaran arus perdagangan dan energi.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent turut mengatakan bahwa China bergerak di balik layar dalam isu ini. Ia menilai stabilitas Selat Hormuz sangat penting bagi pasokan energi dan arus dagang China yang bergantung pada jalur tersebut.
Beijing tetap hati-hati
Meski begitu, sikap publik pemerintah China tidak sejalan dengan klaim dukungan terbuka dari Washington. Kementerian Luar Negeri China justru memperingatkan bahwa opsi militer hanya akan membawa kebuntuan baru.
Juru bicara kementerian itu menegaskan bahwa penyelesaian cepat atas situasi ini penting bukan hanya bagi AS dan Iran, tetapi juga bagi kawasan dan dunia. Sikap itu menunjukkan Beijing masih mendorong jalur diplomasi di tengah tekanan politik yang terus membesar.
Dengan kombinasi retorika keras Trump, kebuntuan negosiasi, dan sensitivitas Selat Hormuz, pasar minyak tetap rentan bergerak naik. Selama risiko pasokan belum mereda, perhatian pelaku pasar akan terus tertuju pada perkembangan dari Washington, Teheran, dan Beijing.
Source: www.suara.com






