Inter Milan menutup musim dengan dua trofi domestik sekaligus dan mengirim sinyal kuat bahwa mereka kembali sangat dominan di Italia. Kemenangan 2-0 atas Lazio pada final Coppa Italia membuat Nerazzurri mengunci gelar ganda Serie A dan Coppa Italia, sesuatu yang terakhir mereka capai pada 2010.
Hasil itu terasa istimewa karena Inter sudah memastikan gelar liga lebih dulu, bahkan saat musim masih menyisakan tiga pertandingan. Di Stadion Olimpico, mereka kemudian menyelesaikan tugas dengan permainan yang efisien dan tidak memberi Lazio banyak kesempatan untuk mengubah arah laga.
Di partai final, Inter tidak perlu tampil berlebihan untuk menguasai pertandingan. Mereka memanfaatkan momen penting sejak awal dan langsung mengambil kendali lewat gol bunuh diri bek sayap Lazio, Adam Marusic, pada menit ke-14 setelah salah mengantisipasi sepak pojok Federico Dimarco.
Keunggulan cepat itu membuat Inter lebih nyaman mengatur tempo. Lazio sempat berupaya mencari celah, tetapi Inter tetap disiplin dan menjaga jarak permainan hingga Lautaro Martínez menambah gol pada menit ke-35 melalui umpan Denzel Dumfries.
Efektivitas menjadi pembeda utama Nerazzurri di laga ini. Mereka tidak hanya rapi saat bertahan, tetapi juga tajam ketika peluang datang, sehingga final berjalan dengan pola yang sesuai keinginan Inter.
Awal era Chivu langsung berbuah gelar
Keberhasilan ini juga menandai awal yang kuat bagi Christian Chivu sebagai pelatih utama Inter. Mantan pemain Inter itu menjalani musim pertamanya di kursi pelatih setelah menggantikan Simone Inzaghi, lalu langsung membawa tim meraih gelar ganda.
Ikatan Chivu dengan capaian ini terasa lebih dalam karena ia juga bagian dari skuad Inter pada musim 2010. Situasi itu membuat gelar ganda musim ini seperti penghubung antara masa kejayaan lama dan babak baru di bangku pelatih.
Perhatian terhadap Chivu memang semakin besar setelah sebelumnya ia berhasil menyelamatkan Parma dari degradasi. Setelah final, Lautaro Martínez memberi penilaian tinggi kepada pelatihnya dengan berkata, “Apa nilai untuk Chivu? 10 dari 10,” seperti dikutip dari ESPN.
Respons penting setelah musim sebelumnya yang berat
Bagi Lautaro, dua trofi domestik ini bukan sekadar tambahan koleksi gelar. Inter datang dari musim sebelumnya yang jauh lebih sulit, ketika mereka gagal juara, finis satu angka di bawah Napoli di Serie A, tersingkir di semifinal Coppa Italia, dan kalah 0-5 dari Paris Saint-Germain pada final Liga Champions.
Ia menegaskan bahwa bangkit setelah musim seperti itu bukan perkara mudah. Namun, Inter berhasil menjawab tekanan dengan performa yang stabil, hasil yang kuat, dan intensitas permainan yang terjaga sepanjang musim.
“Meraih dua gelar sangat penting. Tidak mudah untuk bangkit lagi setelah apa yang terjadi musim lalu, tetapi kami berhasil menjalani musim yang hebat dari segi performa, hasil, dan intensitas permainan,” ujar Lautaro. Kapten Inter itu juga ikut mencetak salah satu gol ke gawang Lazio, sehingga kontribusinya terasa baik sebagai pemimpin maupun sebagai penyerang.
Gelar ganda yang lama dinanti
Bagi Inter, pencapaian ini mengembalikan mereka ke momen yang terakhir muncul pada 2010. Saat itu, klub asal Milan tersebut menjuarai liga dan piala domestik dalam satu musim, lalu menutup tahun dengan treble winners di bawah Jose Mourinho.
Musim ini mereka memang tidak menambah trofi Liga Champions, tetapi dua gelar domestik tetap menjadi penanda kuat atas konsistensi tim di dua ajang utama. Dalam persaingan domestik, Inter menunjukkan standar yang terjaga dari awal hingga fase penentuan.
Dominasi mereka juga terlihat dari cara menjaga performa di pertandingan besar. Final melawan Lazio bukan satu-satunya bukti, karena sebelumnya Inter juga pernah menang 3-0 atas lawan yang sama di Stadion Olimpico dalam laga Liga Italia, yang semakin menegaskan kekuatan Nerazzurri saat menghadapi momen penting.
Source: www.beritasatu.com