Skor 91 persen yang diraih PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney dalam sertifikasi Great Place to Work Trust Index 2026 menjadi penanda kuat bahwa perubahan di dalam perusahaan ini bergerak ke arah yang positif. Angka tersebut lahir dari survei yang melibatkan 6.394 responden dan mengukur tiga aspek utama, yakni Trust, Pride, dan Camaraderie.
Hasil itu menempatkan InJourney sebagai perusahaan dengan lingkungan kerja yang dinilai solid, dipercaya karyawannya, dan mampu menjaga rasa bangga serta kebersamaan di internal organisasi. Dalam konteks transformasi BUMN, capaian ini memberi gambaran bahwa pembenahan yang dilakukan tidak berhenti di tataran proses, tetapi juga terasa pada pengalaman kerja pegawai.
Budaya kerja yang dibangun dari pengalaman harian
Skor tinggi tersebut juga tercermin dari jawaban karyawan dalam survei. Sebanyak 91 persen pegawai menyatakan pekerjaannya memiliki makna mendalam, sedangkan 90 persen mengaku bangga menjadi bagian dari InJourney Group.
Di sisi lain, 93 persen responden merasa diterima dengan baik sejak hari pertama bekerja. Temuan ini menunjukkan bahwa suasana kerja di InJourney tidak hanya dibentuk lewat kebijakan di atas kertas, tetapi juga melalui pengalaman langsung yang dirasakan pegawai ketika masuk ke lingkungan perusahaan.
Untuk menjaga kualitas hubungan kerja, InJourney menerapkan Respectful Workplace Policy. Kebijakan ini dipakai untuk membangun ruang kerja yang aman, sehat, dan bebas diskriminasi di seluruh entitas grup.
Perusahaan juga menyiapkan Employee Well Being Program. Program ini menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan fisik dan mental pegawai, sehingga perhatian perusahaan tidak hanya tertuju pada target produktivitas.
Transformasi yang menempatkan manusia di pusat perubahan
Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menegaskan bahwa pengembangan ekosistem aviasi dan pariwisata sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia. Ia menyatakan insan InJourney diharapkan tidak hanya bekerja untuk kebutuhan saat ini, tetapi juga ikut membangun fondasi pariwisata Indonesia yang lebih kuat dan berdaya saing global.
Arah tersebut memperlihatkan bahwa transformasi di InJourney tidak dipandang sebagai perubahan organisasi semata. Perusahaan justru menempatkan SDM sebagai pusat penggerak agar budaya kerja yang inklusif, kolaboratif, dan berbasis gotong royong bisa terus berkembang.
Pembinaan talenta menjadi investasi jangka panjang
Dari sisi pengembangan SDM, Direktur SDM dan Digital InJourney, Herdy Harman, menilai daya saing perusahaan sangat ditentukan oleh kualitas talenta. Atas dasar itu, InJourney membangun ekosistem pembelajaran yang mengacu pada praktik terbaik global, kolaborasi internasional, dan pengalaman langsung di lapangan.
Langkah tersebut terlihat melalui InJourney Future Leader Programs yang dirancang untuk memperkuat regenerasi kepemimpinan di dalam perusahaan. Program ini menjadi salah satu instrumen penting agar talenta di tubuh InJourney siap mengambil peran lebih besar pada masa mendatang.
InJourney juga menjalin kerja sama strategis untuk memperluas akses pembelajaran. Salah satunya adalah GM Airport Academy bersama Incheon International Airport, yang memberi bekal pola pikir CEO kepada general manager bandara.
Pelayanan ikut diperkuat lewat pelatihan berjenjang
Meski baru berusia empat tahun, InJourney telah menjadikan budaya Melayani Sepenuh Hati dan orientasi pelanggan sebagai kompetensi inti. Prinsip itu kemudian diterjemahkan ke berbagai pelatihan layanan untuk memperkuat standar operasional di lapangan.
Pada 2025, InJourney menjalankan Indonesian Hospitality Training secara nasional untuk lebih dari 8.000 karyawan lini depan. Pelatihan ini diarahkan agar pelayanan yang diberikan memenuhi standar internasional tanpa meninggalkan keramahan khas Indonesia.
Hingga kini, lebih dari 10.000 karyawan telah mengikuti pelatihan intensif tentang keunggulan layanan. Selain itu, platform LinkedIn Learning menjangkau 45.000 pegawai untuk mendukung pembelajaran mandiri secara lebih luas.
Dukungan peningkatan kompetensi juga datang dari kemitraan dengan IMD Business School, INSEAD, dan National University of Singapore. Melalui kerja sama tersebut, pegawai memperoleh akses sertifikasi profesional dan beasiswa pendidikan tinggi.
Dampaknya juga dirasakan di luar perusahaan
Penguatan SDM InJourney tidak berhenti pada kebutuhan internal. Melalui program TJSL InJourney Hospitality House, perusahaan ikut membantu peningkatan kapasitas pelaku pariwisata daerah dengan metode Train the Trainer.
Sebanyak 17 tokoh lokal telah melatih lebih dari 6.000 pelaku pariwisata daerah melalui program tersebut. Rangkaian inisiatif itu memperlihatkan bahwa skor 91 persen di Great Place to Work bukan berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan kebijakan pengembangan talenta, pelayanan, dan kontribusi sosial yang berjalan dalam satu arah transformasi.
