IHSG Dibayangi Lonjakan Minyak, Saham Pilihan Masih Beri Ruang Penguatan

IHSG masih dinilai punya peluang bergerak naik dalam jangka pendek menuju 6.150, meski pasar global sedang berada di bawah tekanan lonjakan harga minyak dan koreksi di bursa utama dunia. Di tengah gejolak eksternal itu, pasar saham Indonesia dianggap relatif lebih tahan berkat dukungan sentimen domestik yang masih positif.

Secara teknikal, IHSG disebut berpeluang melanjutkan penguatan selama mampu menembus resistensi 6.050 terlebih dahulu. Jika level itu ditembus, arah berikutnya mengarah ke 6.150, sementara area support diperkirakan berada di 5.970 hingga 6.000.

Minyak Menguat, Pasar Global Terkoreksi

Tekanan pasar berawal dari kawasan Teluk setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberlakukan kembali blokade maritim dan pungutan biaya di Selat Hormuz terhadap perdagangan Iran. Kebijakan itu memicu kekhawatiran inflasi global karena harga minyak mentah melonjak tajam.

Harga minyak WTI naik 9,4 persen ke US$ 78 per barel, sedangkan Brent menguat 9,6 persen ke US$ 83 per barel. Pada saat yang sama, Wall Street bergerak melemah dengan S&P 500 turun 0,79 persen, Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,26 persen, dan Nasdaq Composite jatuh paling dalam sebesar 1,55 persen.

Tekanan di Nasdaq terutama menghantam saham semikonduktor dan teknologi. Sandisk ambles 12 persen, SK Hynix turun 9 persen, Intel melemah 6 persen, Seagate Technology berkurang 5 persen, sedangkan Micron dan AMD masing-masing turun 4 persen.

Indeks/SahamPergerakanKeterangan
WTI+9,4%US$ 78 per barel
Brent+9,6%US$ 83 per barel
S&P 500-0,79%Zona merah
Dow Jones Industrial Average-0,26%Zona merah
Nasdaq Composite-1,55%Pelemahan terdalam

Gejolak yang sama juga menjalar ke bursa Asia. Jepang mencatat penurunan pada Nikkei 225 sebesar 1,9 persen dan Topix turun 0,7 persen, sementara Korea Selatan lebih terpukul dengan Kospi jatuh 9 persen dan Kosdaq merosot 4,5 persen.

Di sisi lain, beberapa indeks Asia masih mampu bertahan tipis di zona hijau. Hang Seng Hong Kong naik 0,16 persen, Taiex Taiwan menguat 0,06 persen, dan ASX 200 Australia bertambah 0,03 persen.

IHSG Masih Ditopang Sentimen Domestik

Berbeda dari mayoritas pasar global, IHSG pada perdagangan sebelumnya justru ditutup menguat 1,92 persen. Namun, penguatan itu masih disertai aksi jual bersih investor asing sekitar Rp 413 miliar.

Tekanan jual asing terutama menyasar saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, MAPI, ASII, TINS, dan DEWA. Meski begitu, pasar domestik masih mendapat dukungan dari keputusan S&P yang mempertahankan proyeksi ekonomi Indonesia pada level stable outlook.

Menurut analisis teknikal yang dikutip www.suara.com, rentang resistance IHSG untuk perdagangan hari ini berada di 6.100 hingga 6.150. Dengan kondisi pasar yang masih sensitif terhadap kabar minyak dan geopolitik, disiplin menjaga area risiko tetap menjadi perhatian utama pelaku pasar.

6 Saham yang Masuk Radar Spekulatif

BNI Sekuritas menempatkan enam saham dalam pantauan untuk strategi speculative buy. Rekomendasi ini disusun berdasarkan area masuk, batas cut loss, dan target penguatan jangka pendek.

SahamArea BeliCut LossTarget
BRPTRp 1.735 – Rp 1.750Di bawah Rp 1.720Rp 1.780 – Rp 1.800
TPIARp 1.870 – Rp 1.890Di bawah Rp 1.870Rp 1.920 – Rp 1.975
BUMIRp 145 – Rp 147Di bawah Rp 140Rp 150 – Rp 152
MINARp 272 – Rp 276Di bawah Rp 270Rp 282 – Rp 292
AMMNRp 3.700 – Rp 3.780Di bawah Rp 3.680Rp 3.850 – Rp 3.900
Chandra Daya InvestasiRp 625 – Rp 635Di bawah Rp 620Rp 645 – Rp 660

BRPT direkomendasikan beli di area Rp 1.735-Rp 1.750 dengan target terdekat Rp 1.780-Rp 1.800. TPIA berada di area beli Rp 1.870-Rp 1.890 dengan target Rp 1.920-Rp 1.975.

BUMI disarankan masuk di Rp 145-Rp 147 dengan target Rp 150-Rp 152, sedangkan MINA berada di rentang beli Rp 272-Rp 276 dengan sasaran Rp 282-Rp 292. Untuk AMMN, area akumulasi ada di Rp 3.700-Rp 3.780 dengan target Rp 3.850-Rp 3.900.

Chandra Daya Investasi juga masuk daftar dengan area beli Rp 625-Rp 635 dan target jangka pendek menuju Rp 645-Rp 660. Seluruh strategi itu tetap memerlukan disiplin cut loss karena volatilitas pasar masih tinggi akibat gejolak minyak dan ketidakpastian geopolitik.

DISCLAIMER
Investasi dan transaksi saham di pasar modal melibatkan risiko finansial yang tinggi. Analisis dan rekomendasi teknikal yang tercantum dalam artikel ini merupakan pandangan pasar berdasarkan data historis dan tidak menjamin kepastian keuntungan di masa depan. Ketegangan geopolitik global dan fluktuasi komoditas energi dapat mengubah arah pasar secara tidak terduga. Pembaca wajib melakukan riset mandiri secara mendalam serta berkonsultasi dengan penasihat keuangan berlisensi sebelum mengambil keputusan investasi.

Source: www.suara.com
Berita Terkait