Huawei Tawarkan Arsitektur Chip Baru Saat Akses ke Mesin Tercanggih Masih Tertutup

Huawei tidak lagi hanya bertarung soal akses ke chip AI paling canggih. Perusahaan ini kini mencoba menang lewat desain arsitektur yang lebih cerdas, dengan klaim mampu mendekati kepadatan transistor setara chip berbasis proses 1,4 nanometer meski tanpa bergantung pada mesin litografi tercanggih.

Langkah itu menjadi penting karena persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China sudah bergeser. Yang diperebutkan bukan sekadar alat produksi semikonduktor, melainkan juga kemampuan merancang chip yang tetap kompetitif saat akses ke peralatan mutakhir ditutup.

Di Shanghai, Huawei memaparkan pendekatan baru yang diklaim bisa membantu pengembangan prosesor kelas atas tanpa bergantung pada peralatan pembuat chip khusus yang dipakai Intel, Taiwan Semiconductor Manufacturing Co., dan Samsung Electronics. The Wall Street Journal melaporkan bahwa pendekatan ini dibuat agar tetap berfungsi meski Huawei tidak bisa memakai mesin litografi paling maju.

Kepadatan transistor menjadi salah satu ukuran penting dalam industri chip karena berkaitan dengan jumlah sakelar kecil yang bisa dipadatkan dalam satu chip. Semakin tinggi kepadatannya, semakin besar peluang chip menawarkan performa komputasi dan efisiensi energi yang lebih baik.

Target yang disebut Huawei menarik perhatian karena node 1,4 nanometer dipandang sebagai tonggak besar berikutnya dalam industri semikonduktor. Sejumlah produsen chip terdepan juga berencana memproduksi massal chip di level itu dalam beberapa tahun mendatang dengan bantuan sistem litografi canggih buatan ASML dari Belanda.

Masalahnya, Huawei tidak memiliki akses ke mesin tersebut. Pemerintah Amerika Serikat telah memblokir ekspor peralatan semikonduktor canggih ke China, sehingga perusahaan seperti Huawei tidak bisa memakai alat produksi chip terbaru.

Fokus pada arsitektur, bukan sekadar mengecilkan komponen

Alih-alih mengejar pengecilan komponen chip semata, Huawei memilih jalur lain. Perusahaan itu mengatakan fokusnya adalah meningkatkan efisiensi komputasi lewat arsitektur berbeda yang menumpuk banyak lapisan sirkuit dalam satu chip dan memperpendek waktu tempuh data di antaranya.

Huawei menyebut pendekatan itu sebagai “Tau Scaling Law”. Dalam materi yang dipresentasikan di acara tersebut, metode ini diklaim sudah diterapkan pada 381 model chip selama enam tahun terakhir.

Presiden divisi semikonduktor Huawei, He Tingbo, menyebut solusi itu “feasible and affordable”. Pernyataan itu menegaskan bahwa Huawei ingin menunjukkan pendekatan ini bukan hanya mungkin dilakukan, tetapi juga tetap realistis dari sisi biaya di tengah tekanan sanksi.

Perusahaan juga mengatakan prosesor smartphone Kirin generasi berikutnya, yang diharapkan meluncur pada akhir tahun ini, akan menjadi yang pertama memakai arsitektur “LogicFolding”. Desain tersebut ditujukan untuk meningkatkan kinerja chip dengan memendekkan jalur kabel internal dan mengurangi keterlambatan komunikasi antarbagian prosesor.

Tekanan sanksi mendorong jalur alternatif

Huawei menambahkan bahwa pendekatan serupa juga dipakai dalam pengembangan chip kecerdasan buatan. Namun, perusahaan belum menyertakan benchmark independen atau evaluasi performa eksternal untuk mendukung klaim tersebut.

Pengumuman ini muncul setelah bertahun-tahun pembatasan Amerika Serikat terhadap Huawei dan industri semikonduktor China terus diperketat. Huawei masuk daftar hitam perdagangan AS pada 2019, yang membatasi aksesnya terhadap teknologi Amerika.

Kontrol yang lebih luas diperkenalkan pada 2022 dan semakin membatasi akses China terhadap peralatan semikonduktor canggih serta chip AI kelas tinggi. Langkah Washington itu ditujukan untuk memperlambat kemampuan China membangun sistem AI canggih dan memproduksi chip mutakhir.

Salah satu caranya adalah membatasi akses perusahaan-perusahaan China ke produk Nvidia dan peralatan manufaktur yang dibutuhkan untuk membuat chip kelas atas. Tekanan itu mendorong perusahaan teknologi China mencari rute alternatif untuk mengembangkan prosesor mutakhir.

Dalam konteks itu, Huawei menjadi salah satu pemain penting dalam dorongan Beijing menuju kemandirian teknologi dan pembangunan ekosistem semikonduktor domestik. Bagi industri global, arah ini menunjukkan bahwa persaingan chip kini tidak hanya ditentukan oleh siapa yang punya mesin terbaik, tetapi juga oleh siapa yang mampu merancang arsitektur baru di tengah pembatasan akses teknologi.

Source: www.indiatoday.in

Berita Terkait