Indonesia Jadi Fokus Ekspansi Commvault, Tim Lokal Dan Mitra Akan Diperbesar

Commvault melihat resiliensi siber sebagai kebutuhan yang semakin mendesak di Indonesia, terutama ketika banyak organisasi masih bergantung pada perangkat keamanan yang terpisah-pisah. Perusahaan ini menilai pendekatan yang terfragmentasi antara perlindungan data, keamanan identitas, dan pemulihan membuat koordinasi sulit dan visibilitas menjadi terbatas.

Dorongan itu datang di tengah ancaman siber yang terus berkembang dan kian rumit dengan bantuan AI. Martin Creighan, Vice President Asia Pacific Commvault, menyebut tantangan pemulihan bisa langsung memengaruhi pendapatan dan reputasi perusahaan.

Di sisi lain, ekspektasi pemimpin perusahaan terhadap pemulihan bisnis ternyata masih jauh dari kondisi ideal. Banyak yang berharap sistem dapat kembali normal dalam waktu maksimal 7 hari, tetapi rata-rata pemulihan justru mencapai 48 hari.

Untuk menjawab situasi tersebut, Commvault mendorong pendekatan yang tidak hanya berfokus pada perlindungan, tetapi juga memastikan organisasi bisa pulih dan tetap beroperasi. Martin menegaskan bahwa ketahanan saat ini harus mencakup kepastian pemulihan dan keberlanjutan bisnis dalam kondisi apa pun.

Sebagai bagian dari strategi itu, Commvault memperkenalkan platform Commvault Cloud Unity. Platform ini menggabungkan perlindungan data, pemulihan siber, ketahanan identitas, dan arsitektur cloud-native dalam satu ekosistem terpadu.

Dengan dukungan AI, platform tersebut dapat menemukan workload, mengklasifikasikan data, dan merekomendasikan kebijakan perlindungan secara otomatis. Commvault menilai penggabungan tata kelola, perlindungan, dan pemulihan dalam satu sistem akan memberi kendali respons yang lebih lengkap bagi organisasi.

Perhatian Commvault ke Indonesia juga tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari strategi yang lebih luas di Asia Pasifik. Martin menyebut platform perusahaan tumbuh cepat di kawasan ini, dan Indonesia menjadi geografi penting karena menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan bagi bisnis Commvault.

Meski belum membeberkan angka pencapaian spesifik di Indonesia, perusahaan memastikan ekspansi tetap berjalan. Fokus utamanya adalah menambah sumber daya manusia di dalam negeri sekaligus memperluas jejaring mitra yang menjadi bagian dari ekosistemnya.

“Kami mengembangkan tim kami di Indonesia dan lebih penting, kami juga mengembangkan ekosistem partner-partner yang kami bekerja dengan mereka,” ujar Martin di Jakarta, Kamis (7/5/2026). Pernyataan itu menegaskan bahwa langkah Commvault di Indonesia tidak berhenti pada penjualan produk, tetapi juga pada penguatan kehadiran operasional.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia diposisikan sebagai pasar dengan potensi pertumbuhan jangka panjang. Dengan memperdalam organisasi lokal dan memperluas kemitraan, Commvault ingin lebih dekat dengan kebutuhan pelanggan dan mitra teknologi di Tanah Air.

Di level global, pertumbuhan Asia Pasifik ikut menopang target bisnis Commvault. Perusahaan mematok pendapatan tahunan mencapai US$1,18 miliar, naik 19% dari tahun sebelumnya, sementara annual recurring revenue atau ARR ditargetkan menyentuh US$1,12 miliar.

Target itu dilengkapi dengan laba operasional tahunan atau EBIT sebesar US$74 juta dengan margin operasi 6,3%. Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa ekspansi pasar dan penguatan portofolio tetap menjadi tumpuan utama perusahaan untuk menjaga momentum pertumbuhan.

Untuk menggenjot strategi tersebut, Commvault juga memperluas kolaborasi dengan sejumlah pemain teknologi global. Salah satunya adalah integrasi dengan Microsoft Security untuk menghubungkan deteksi ancaman dengan sistem pemulihan data tepercaya secara lebih efisien.

Perusahaan itu juga memperluas integrasi dengan CrowdStrike melalui CrowdStrike Falcon Next-Gen SIEM. Di sisi infrastruktur, Commvault menjalin aliansi strategis dengan NetApp guna menghadirkan solusi terpadu bagi perlindungan data perusahaan dan ketahanan siber.

Selain lewat kemitraan, Commvault turut mendorong inovasi melalui akuisisi Satori, perusahaan keamanan data berbasis kecerdasan buatan atau AI. Akuisisi tersebut memperluas cakupan ketahanan perusahaan ke data terstruktur dan data berbasis AI.

Field CTO Security APAC Commvault, Gareth Russell, menambahkan bahwa visibilitas terhadap data yang bersih dan tepercaya menjadi kunci dalam proses pemulihan. Ia juga menilai perluasan penggunaan AI akan menambah kompleksitas pada data, akses, dan lingkungan kerja organisasi.

Source: teknologi.bisnis.com

Berita Terkait