Tekanan di pasar saham Indonesia belum mereda setelah IHSG kembali terseret ke zona berbahaya. Pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026, indeks sempat turun ke 6.723 lalu anjlok 2,49 persen hingga menembus 6.600, seiring investor asing melepas portofolio menjelang rebalancing MSCI yang efektif pada akhir Mei.
Pergerakan itu menunjukkan pasar sedang menyerap gelombang jual yang besar dalam waktu singkat. Saat dana asing keluar, volatilitas pun meningkat dan membuat arah perdagangan semakin rapuh, terutama ketika sentimen global sedang tidak bersahabat.
Rebalancing MSCI Menjadi Pemicu Utama
Katalis paling kuat datang dari perubahan komposisi indeks MSCI. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Imam Gunadi, menilai keputusan MSCI mengeluarkan sejumlah saham besar dari Global Standard Index menjadi faktor utama pelemahan pasar domestik.
Saham yang terdampak adalah AMMN, BREN, TPIA, DSSA, dan CUAN. Menurut Imam, arus dana keluar pasif dari proses rebalancing memaksa pasar menyerap tekanan jual besar, sehingga pelepasan aset oleh pemodal internasional berlangsung lebih cepat.
Di sisi lain, penguatan dolar AS ikut memperburuk suasana. Rupiah sempat melemah ke level terendah baru di Rp 17.520 per dolar AS, sehingga minat terhadap aset berisiko di pasar emerging markets makin menipis.
Sentimen Global Membuat Tekanan Makin Berat
Beban pasar tidak hanya datang dari MSCI. Ekspektasi suku bunga tinggi The Fed juga menahan langkah investor untuk kembali masuk ke saham, karena imbal hasil aset aman masih dianggap lebih menarik.
Ketegangan di Timur Tengah menambah lapisan risiko baru. Gangguan distribusi energi di Selat Hormuz mendorong harga minyak mentah dunia naik hingga melewati USD 105 per barel, yang kemudian memunculkan kekhawatiran atas biaya produksi dan inflasi.
Kondisi seperti ini biasanya mendorong investor memilih posisi yang lebih defensif. Aliran dana baru cenderung ditunggu sampai tekanan dari penyesuaian indeks mereda dan arah pasar global kembali lebih jelas.
Masih Ada Ruang Rotasi Dana
Meski pasar tertekan, perubahan komposisi MSCI tidak hanya memicu jual. Sejumlah saham lain justru berpotensi menerima aliran masuk baru karena bobot indeksnya naik.
Saham yang disebut berpeluang mendapat rotasi dana adalah BMRI, BRMS, PGAS, ADRO, INDF, MTEL, dan TOWR. Pergeseran ini bisa menjadi penopang terbatas di tengah dominasi tekanan jual, meski belum cukup untuk membalikkan sentimen secara keseluruhan.
Dalam jangka menengah, pasar juga mencermati kemungkinan peningkatan status Korea Selatan oleh MSCI dari Emerging Market menjadi Developed Market. Jika skenario itu terjadi, relokasi dana ke pasar berkembang bisa terbuka, termasuk ke Indonesia.
Area Teknis IHSG Masih Rapuh
Secara teknikal, IHSG sudah masuk fase bearish. Area support berikutnya berada di rentang 6.640 hingga 6.538, sehingga ruang pelemahan masih tetap terbuka bila tekanan jual berlanjut.
Pasar diperkirakan masih akan berfluktuasi tinggi pada periode 18 hingga 22 Mei 2026. Tekanan bisa bertambah kuat terutama saat sesi closing auction menjelang pemberlakuan efektif MSCI Rebalancing pada 29 Mei 2026.
Namun, koreksi yang terjadi belum sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental domestik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tercatat 5,61 persen, sehingga pelemahan pasar saat ini lebih banyak dipandang bersifat teknikal.
Saham yang Tetap Menarik Dicermati
Di tengah tekanan pasar, BUMI masih direkomendasikan beli dengan target harga Rp 242. Saham ini dipandang berpotensi menjadi proxy perdagangan utama seiring penguatan harga batu bara dan kemungkinan peningkatan bobot indeks.
MINA juga masuk daftar beli dengan target harga Rp 384. Rekomendasi itu didukung kenaikan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia sebesar 10,5 persen secara tahunan pada Maret 2026, terutama dari Malaysia, Australia, dan China.
RMKE pun direkomendasikan beli dengan target harga Rp 3.650. Saham ini diuntungkan regulasi baru yang mewajibkan penggunaan jalur logistik khusus untuk distribusi batu bara di Sumatera, karena RMKE memiliki ekosistem logistik batu bara yang terintegrasi dari hauling road, stasiun muat kereta api, hingga pelabuhan.
Imam menilai struktur bisnis seperti itu dapat meningkatkan utilisasi volume dan memperkuat barrier to entry. Di saat pasar masih dikuasai aksi jual asing, saham-saham dengan dukungan katalis spesifik tetap menjadi perhatian utama pelaku pasar.
