Ikan Sapu-Sapu Bukan Sekadar Hama, Ancaman Tersembunyi di Sungai dan Pangan

Ikan sapu-sapu kini dipandang sebagai ancaman yang lebih luas daripada sekadar ikan liar di perairan tawar. Jenis ini dapat memicu masalah kesehatan manusia sekaligus merusak keseimbangan sungai tempatnya berkembang biak.

Bahaya yang paling dikhawatirkan muncul ketika ikan ini masuk ke rantai makanan. Dagingnya dapat membawa kontaminasi dari lingkungan hidupnya yang kerap tercemar, sehingga risikonya tidak selalu terlihat dari bentuk fisik ikan.

Risiko pada kesehatan manusia

Guru Besar Bioteknologi Perikanan dan Kelautan Fakultas Pertanian UGM, Prof. Alim Isnansetyo, menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu bukan jenis ikan konsumsi. Ikan ini umumnya hidup di air tercemar, sehingga dagingnya berisiko tinggi mengandung logam berat.

Masalah itu menjadi perhatian karena ada dugaan sebagian penjual menyalahgunakan ikan sapu-sapu sebagai bahan siomay yang dijual di pinggir jalan. Persoalannya bukan hanya pada penggunaan ikan yang tidak lazim, melainkan juga pada kualitas air tempat ikan tersebut hidup.

Sebuah studi tahun 2024 yang dipublikasikan di Aquatic Invertebrates and Ecosystem Research meneliti ikan sapu-sapu di Bangladesh. Hasilnya menyebut ikan ini memiliki kandungan protein lebih tinggi daripada catfish lain di wilayah itu, tetapi juga mengandung logam berat, terutama seng atau Zn dan kadmium atau Cd, bahkan melampaui ambang batas yang diperbolehkan.

Jika ikan sapu-sapu dipakai sebagai pakan ikan, logam berat seperti zinc dan cadmium dapat berpindah ke tubuh ikan lain melalui makanan tersebut. Akibatnya, ikan yang tumbuh dari pakan semacam ini juga dapat berbahaya saat dikonsumsi manusia.

Menguasai habitat baru dengan cepat

Ikan sapu-sapu bukan spesies asli Indonesia. Ikan ini berasal dari Amerika Selatan dan hidup di sungai hutan Amazon, sehingga kehadirannya di perairan Indonesia membuatnya menjadi spesies asing.

Di habitat baru, ikan ini sering tidak memiliki predator alami yang mampu mengendalikan populasinya. Kondisi tersebut membuat jumlahnya bisa meningkat sangat cepat dan bersaing dengan spesies lokal untuk makanan serta ruang hidup.

Nafsu makannya besar. Ikan sapu-sapu memakan alga, tumbuhan air, kayu yang ada di perairan, lalu berkembang biak dengan cepat hingga dapat mendominasi suatu perairan.

Dominasi itu dapat mengubah keseimbangan ekosistem secara permanen. Dalam beberapa kasus, gerombolan ikan sapu-sapu bahkan dilaporkan berkerumun dan menempel pada tubuh manatee di Florida untuk memakan alga yang tumbuh di kulit hewan tersebut.

Merusak struktur sungai dari dalam

Ancaman ikan sapu-sapu juga terlihat dari perilakunya menggali lubang di tebing sungai untuk dijadikan sarang. San Antonio River Authority menyebut kebiasaan itu dapat memicu erosi, longsornya tepian sungai, serta meningkatnya sedimentasi.

Saat sedimentasi bertambah, perairan sungai menjadi lebih dangkal. Kondisi ini mengancam keberlangsungan hidup ikan lokal yang bergantung pada ruang air yang cukup.

Penggalian tersebut juga membuat air lebih keruh. Ketika air menjadi keruh, suhu air cenderung lebih hangat dan kandungan oksigen menurun, sehingga ikan lokal, kerang air tawar, dan serangga air semakin sulit bertahan hidup.

Dampak berantai bagi biota lain

Di perairan dengan sumber makanan terbatas, sebagian ikan sapu-sapu bahkan diketahui menempel pada ikan hidup yang sehat dan menggerogoti tubuhnya. Perilaku ini menunjukkan gangguan yang ditimbulkan tidak hanya pada habitat, tetapi juga langsung pada organisme lain di dalamnya.

Karena mampu beradaptasi dengan oksigen terbatas dan berkembang biak cepat, ikan sapu-sapu menjadi salah satu spesies yang sulit dikendalikan setelah menyebar. Saat populasinya naik tanpa hambatan, tekanan terhadap ikan lokal ikut meningkat dan keseimbangan ekosistem makin rentan terganggu.

Source: www.beautynesia.id

Berita Terkait