IDAI Ingatkan Pijat Bayi Harus Sangat Lembut, Totok Sirih Berisiko Memicu Cedera

Ikatan Dokter Anak Indonesia menegaskan bahwa pijat bayi memang boleh dilakukan, tetapi hanya dengan sentuhan yang sangat lembut dan cara yang aman. Penekanan kuat pada titik tertentu, seperti yang terlihat dalam praktik totok sirih, justru dipandang berisiko karena tubuh bayi belum siap menerima manipulasi seperti itu.

Sorotan terhadap praktik totok sirih pada bayi di Palembang memunculkan pertanyaan besar soal batas aman perawatan tradisional pada usia sangat dini. Dalam video yang beredar, bayi tampak mendapat tekanan pada titik-titik tertentu dengan tangan maupun alat, dan hal itulah yang memicu kekhawatiran luas.

IDAI menilai bayi tidak bisa diperlakukan seperti orang dewasa dalam ukuran kecil. Tulang yang masih lunak, kulit yang lebih tipis, sistem saraf yang belum matang, serta organ dalam yang rentan membuat tubuh bayi jauh lebih mudah mengalami cedera jika mendapat tekanan berlebihan.

Karena itu, risiko bukan hanya muncul pada bagian luar tubuh. Tekanan yang terlalu keras dapat memicu gangguan pada tulang, saraf, dan organ dalam, apalagi bila dilakukan tanpa dasar medis yang jelas dan tanpa standar yang terukur.

IDAI juga menyoroti minimnya bukti ilmiah mengenai manfaat totok sirih pada bayi. Dalam kondisi seperti ini, terapi alternatif pada bayi perlu benar-benar berbasis bukti dan dilakukan dengan kehati-hatian tinggi agar tidak menimbulkan masalah baru pada masa awal tumbuh kembang anak.

Di sisi lain, pijat bayi tetap diperbolehkan selama dilakukan dengan cara yang lembut. Yang ditekankan bukan teknik totok dengan tekanan kuat pada titik tertentu, melainkan sentuhan hati-hati yang memperhatikan kenyamanan dan respons bayi.

Cara pijat yang lebih aman

Sebelum pijat dimulai, ruangan sebaiknya dibuat hangat dan tenang. Tangan juga harus bersih, kuku dipotong pendek, dan minyak khusus bayi dapat dipakai untuk mengurangi gesekan pada kulit yang sensitif.

Kondisi bayi pun perlu diperhatikan sebelum dipijat. Bayi sebaiknya dalam keadaan tenang, sadar, dan tidak mengantuk berlebihan agar responsnya lebih mudah dipantau selama proses berlangsung.

IDAI merekomendasikan pijatan dimulai dari kaki karena area ini dinilai paling aman untuk tahap awal. Gerakannya berupa usapan lembut dari paha ke arah kaki, mirip gerakan memerah susu, tetapi tetap tanpa tekanan kuat.

Setelah itu, pijatan dapat berlanjut ke perut dengan gerakan memutar searah jarum jam. Namun, bagian ini tidak disarankan dilakukan setelah bayi baru makan, meski kerap dikaitkan dengan bantuan untuk mengurangi kembung.

Bagian dada dan tangan juga bisa disentuh dengan lembut. Dada diusap dari tengah ke samping seperti gerakan membuka, sedangkan tangan dipijat dari bahu ke pergelangan secara perlahan dan konsisten.

Untuk punggung, bayi diposisikan tengkurap dengan pengawasan penuh. Usapan dilakukan dari leher menuju bokong secara perlahan, sambil memastikan bayi tetap nyaman dan tekanan pada tulang belakang tidak berlebihan.

Tanda yang perlu diperhatikan orang tua

Respons bayi menjadi penanda utama selama pijat berlangsung. Jika bayi terlihat tenang, pijatan dapat dilanjutkan, tetapi bila bayi menangis, proses harus segera dihentikan.

Durasi pijat yang dianjurkan berada di kisaran 10 sampai 15 menit. Waktu tersebut dinilai cukup untuk memberi manfaat tanpa membuat bayi kelelahan atau terstimulasi terlalu kuat.

Jika dilakukan sesuai panduan, pijat bayi dapat membantu relaksasi, meningkatkan kualitas tidur, mendukung perkembangan sensorik, dan mempererat kedekatan antara orang tua dan bayi. Karena itu, praktik yang tampak alami tetap perlu disaring dengan hati-hati, terutama ketika menyangkut keselamatan bayi.

Source: www.suara.com

Berita Terkait