Huawei dan Apple justru melaju di tengah pasar smartphone China daratan yang melemah. Keduanya mencatat kenaikan pengiriman dan pangsa pasar pada kuartal kedua, saat sebagian besar merek lain terpukul oleh tekanan biaya komponen dan krisis memori.
Data Omdia menunjukkan total pengiriman smartphone di China turun 2% pada periode April-Juni dibanding kuartal yang sama tahun lalu. Namun di pasar yang nilainya tetap besar itu, dua merek besar berhasil mengambil momentum ketika kompetitor lain kehilangan daya dorong.
Huawei Pimpin Kenaikan di Lima Besar
Huawei menjadi sorotan utama dengan pengiriman 15,2 juta perangkat, rekor tertinggi yang disebut Omdia untuk periode tersebut. Pangsa pasarnya naik menjadi 23% dari 18% pada kuartal yang sama tahun lalu.
Menurut Omdia Principal Analyst Hayden Hou, performa Huawei ditopang oleh riset dan pengembangan internal yang kuat serta “deep alignment with domestic supply chains” untuk menjaga ketahanan di tengah volatilitas biaya. Model Pura X Max dan Enjoy 90 Pro Max disebut mendapat sambutan baik.
| Produsen | Pengiriman | Pangsa Pasar | Perubahan YoY |
|---|---|---|---|
| Huawei | 15,2 juta | 23% | Naik dari 12,2 juta dan 18% |
| Apple | 12,4 juta | 19% | Naik dari 10,1 juta dan 15% |
| Oppo | 10,6 juta | 16% | Turun 9% |
| vivo | 10,5 juta | 16% | Turun 11% |
| Xiaomi | 8,2 juta | 12% | Turun 21% |
Apple Perkuat Posisi di Pasar yang Semakin Selektif
Apple juga mencatat hasil yang lebih baik dibandingkan tahun lalu di China. Omdia menyebut pengiriman iPhone mencapai 12,4 juta unit dengan pangsa pasar 19%, naik dari 10,1 juta unit dan 15% pada kuartal yang sama tahun lalu.
Kenaikan ini menunjukkan bahwa segmen premium masih memiliki ruang bertahan, terutama ketika konsumen lebih berhati-hati memilih perangkat pengganti. Di saat yang sama, struktur pasar yang makin tertekan membuat hanya merek tertentu yang mampu mempertahankan daya tariknya.
Rival Besar Justru Kehilangan Momentum
Di kelompok pesaing utama, Oppo membukukan 10,6 juta pengiriman dengan pangsa 16%, sementara vivo mencatat 10,5 juta unit dengan pangsa yang sama. Keduanya tetap berada di jajaran teratas, tetapi masing-masing turun 9% dan 11% secara tahunan.
Xiaomi mengalami penurunan paling tajam di antara lima besar. Pengirimannya susut 21% menjadi 8,2 juta unit dengan pangsa pasar 12%, menegaskan bahwa pasar China saat ini makin terpolarisasi.
Tekanan itu berkaitan dengan krisis memori dan kenaikan biaya komponen yang memengaruhi banyak vendor. Dalam kondisi seperti ini, merek dengan rantai pasok yang lebih kuat dan strategi produk yang lebih stabil tampak lebih siap menghadapi pelemahan pasar.
Pasar China Masih Besar, Tapi Arah Tahun Ini Menurun
Meski melemah, pasar smartphone China pada kuartal kedua masih turun lebih kecil dibanding pasar global yang pada periode yang sama anjlok 4%. Total pengiriman di China mencapai 66,1 juta unit, sehingga pasar ini tetap menjadi salah satu yang paling besar di dunia.
Omdia memperkirakan pasar smartphone China akan turun 6% untuk sepanjang tahun dibanding 2025. Penurunannya memang diprediksi lebih ringan daripada pasar global, tetapi vendor di luar Huawei dan Apple diperkirakan harus terus menyesuaikan portofolio di tengah konsumen yang makin berhati-hati saat mengganti perangkat.
Dengan kondisi itu, persaingan di China kini bukan hanya soal volume pengiriman. Pasar juga semakin ditentukan oleh kemampuan produsen menjaga biaya, mempertahankan segmen premium, dan merespons perubahan pola belanja konsumen.
Source: www.gsmarena.com





