Inflasi Tembus 3,08 Persen, Rupiah Lemah dan Pangan Mulai Menekan Biaya Hidup

Inflasi tahunan Indonesia pada Mei melonjak ke 3,08 persen dari 2,42 persen pada April. Kenaikan ini menandakan tekanan harga mulai terasa lebih luas, terutama dari pangan, energi, dan pelemahan rupiah.

Di sisi lain, inflasi inti juga naik dari 1,34 persen menjadi 1,61 persen secara tahunan. Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan harga tidak hanya datang dari bahan pangan, tetapi juga merambat ke komponen biaya lain dalam perekonomian.

Rupiah yang melemah menambah beban industri

Pada awal Juni, rupiah melemah 2,2 persen hingga menembus level Rp18.000 per dolar AS. Kondisi ini membuat biaya input industri manufaktur tetap tertekan, meski harga komoditas global cenderung melandai.

Perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor menjadi kelompok yang paling rentan menghadapi kenaikan ongkos produksi. Salah satu dampak yang sudah terlihat adalah penyesuaian harga tepung oleh Bogasari sebesar 2 persen untuk menutup mahalnya biaya pengadaan bahan baku.

Pangan dan BBM ikut mendorong tekanan biaya

BNI Sekuritas menilai inflasi pangan masih berpotensi bertahan tinggi hingga Juni. Mayoritas komoditas pangan utama masih menunjukkan tren kenaikan secara bulanan sehingga beban belanja rumah tangga belum benar-benar mereda.

Pada sektor energi, pemerintah juga menyesuaikan harga bahan bakar minyak nonsubsidi. Harga Pertamax dan Pertamax Turbo masing-masing naik 32 persen dan 4 persen, sementara harga BBM bersubsidi tetap stabil.

Harga Dex dan Dexlite justru mengalami penurunan, sehingga dampak kebijakan energi tidak seragam untuk semua jenis bahan bakar. Meski begitu, perubahan pada BBM nonsubsidi tetap penting karena dapat memengaruhi struktur biaya pada pelaku usaha dan konsumen tertentu.

Daya beli belum runtuh, sektor konsumer masih bertahan

Tekanan inflasi dan biaya input dapat mendorong penyesuaian harga barang di tingkat konsumen jika berlanjut. Namun, inflasi inti yang ikut naik juga memberi sinyal bahwa permintaan domestik masih bergerak, meski lingkungan harga tidak nyaman bagi sebagian rumah tangga.

BNI Sekuritas mencatat sejumlah emiten konsumer masih menunjukkan fundamental yang kokoh, terutama PT Mayora Indah Tbk (MYOR) dan PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY). Aktivitas belanja ritel juga meningkat setelah periode libur panjang berakhir.

Sepanjang Mei, sektor consumer staples naik 2 persen month-on-month dan sektor retailer menguat 3 persen month-on-month. Performa tersebut berlawanan dengan Indeks Harga Saham Gabungan yang justru turun 12 persen month-on-month pada periode yang sama.

Pandangan analis tetap hati-hati

Untuk jangka pendek tiga bulan, BNI Sekuritas mempertahankan rating Neutral pada sektor konsumer. Sikap ini muncul karena margin laba masih terancam oleh pelemahan rupiah dan kenaikan biaya input.

Namun untuk jangka panjang 12 bulan, BNI Sekuritas tetap memberi rating Overweight. Alasannya adalah daya beli masyarakat yang dinilai masih kuat serta valuasi saham konsumer yang dianggap atraktif.

Dalam pilihan saham, BNI Sekuritas lebih menyukai consumer staples dibanding sektor discretionary. Saham yang masuk daftar pilihan adalah CMRY dan AMRT untuk sektor staples, serta MAPI dan MAPA untuk sektor retailer.

Tekanan inflasi yang naik ke 3,08 persen memperlihatkan bahwa harga pangan, energi, dan nilai tukar masih menjadi faktor utama yang perlu dicermati pasar. Di tengah tekanan itu, sektor konsumer tetap menunjukkan ketahanan yang relatif baik karena masih ditopang permintaan domestik dan aktivitas belanja yang belum benar-benar melemah.

Source: www.suara.com

Berita Terkait