Indonesia Cuma Punya 90 Menit Berlatih Di Horsens, Adaptasi Thomas dan Uber Harus Kilat

Waktu latihan yang sangat terbatas langsung menjadi tantangan utama tim bulu tangkis Indonesia saat tiba di Forum Horsens, Horsens. Dari jatah yang tersedia, skuad Merah Putih hanya mendapat 60 menit di lapangan tiga dan 30 menit di lapangan dua untuk mulai membaca karakter arena jelang Piala Thomas dan Uber 2026.

Kondisi itu membuat setiap detik latihan terasa penting. Pemain tidak hanya diminta mengembalikan sentuhan permainan, tetapi juga cepat menyesuaikan diri dengan kecepatan shuttlecock, pencahayaan, serta suasana lapangan yang akan dipakai bertanding.

Adaptasi jadi pekerjaan paling awal

Latihan perdana di venue tersebut berlangsung pada Rabu 22 April 2026. Sesi ini menjadi momen awal bagi tim Indonesia untuk mengenali detail lapangan sebelum pertandingan dimulai, meski durasi yang diberikan terbilang pendek.

Rachel Allessya Rose menilai kesempatan yang singkat itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Ia menyebut fokus latihan lebih banyak diarahkan untuk memahami kondisi arena ketimbang mengejar volume latihan.

“Hari ini coba lapangannya hanya sebentar, kami dapat 20 menit dan lebih memperhatikan kondisi lapangan seperti apa. Bolanya agak kencang, ini yang harus disesuaikan,” ujar Rachel Allessya Rose.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa penyesuaian terhadap laju bola menjadi salah satu hal yang segera dikejar. Dalam pertandingan beregu, detail seperti ini bisa menentukan kualitas kontrol pukulan dan respons pemain di lapangan.

Arena dinilai nyaman, tetapi tetap menuntut ketelitian

Febi Setianingrum, yang berpasangan dengan Rachel, melihat kondisi forum pertandingan cukup nyaman untuk dimainkan. Ia menyebut lapangan tidak silau dan hembusan angin juga tidak terlalu mengganggu selama sesi latihan berlangsung.

“Dari lapangan normal saja, tidak silau dan angin juga tidak terlalu ada,” kata Febi Setianingrum.

Meski begitu, kenyamanan arena tidak otomatis membuat proses adaptasi menjadi ringan. Justru karena kondisi lapangan tampak bersahabat, pemain tetap harus teliti membaca detail kecil agar tidak salah mengantisipasi ritme pertandingan.

Ukuran venue yang tidak terlalu besar juga memberi warna tersendiri. Dengan kapasitas sekitar 4.000 penonton dan tiga lapangan yang tersedia, suasana diperkirakan menjadi lebih rapat dan hidup saat pertandingan berlangsung.

Suporter diyakini bisa memberi dorongan lebih kuat

Rachel dan Febi sama-sama menyoroti potensi atmosfer penonton di venue yang relatif kecil. Mereka melihat dukungan suporter bisa terdengar lebih jelas dan memberi tambahan semangat bagi pemain di lapangan.

“Arenanya kecil tapi ini bisa membuat dukungan dari suporter bisa lebih terdengar. Bisa lebih membakar semangat,” ujar Rachel.

Kondisi seperti ini membuat pemain tidak hanya fokus pada lawan, tetapi juga pada energi dari tribun. Dalam situasi yang terasa lebih dekat dengan penonton, ritme pertandingan bisa ikut terbawa lebih intens.

Pengalaman berbeda Rachel dan Febi di Uber Cup

Di sektor putri, Rachel akan menjalani penampilan keduanya di Piala Uber. Sementara itu, Febi bakal mencatat debutnya pada turnamen beregu putri paling bergengsi tersebut.

Rachel menilai pengalaman Febi di ajang beregu lain akan membantu adaptasi tim. Ia juga menegaskan bahwa target tim tetap diarahkan untuk tampil lebih baik dari pencapaian sebelumnya.

“Walau Febi pertama kali akan main di Piala Uber tapi dia bukan pertama kali ikut di ajang beregu. Jadi pasti sudah tahu rasanya dan kami pastinya ingin lebih baik dari sebelumnya-sebelumnya,” ucap Rachel.

Febi sendiri mengaku merasakan campuran senang dan tegang menjelang debutnya. Namun, kekompakan tim membuat rasa percaya dirinya tetap terjaga.

“Senang dan excited bisa gabung di tim Uber. Pasti ada tegang karena ini debut saya tapi kekompakan tim membuat saya lebih yakin,” terang Febi.

Ginting cepat menemukan ritme di sektor putra

Dari tim putra, Anthony Sinisuka Ginting juga langsung memanfaatkan sesi awal di Forum Horsens untuk menemukan tempo permainan. Ia mengaku tidak menemui kendala berarti meski waktu latihan yang tersedia tidak panjang.

“Sejauh ini sih ok saja semua, tadi juga latihan dapat ritmenya meskipun hanya sedikit waktu,” kata Ginting.

Ia juga melihat kondisi arena di Horsens tidak asing bagi pemain Indonesia. Menurut Ginting, ukuran venue yang tidak terlalu besar mengingatkan pada pengalaman tim Indonesia di ajang beregu sebelumnya.

“Karena waktu 2021 juga Sudirman dan Thomas Uber, arenanya tidak begitu besar. Tidak seperti kalau turnamen-turnamen di Asia jadi ya ok saja semua,” ujarnya.

Dengan modal waktu yang sempit, Indonesia kini harus bergerak cepat dalam menyiapkan aspek teknis dan mental. Penyesuaian terhadap shuttlecock, arena, pencahayaan, serta ritme permainan menjadi bagian penting agar skuad Merah Putih siap menghadapi Piala Thomas dan Uber 2026 di Horsens.

Source: www.viva.co.id

Berita Terkait