Xbox mulai mendorong iklan di dalam game sebagai salah satu jalan untuk menekan biaya masuk ke dunia gaming. Matthew Ball, chief strategy officer Xbox, menilai model ini bisa membuat game di konsol maupun PC lebih terjangkau bagi lebih banyak pemain.
Pandangan itu muncul saat industri game menghadapi tekanan dari dua sisi sekaligus. Biaya pengembangan terus naik, sementara pemain juga kian sensitif terhadap harga hardware, software, dan microtransactions.
Tekanan biaya membuat model baru dicari
Ball menilai persoalan utama tidak hanya berkaitan dengan pendapatan studio, tetapi juga akses bagi pemain. Ia menegaskan bahwa kenaikan biaya produksi dan sentimen negatif terhadap harga yang lebih tinggi membuat industri perlu membuka opsi lain selain menjual game lebih mahal.
Dalam diskusi di The Game Business Live pada 8 Juni, ia menyebut iklan yang ditempatkan dengan cermat bisa membuka pintu bagi orang yang sebelumnya tidak mampu, atau tidak tertarik, untuk mencoba sebuah properti dan waralaba game. Menurutnya, inti persoalannya adalah memberi lebih banyak cara masuk tanpa menghapus opsi premium yang sudah ada.
Masih dianggap peluang besar oleh Xbox
Ball sebelumnya juga menulis dalam laporan “State of Video Gaming in 2026” bahwa penempatan iklan di game konsol dan PC masih menjadi sumber pendapatan yang belum dimanfaatkan secara optimal. Ia berpendapat industri game perlu mengadopsinya karena penjualan tradisional dan pertumbuhan pendapatan cenderung melemah dari waktu ke waktu.
Sikap itu tetap ia bawa setelah menjabat sebagai chief strategy officer Xbox sejak akhir Mei 2026. Kini ia melapor langsung kepada CEO baru Xbox, Asha Sharma, tetapi pandangannya soal iklan dalam game tidak berubah.
Ball bahkan membandingkannya dengan dunia streaming untuk memperjelas logikanya. Menurutnya, model berlangganan dengan iklan membuktikan bahwa akses yang lebih murah bisa tumbuh besar tanpa mematikan layanan premium.
Ia mengatakan bahwa lebih dari 100% net adds di Amerika Serikat selama bertahun-tahun berasal dari tier yang didukung iklan. Namun, layanan tanpa iklan tetap ada dan tetap populer, sehingga kehadiran tier murah tidak menghapus produk premium.
Bukan untuk memenuhi semua game dengan iklan
Ball menolak gagasan bahwa semua game harus dipenuhi iklan. Ia lebih melihatnya sebagai soal penempatan yang tepat agar pemain mendapat pilihan lebih banyak, bukan beban tambahan yang merusak pengalaman bermain.
Pendekatan itu sejalan dengan contoh pemasaran yang pernah dilakukan Techland saat mempromosikan Dying Light: The Beast. Saat itu, billboard untuk sekuel utama muncul di Dying Light 2: Stay Human, meski respons terhadap jenis penempatan seperti ini tetap terbagi.
Sebagian pemain menilai hal itu imersif dan selaras dengan dunia game, sementara yang lain justru tidak menyukainya. Reaksi yang berbeda itu memperlihatkan bahwa iklan di dalam game masih menjadi wilayah sensitif, terutama jika dianggap mengganggu pengalaman bermain.
Ball menempatkan ide ini sebagai jawaban atas industri yang sedang tertekan. Di satu sisi, biaya pengembangan sudah terlalu tinggi; di sisi lain, pemain juga tidak menyukai kenaikan harga pada hardware, software, maupun microtransactions.
Karena itu, ia menilai model bisnis baru perlu dibuka agar game bisa menjangkau audiens yang lebih luas. Dalam pandangannya, iklan yang ditempatkan dengan bijak bisa membantu menyeimbangkan kebutuhan pendapatan penerbit dan kemampuan belanja pemain.
Pernyataan Ball menunjukkan bahwa Xbox melihat iklan dalam game bukan sekadar eksperimen pemasaran. Di tengah pencarian cara agar gaming tetap terjangkau, ide itu mulai diposisikan sebagai salah satu opsi yang serius untuk masa depan industri.
Source: www.notebookcheck.net






