Huntara Mulai Terisi, Warga Lubuk Sidup Akhirnya Tinggalkan Tenda Pengungsian

Author: Redaksi Android62

Di Desa Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, setengah dari hunian sementara yang disiapkan untuk warga terdampak banjir mulai terisi. Dari total alokasi 163 kepala keluarga, sekitar separuh sudah menempati unit masing-masing, sementara sisanya masih dalam proses pengerjaan dan penyelesaian fasilitas pendukung.

Kondisi itu menandai perubahan penting bagi warga yang sebelumnya harus bertahan berbulan-bulan di tenda pengungsian. Hunian sementara memberi ruang yang lebih layak untuk beristirahat dan kembali menjalani aktivitas harian setelah masa darurat yang panjang.

Mulai kembali dari ruang yang lebih layak

Bagi Muhammad Fa’i, pindah ke huntara terasa seperti langkah besar setelah lama hidup di pengungsian. Ia baru sekitar satu minggu menempati unit tersebut dan merasakan perbedaan nyata dibanding tenda yang dihuni berbulan-bulan.

“Jauh lebih nyaman disini, area lebih luas dan pemandangan juga indah,” ujarnya, Rabu (29/4/2026). Meski begitu, pengalaman awal tinggal di hunian baru itu sempat diwarnai kebocoran atap sebelum pemerintah bergerak cepat memperbaikinya.

Perbaikan tersebut membuat unit kembali bisa digunakan dengan baik. Bagi warga yang baru keluar dari tenda, respons seperti itu menjadi bagian penting dari proses penyesuaian di tempat tinggal baru.

Masih ada kebutuhan yang harus dilengkapi

Walau jauh lebih nyaman, huntara di Lubuk Sidup belum sepenuhnya bebas dari kekurangan. Fa’i menilai area hunian masih terasa panas pada siang hari karena belum ada pelindung tambahan di sekitar bangunan.

Ia berharap pemerintah bisa menambah fasilitas peneduh agar anak-anak dan warga lebih nyaman saat beraktivitas. Kebutuhan seperti ini menunjukkan bahwa proses pemulihan masih berjalan, meski sebagian warga sudah lebih dulu pindah dari tenda.

Di sisi lain, keberadaan huntara tetap memberi ruang yang lebih baik untuk kehidupan keluarga sehari-hari. Warga bisa beristirahat dan berinteraksi dengan suasana yang lebih mendekati kondisi normal dibanding saat masih berada di pengungsian.

Lega setelah hampir lima bulan di pengungsian

Anwar menjadi salah satu warga yang akhirnya bisa meninggalkan tenda setelah menunggu cukup lama. Ia mengaku harus bertahan hampir lima bulan sebelum mendapatkan hunian sementara tersebut.

“Terima kasih kepada pemerintah telah memberi huntara ini,” katanya. Bagi Anwar, perbedaan paling terasa ada pada kenyamanan dan ruang untuk beraktivitas bersama keluarga.

Perpindahan dari tenda ke huntara juga membawa harapan baru bagi warga yang terdampak banjir. Mereka perlahan mulai menata kembali rutinitas yang sempat terputus sejak banjir melanda wilayah itu pada akhir November 2025.

Pemulihan hunian masih dikejar di banyak daerah

Di Aceh Tamiang, perubahan di Lubuk Sidup menjadi bagian dari upaya yang lebih besar untuk memulihkan kehidupan warga pascabencana. Hunian sementara tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal baru, tetapi juga membantu warga menyusun kembali pola hidup sosial yang sempat terganggu.

Secara lebih luas, Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera mencatat 18.505 huntara telah selesai dibangun di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat per 29 April. Progres pembangunan itu disebut sudah mencapai 91 persen dari target 20.267 unit, sehingga pengerjaan pemulihan hunian masih terus dikebut di berbagai wilayah.

Source: www.medcom.id
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru