Indra Sjafri Ingatkan Anak Bola, Menang Saja Tak Cukup untuk Jadi Profesional

Pelatih tim nasional Indra Sjafri menegaskan bahwa kemenangan bukan tujuan akhir dalam pembinaan pemain muda. Anak yang bercita-cita menjadi pesepak bola profesional juga perlu dibentuk menjadi pribadi disiplin, sportif, dan bertanggung jawab.

Pesan itu disampaikan Indra dalam McDonald’s Football Clinic yang melibatkan 200 anak berusia 8-12 tahun. Menurutnya, kemampuan bermain harus tumbuh sejalan dengan karakter agar anak dapat menjalani proses pembinaan secara sehat.

Karakter Menjadi Dasar Pembinaan

Indra menilai jiwa kompetitif memang penting bagi pesepak bola, tetapi cara meraih kemenangan tidak boleh mengabaikan nilai-nilai olahraga. Anak perlu dibiasakan menghormati lawan, bekerja sama dengan rekan satu tim, serta menerima hasil pertandingan dengan sikap yang baik.

“Dalam olahraga memang harus ada jiwa kompetitif, tetapi menang bukanlah tujuan akhir. Setiap kemenangan harus diraih dengan cara-cara yang baik,” tegas Indra.

Pembentukan karakter tersebut tidak hanya berlaku ketika anak berada di lapangan. Nilai disiplin, sportivitas, rasa hormat, dan tanggung jawab juga dinilai penting untuk kehidupan sehari-hari.

Perhatian terhadap pembinaan olahraga usia dini menjadi relevan karena minat anak muda pada olahraga lapangan cukup tinggi. Survei Populix pada Maret 2026 mencatat 90 persen Gen Z dan Milenial tertarik pada olahraga berbasis lapangan, dengan sepak bola termasuk yang paling diminati.

Dukungan Rumah Tidak Bisa Dipisahkan

Indra turut berdialog dengan orang tua peserta mengenai peran keluarga dalam perjalanan anak. Pembinaan tidak berhenti setelah sesi latihan selesai karena lingkungan rumah ikut memengaruhi kepercayaan diri dan kebiasaan anak.

Orang tua didorong memberi motivasi yang konsisten tanpa menjadikan hasil pertandingan sebagai satu-satunya ukuran. Dukungan juga dibutuhkan saat anak menghadapi kegagalan, tantangan latihan, atau perkembangan kemampuan yang belum sesuai harapan.

Peran orang tua menjadi penting agar anak mampu menjaga semangat berlatih tanpa kehilangan rasa senang saat bermain sepak bola. Pendampingan yang tepat juga membantu anak memahami bahwa kemajuan membutuhkan waktu.

Mantan pemain Persib Bandung, Atep, membagikan pengalaman tentang keterbatasan fasilitas yang tidak seharusnya mematikan mimpi. Ia memulai perjalanan dari kota kecil dengan akses terbatas, lalu menjaga tekad untuk terus mengejar karier sebagai pemain profesional.

“Tidak ada proses yang instan, setiap kesuksesan dibangun dari disiplin berlatih, kemauan untuk terus belajar, dan tidak lupa beribadah.”

Teknik Dilatih Secara Bertahap

Selain pembentukan karakter, peserta menjalani latihan teknis melalui sistem rotasi selama 70 menit dengan pendampingan intensif. Metode ini digunakan karena tahapan perkembangan setiap anak tidak selalu sama.

Indra menjelaskan bahwa perpindahan antarzona latihan memberi ruang bagi anak untuk memperbaiki kemampuan secara bertahap. Peserta juga belajar berkoordinasi dan mengambil keputusan dalam situasi permainan.

Materi LatihanFokus Pembelajaran
PassingMengembangkan kemampuan mengoper bola
Small-Sided Games dan shootingMelatih permainan kecil serta penyelesaian peluang
ShieldingMelindungi bola saat menghadapi lawan

Materi tersebut memperlihatkan bahwa pembinaan sepak bola usia dini tidak hanya menekankan kemampuan menggiring atau menendang bola. Anak juga perlu memahami cara bermain efektif bersama tim dalam berbagai situasi di lapangan.

Program ini turut membuka akses gratis bagi 40 anak dari komunitas prasejahtera. Mereka mendapat kesempatan berlatih, jersey, dan sepatu baru sebagai bagian dari kegiatan tersebut.

McDonald’s Football Clinic digelar dalam kampanye FIFA World Cup Goes to McDonald’s sekaligus perayaan 35 tahun McDonald’s Indonesia. Kegiatan sebelumnya berlangsung di Jakarta bersama Rio Fahmi, kemudian berlanjut di Bandung dengan keterlibatan Atep.

Salah satu peserta, Purnama, kapten SSB Youth Aurasic Bandung, rutin berlatih sejak usia delapan tahun di lapangan sederhana di samping warung makan orang tuanya. Ayahnya, Heri Mulyana, menilai kesempatan berlatih bersama Indra Sjafri membuat putranya semakin yakin bahwa kerja keras dan disiplin dapat membuka jalan menuju mimpi.

Source: www.suara.com
Berita Terkait