Penurunan tajam IHSG sepanjang 2026 justru membuat valuasi saham Indonesia tampak semakin menarik bagi sebagian investor. Berdasarkan kompilasi data Bloomberg per Jumat, 12 Juni 2026, rasio price to book value atau PBV IHSG berada di 1,55 kali, sedangkan estimasi price earning ratio atau PER tercatat 9,21 kali.
Di tengah tekanan itu, pasar modal Indonesia dinilai sudah masuk area diskon dibandingkan sejumlah bursa lain di Asia. Pada perbandingan valuasi kawasan, IHSG berada di bawah Taiwan, Jepang, India, Korea Selatan, Vietnam, Singapura, dan Malaysia dari sisi PBV.
Valuasi yang rendah di tengah tekanan pasar
Dari sisi PER, IHSG juga terlihat lebih murah dibanding SETI Thailand dan Shanghai Composite China. PBV mengukur kapitalisasi pasar terhadap nilai buku ekuitas, sedangkan PER membandingkan kapitalisasi dengan total keuntungan seluruh emiten.
Perbandingan tersebut menempatkan pasar saham Indonesia dalam sorotan baru. Saat indeks tertekan, sebagian pelaku pasar justru melihat harga saham domestik sudah banyak mencerminkan sentimen negatif yang berkembang.
Bloomberg Technoz mencatat IHSG melemah hingga 30 persen sepanjang tahun 2026. Pada saat yang sama, rupiah juga terdepresiasi 7 persen secara point-to-point terhadap dolar Amerika Serikat hingga perdagangan siang, Jumat 12 Juni 2026.
Tekanan dari luar dan dalam negeri
Kombinasi pelemahan indeks dan rupiah menempatkan bursa saham Indonesia pada posisi terlemah sejak lima tahun terakhir. Kondisi itu tidak berdiri sendiri karena pasar juga menghadapi gejolak dari luar negeri dan dalam negeri.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kekhawatiran pelebaran defisit fiskal, serta pelemahan rupiah ikut membuat perdagangan saham domestik bergerak sangat volatil. Sentimen negatif dari Timur Tengah juga menekan sejumlah bursa utama Asia.
Di kawasan regional, beberapa indeks masuk zona merah secara year to date. Indeks yang ikut tertekan antara lain SENSEX di India, Hang Seng di Hong Kong, dan PSEI di Filipina.
Namun, tidak semua bursa Asia bergerak turun. Sejumlah indeks masih mencatatkan penguatan sepanjang tahun 2026, termasuk KOSPI Korea Selatan, TW Weighted Index Taiwan, NIKKEI 225 Jepang, SETI Thailand, Straits Times Singapura, Shanghai Composite China, Ho Chi Minh Stock Index Vietnam, dan KLCI Malaysia.
Risiko masih ada, tetapi harga dinilai sudah lebih dulu menyesuaikan
Sinarmas Sekuritas menilai posisi P/E bursa saat ini berada di kisaran 10 kali. Mereka menyebut level tersebut merepresentasikan area dua standar deviasi di bawah rata-rata pergerakan P/E lima tahunan.
Dalam riset terbarunya, Sinarmas Sekuritas menyampaikan bahwa sebagian besar risiko yang sudah diketahui pasar telah tercermin signifikan dalam harga saham. Dengan demikian, pelemahan harga tidak semata-mata menunjukkan kepanikan, tetapi juga proses penyesuaian terhadap sentimen yang memburuk.
Meski begitu, pemulihan IHSG tidak otomatis terjadi hanya karena valuasi murah. Akselerasi indeks masih memerlukan pendorong eksternal yang lebih kuat agar kepercayaan pelaku pasar kembali menguat.
Salah satu faktor yang dinilai penting adalah kepastian status Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets. Kejelasan itu diyakini dapat membantu meredam volatilitas dan memperkuat minat investasi.
Dalam kerangka itu, penurunan tajam IHSG mulai dipandang bukan hanya sebagai sinyal risiko, tetapi juga peluang masuk bagi investor dengan horizon jangka panjang di atas satu tahun. Dengan valuasi yang sudah tertekan dan sentimen yang banyak tercermin di harga, pasar Indonesia kini berada di titik yang layak dicermati lebih dekat.
