Pembuatan film horor perdana HAS Pictures, Dosa: Penebusan atau Pengampunan, sempat menemui jalan yang tak biasa sejak tahap lokasi. Sejumlah hotel asli menolak dipakai sebagai tempat syuting karena khawatir bangunannya ikut dicap angker setelah tampil di film horor.
Penolakan itu justru membuat tim produksi bergerak lebih cepat. Alih-alih terus mencari properti yang mau dipakai, mereka memilih membangun sendiri set hotel di dua studio agar proses syuting tetap berjalan sesuai kebutuhan.
Dua studio dipakai agar produksi tidak tertahan
Produser Reza Aditya menjelaskan bahwa tim sudah mendatangi beberapa hotel untuk mencari lokasi yang cocok. Namun, setiap upaya tersebut berakhir buntu karena pemilik hotel enggan bangunannya dikaitkan dengan film horor.
Kekhawatiran soal citra bangunan membuat izin sulit didapat. Kondisi itu akhirnya mendorong tim mencari solusi yang lebih efisien daripada terus menunggu persetujuan dari properti asli.
Sutradara Sondang Pratama juga menyebut lokasi yang sempat ditemukan di Malang akhirnya tidak bisa dipakai. Pihak hotel tetap keberatan karena takut bangunannya makin dianggap angker setelah tampil di film tersebut.
Set hotel dibangun dari nol
Setelah beberapa opsi gagal, tim produksi memutuskan membangun set sendiri di dua studio sekaligus. Langkah ini dipilih supaya kebutuhan visual film bisa dipenuhi tanpa bergantung pada hotel asli yang sulit memberi izin.
Set utama seperti lorong dan kamar hotel dikerjakan di studio besar selama lebih dari sebulan. Sementara itu, studio kecil dipakai untuk adegan khusus, termasuk kolam darah dan ruang penyiksaan.
Pilihan tersebut membuat proses kerja tetap terjaga dan lebih terkontrol. Selain itu, tim tidak perlu mengeluarkan energi tambahan untuk renovasi properti yang belum tentu bisa dipakai sampai akhir.
Cerita film berpusat di Hotel Samsara
Dosa: Penebusan atau Pengampunan mengisahkan pasangan suami istri, Bima yang diperankan Irsyadillah dan Ersya yang diperankan Ratu Sofya. Keduanya nekat bepergian ke luar kota sebelum mengalami kecelakaan besar setelah berpapasan dengan truk yang dikemudikan Nanang, karakter yang dimainkan Revaldo.
Setelah mencari pertolongan, mereka justru terjebak di Hotel Samsara. Penginapan tua itu perlahan menyeret keduanya ke teror yang membuka dosa masa lalu mereka.
Adegan fisik menuntut tenaga para pemain
Kekuatan produksi tidak hanya terlihat dari pembangunan set, tetapi juga dari tantangan yang dihadapi para pemain. Beberapa adegan fisik harus dijalani dengan totalitas agar suasana horor terasa meyakinkan.
Natasha Urbach, yang memerankan arwah bernama Mutia, mengaku harus digantung terbalik 180 derajat menggunakan sling selama beberapa menit untuk salah satu adegan penting. Ia juga perlu memuntahkan cairan hitam khusus langsung ke arah lawan mainnya.
Irsyadillah pun merasakan beratnya syuting di studio ber-AC dengan kondisi tubuh yang harus terus dibasahi air. Situasi itu dijaga agar tampilan gambar tetap konsisten dari satu adegan ke adegan lain.
Pengalaman baru bagi Irish Bella
Di balik layar, Irish Bella menjalani peran berbeda karena terlibat sebagai Executive Producer. Posisi itu membuatnya harus memahami detail produksi dari awal sampai akhir, bukan sekadar fokus pada penampilan di depan kamera.
Irish menyebut tanggung jawab tersebut lebih rumit, tetapi juga menantang. Menurut dia, proses ini memberi ruang belajar baru bagi seluruh tim yang terlibat dalam film perdana HAS Pictures tersebut.
Film Dosa: Penebusan atau Pengampunan dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 11 Juni 2026. Film berdurasi 97 menit itu juga dibintangi Dominique Sanda sebagai Nungki dan Jennifer Eve sebagai Sheren.
Source: www.suara.com






