Implan Otak Ini Baca Sinyal Glioblastoma, Tiga Pasien Sudah Dipasangi di Melbourne

Tiga pasien di Royal Melbourne Hospital sudah menerima implan otak nirkabel yang dirancang untuk membaca aktivitas listrik glioblastoma secara langsung selama operasi tumor. Perangkat bernama SOMA itu dipasang sementara dan baru dipakai sebagai langkah awal untuk menilai keamanan, bukan sebagai terapi yang sudah terbukti bekerja.

Langkah ini menarik perhatian karena glioblastoma dikenal sebagai salah satu kanker otak paling mematikan. Sebagian besar pasien hanya bertahan sekitar 18 bulan, sementara tumor dapat terus berkembang di sela jadwal MRI yang biasanya dilakukan berkala.

SOMA menempatkan kanker otak sebagai persoalan listrik

Coherence Neuro, startup asal San Francisco, mendorong pendekatan yang tidak lazim dengan melihat tumor otak sebagai gangguan elektris. CEO Ben Woodington mengatakan kepada Wired bahwa tumor otak adalah “electrical conditions” seperti epilepsi dan depresi, sehingga perlu dipahami sebagai masalah jaringan di otak.

Pandangan itu juga didukung oleh temuan ilmiah. Peneliti Stanford pada 2019 menunjukkan bahwa glioma tingkat tinggi membentuk sinaps nyata dengan neuron, sehingga tumor dapat membajak jaringan otak seperti паразit yang menempel ke sistem listrik.

Cara kerja implan dan pemantauannya

Implan SOMA berukuran seperti koin, bersifat nirkabel, dan ditanam dengan microwire yang sangat tipis. Sistem ini dirancang untuk membaca “sidik jari” listrik tumor, lalu menerjemahkannya dengan AI sebelum mengirim stimulasi yang ditargetkan untuk mengganggu aktivitas kanker.

Perangkat ini juga dipasangkan dengan wearable di atas telinga untuk daya, serta aplikasi bagi klinisi untuk pemantauan langsung. Coherence Neuro menyebut implan tersebut transparan terhadap MRI, sehingga masih bisa digunakan bersama pemindaian lanjutan yang umum dipakai dokter.

Uji awal masih sangat terbatas

Uji di Royal Melbourne Hospital menjadi pertama kalinya sebuah brain-computer interface diuji secara eksplisit untuk mendeteksi dan menekan kanker, bukan untuk memulihkan gerakan atau komunikasi. Tiga pasien menerima implan intraoperatif sementara, dan pemasangan jangka panjang baru akan dipertimbangkan pada fase berikutnya jika data keamanan mendukung.

Implan yang dipasang saat ini hanya bertahan sekitar 30 menit. Artinya, fungsi utamanya masih sebatas pemeriksaan keamanan dan pengumpulan data awal.

Persaingan dengan terapi listrik yang sudah lebih dulu hadir

SOMA bukan satu-satunya pendekatan listrik untuk glioblastoma. Novocure sudah menjual Optune, yang menyalurkan tumor-treating fields lewat patch perekat di kulit kepala dan dapat memperpanjang kelangsungan hidup pasien selama beberapa bulan.

Perbedaannya ada pada bentuk penggunaan. Pasien Optune harus mencukur kepala, memakai array yang mencolok, dan membawa baterai backpack, sedangkan SOMA ingin menempatkan terapi langsung di lokasi tumor di dalam tengkorak tanpa perangkat luar yang mencolok.

Profesor Kate Drummond dari Royal Melbourne Hospital menyebut uji ini memberi “unprecedented insights” untuk mengevaluasi perlakuan pada jaringan otak. Meski demikian, pemasangan permanen masih harus menunggu fase uji berikutnya.

Risiko medis, ilmiah, dan etika masih besar

Optimisme terhadap pendekatan ini berjalan berdampingan dengan banyak keraguan. Glioblastoma sangat heterogen, sehingga satu pendekatan bioelektrik belum tentu efektif untuk semua pasien, dan mekanisme terapinya juga belum terbukti dalam skala besar.

Implan invasif selalu membawa risiko medis. Di sisi lain, para ahli neuro-onkologi juga menyorot soal data saraf yang terus-menerus terekam, dikirim secara nirkabel, dan dikelola oleh startup yang masih bertumpu pada pendanaan awal.

Karena itu, keamanan siber dan tata kelola data menjadi syarat dasar sebelum teknologi seperti ini bisa melangkah lebih jauh. Coherence Neuro disebut telah mengumpulkan sekitar 10 juta dolar AS dalam pendanaan awal, sementara persetujuan FDA masih diperkirakan butuh waktu bertahun-tahun.

Hasil uji awal di Melbourne akan sangat menentukan apakah bioelectric oncology benar-benar menjadi kategori baru dalam penanganan kanker otak, atau hanya menjadi satu lagi teknologi implantable yang menjanjikan tetapi berhenti di tengah jalan.

Berita Terkait