Ratusan korban bencana di Desa Dolok Nauli, Kecamatan Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara, masih belum benar-benar bisa menempati hunian tetap yang sudah selesai dibangun. Masalah utamanya bukan pada bangunan, melainkan pada fasilitas dasar yang belum berfungsi.
Di kawasan itu, 103 unit rumah bantuan pascabencana telah berdiri secara fisik, tetapi warga belum bisa langsung pindah karena aliran listrik belum menyala, air bersih belum mengalir, dan akses jalan utama belum layak digunakan. Sejumlah penghuni juga menyebut masih ada kebocoran atap pada sebagian rumah.
| Data Proyek | Informasi |
|---|---|
| Jumlah bangunan | 103 unit |
| Lokasi | Desa Dolok Nauli, Kecamatan Adian Koting, Tapanuli Utara |
| Sumber dana | Bantuan Keluarga Besar Maruarar Sirait |
| Status | Bangunan fisik selesai, infrastruktur pendukung masih dalam proses |
R. Siregar, salah satu penerima manfaat, mengatakan ketiadaan listrik dan air bersih menjadi hambatan utama. Kondisi itu membuat sebagian warga memilih tetap bertahan di pengungsian atau memperpanjang kontrak rumah sewa sambil menunggu fasilitas dasar tersedia.
Jalan, listrik, dan air masih dikejar
Kepala Dinas Tata Ruang dan Perumahan Kabupaten Tapanuli Utara, Nokman Simanungkalit, menjelaskan bahwa pemasangan listrik sedang berlangsung setelah ada nota kesepahaman antara Pemkab Tapanuli Utara dan PLN. Sementara itu, jaringan perpipaan untuk air bersih masih dikerjakan oleh pihak pelaksana.
Untuk akses jalan, pengerjaannya baru akan dilakukan setelah pembangunan tembok penahan tanah di belakang kawasan perumahan selesai. Menurut Nokman, jalan utama saat ini masih dipakai kendaraan berat pengangkut material, sehingga pekerjaan fisik di jalur tersebut belum bisa dimulai.
Koordinasi di lapangan belum maksimal
Di sisi lain, Kepala Desa Dolok Nauli, Jonas Aritonang, menyebut pemerintah desa tidak dilibatkan dalam proses pembangunan huntap. Akibatnya, keluhan warga lebih banyak disampaikan langsung kepada pihak pelaksana atau dinas terkait.
Situasi tersebut membuat koordinasi di lapangan berjalan terbatas, sementara kebutuhan dasar penghuni belum terpenuhi. Hingga kini, warga masih menunggu penyelesaian listrik, air bersih, dan akses jalan agar 103 unit rumah bantuan itu benar-benar bisa dihuni dengan nyaman dan aman.
Source: mediaindonesia.com






