Indosat Ooredoo Hutchison kini tidak lagi memegang kendali penuh atas aset fiber optiknya, tetapi tetap mempertahankan posisi strategis di bisnis itu. Melalui transaksi dengan Arsari Group, Indosat bersama PT Aplikanusa Lintasarta masih memegang 49,9% saham di PT Infra Fiber Teknologi (IFT).
Perubahan struktur ini menandai langkah besar dalam pengelolaan jaringan telekomunikasi skala besar di Indonesia. Dari transaksi tersebut, Indosat Group juga memperoleh dana bruto sekitar Rp11,7 triliun yang akan diarahkan untuk memperkuat bisnis inti.
Aset jaringan 86.000 kilometer masuk ke platform baru
IFT dibentuk untuk mengelola jaringan fiber sepanjang 86.000 kilometer yang mencakup backbone, kabel bawah laut domestik, dan jaringan akses. Jaringan itu tersebar sekitar 45% di Pulau Jawa dan 55% di luar Jawa, sehingga posisi IFT dinilai penting dalam pemerataan konektivitas digital.
Entitas baru ini juga disiapkan untuk memperluas kemitraan wholesale dengan operator telekomunikasi, perusahaan, hyperscaler, dan penyedia layanan digital. Dengan model tersebut, aset infrastruktur yang sebelumnya berada di bawah naungan Indosat diposisikan sebagai fondasi layanan konektivitas yang lebih luas.
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Panjang jaringan | 86.000 kilometer |
| Cakupan jaringan | Backbone, kabel bawah laut domestik, dan jaringan akses |
| Komposisi wilayah | 45% di Pulau Jawa, 55% di luar Jawa |
| Kepemilikan pascatransaksi | Indosat dan PT Aplikanusa Lintasarta bersama-sama memegang 49,9% saham di NFT |
| Dana bruto yang diperoleh Indosat Group | Sekitar Rp11,7 triliun |
Dana untuk 5G, konektivitas, dan layanan digital
Vikram Sinha, President Director and Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Hutchison, menegaskan tujuan perusahaan tidak berubah meski aset fiber dialihkan ke platform baru. Dalam keterangan tertulis yang dikutip CNBC Indonesia, ia mengatakan, “Tujuan utama kami untuk memberdayakan seluruh masyarakat Indonesia melalui teknologi tidak pernah berubah. Kehadiran IFT merupakan perwujudan dari komitmen tersebut.”
Indosat Group menyebut dana hasil transaksi akan dipakai untuk memperkuat investasi pada bisnis inti, termasuk pengembangan konektivitas, percepatan implementasi jaringan 5G, dan pengembangan layanan digital di era kecerdasan artifisial atau AI. Langkah ini menunjukkan perusahaan memilih memonetisasi aset sekaligus menjaga kepemilikan jangka panjang di sektor infrastruktur.
Mandat IFT menjangkau area yang belum terlayani
Presiden Direktur PT Infra Fiber Teknologi, Hendry Syam, menyampaikan bahwa mandat perusahaan tidak berhenti pada wilayah yang sudah terkoneksi dengan baik. Ia menekankan IFT juga diarahkan untuk membangun infrastruktur di daerah yang selama ini belum terlayani optimal.
“Mandat kami jauh lebih besar dari itu. Kami membangun infrastruktur yang menjangkau daerah-daerah yang selama ini belum terlayani secara optimal, menghadirkan akses terhadap layanan yang tepercaya dan andal bagi masyarakat, sekaligus memberdayakan pelaku usaha yang menjadi penggerak perekonomian Indonesia di seluruh nusantara,” ujarnya.
Dengan komposisi jaringan yang lebih besar di luar Jawa, IFT ditempatkan untuk mendukung konektivitas yang lebih inklusif. Fokus itu juga membuat perusahaan berpeluang menjadi penggerak pemerataan layanan digital di wilayah yang selama ini minim infrastruktur.
Fokus ke kebutuhan kapasitas tinggi
Selain memperluas kemitraan wholesale, IFT juga menargetkan pembangunan kapabilitas operasional untuk memenuhi kebutuhan konektivitas berkapasitas tinggi. Arah pengembangan ini disiapkan agar jaringan yang dikelola mampu mengikuti kebutuhan AI yang terus berkembang di Indonesia.
Masuknya Arsari Group melalui PT Nusantara Fiber Teknologi sebagai platform investasi baru mengubah peta pengelolaan aset fiber Indosat. Namun, kehadiran Indosat di IFT tetap signifikan karena kepemilikan 49,9% saham memberi perusahaan ruang untuk tetap terlibat dalam arah strategis bisnis tersebut.
Source: www.cnbcindonesia.com






