Ketiadaan kepastian soal insentif kendaraan listrik membuat pasar otomotif bergerak hati-hati. Kementerian Perindustrian menilai situasi ini bisa menahan keputusan pembelian konsumen dan menekan kinerja penjualan di sektor otomotif.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, mengatakan pihaknya sudah menyerahkan kajian final insentif kendaraan listrik kepada Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Menurut dia, kepastian dari kementerian dan lembaga terkait perlu segera keluar agar industri dan konsumen tidak terus menunggu.
Daya tahan pasar diuji oleh kepastian kebijakan
Febri menyebut ketidakjelasan insentif membuat pasar menunda keputusan lebih lama dari yang diharapkan. Dalam kondisi seperti itu, minat beli bisa tertahan dan laju penjualan otomotif ikut melambat.
Kemenperin juga tetap berkoordinasi dengan berbagai asosiasi industri untuk memperkuat pemasaran produk manufaktur nasional. Upaya itu diarahkan agar penjualan pada semester II tetap terdorong meski keputusan soal insentif belum diumumkan.
Skema insentif masih menunggu pengumuman
Pemerintah sebelumnya telah menyiapkan skema insentif untuk kendaraan listrik dengan target masing-masing 100 ribu unit mobil listrik dan sepeda motor listrik pada tahun ini. Rencana itu semula disebut akan berlaku pada Juni atau Juli, tetapi hingga kini belum ada kepastian pelaksanaannya.
Untuk sepeda motor listrik, pemerintah memperkirakan nilai insentif sebesar Rp5 juta per unit. Meski demikian, besaran dan skema final bantuan tersebut masih menunggu pembahasan selesai dengan kementerian dan lembaga terkait.
Alasan kebijakan ini didorong pemerintah
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa insentif kendaraan listrik disiapkan untuk menekan impor bahan bakar minyak di tengah proyeksi harga minyak global yang masih tinggi dalam beberapa bulan ke depan. Program ini juga menjadi salah satu dorongan pemerintah untuk mempercepat adopsi kendaraan ramah lingkungan.
Di sisi industri, Kemenperin sebelumnya juga memperkuat peran industri kecil menengah agar masuk ke rantai pasok kendaraan bermotor listrik berbasis baterai. Langkah ini dinilai penting karena pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional tidak hanya bertumpu pada investasi industri besar.
Kementerian itu menegaskan ruang partisipasi pelaku IKM perlu dibuka lebih luas sebagai bagian penting dalam rantai pasok industri. Dengan begitu, pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Tanah Air dapat berjalan lebih merata.
Pasar EV tetap tumbuh di tengah penantian
| Indikator | Data | Keterangan |
|---|---|---|
| Penjualan mobil listrik berbasis baterai | 33.150 unit | Kuartal I 2026 |
| Pertumbuhan penjualan | 95,9 persen | Naik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya |
| Populasi bus listrik | 798 unit | Hingga April 2026 |
| Populasi motor listrik | 236.451 unit | Per Februari 2026, sekitar 65 persen dari total populasi kendaraan listrik nasional |
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia menunjukkan pasar kendaraan listrik tetap bergerak naik meski kepastian insentif belum turun. Pada saat yang sama, industri masih berada dalam fase menunggu agar momentum adopsi kendaraan listrik tidak melambat.
Source: www.cnnindonesia.com






