Justru yang paling cepat terasa hilang saat berpindah dari iPad Pro ke iPad Air M4 selama tiga bulan bukanlah tenaga atau fitur canggih, melainkan layar. Di pemakaian harian, perbedaan itu muncul paling jelas ketika perangkat dipakai di luar ruangan dan saat navigasi antarmuka.
Di dalam ruangan, selisihnya memang tidak langsung memukul mata. iPad Pro dengan Dual OLED terasa lebih cerah, tetapi iPad Air M4 masih bisa mendekati tingkat terang yang sama saat dipakai pada kondisi biasa, hanya saja keadaan berubah ketika layar harus dilihat di bawah sinar matahari langsung.
Layar jadi pembeda yang paling sulit diabaikan
Perbedaan layar antara kedua model ini bukan sekadar soal angka di atas kertas. iPad Pro sudah memakai panel Dual OLED, sementara iPad Air masih bertahan dengan IPS LCD, dan itu memberi karakter tampilan yang berbeda saat dipakai untuk berbagai kebutuhan harian.
Refresh rate juga ikut memisahkan pengalaman keduanya. iPad Pro mendukung 120Hz ProMotion, sedangkan iPad Air masih 60Hz, sehingga perpindahan menu dan gerakan di layar terasa lebih mulus di model Pro.
Meski begitu, penurunan ke 60Hz tidak otomatis membuat iPad Air M4 kurang nyaman untuk semua aktivitas. Dalam penggunaan Apple Pencil Pro, latensi disebut tidak terdampak signifikan, karena rasa lag lebih sering bergantung pada optimasi aplikasi seperti Procreate atau Clip Studio Paint.
Tenaga iPad Air M4 justru tidak mengecewakan
Di luar layar, iPad Air M4 menunjukkan sisi yang sangat kuat. Chip Apple M4 di dalamnya sama seperti yang digunakan iPad Pro, dan chip yang sama juga menjadi otak Mac mini serta iMac saat ini.
Itu membuat iPad Air M4 tetap sangat meyakinkan untuk pekerjaan berat. Rendering video di DaVinci Resolve dan menggambar dengan ratusan layer di Procreate masih bisa dijalankan tanpa masalah besar.
Untuk jangka panjang, perangkat ini juga dinilai masih akan tetap kencang. Estimasi yang muncul menyebut performanya masih sanggup bertahan tinggi hingga 6 tahun ke depan.
Fitur kecil yang baru terasa saat sudah hilang
Selain layar, kenyamanan lain yang paling terasa setelah pindah adalah Face ID. iPad Pro membuka kunci dengan pemindaian wajah, sedangkan iPad Air M4 memakai Touch ID di tombol power.
Secara respons, Touch ID tetap cepat. Namun bagi pengguna yang sudah terbiasa dengan Face ID, kembali ke sidik jari terasa lebih merepotkan dari yang dibayangkan, terutama karena hal seperti ini baru benar-benar disadari setelah dipakai setiap hari.
Di sinilah terlihat bahwa fitur premium sering kali punya nilai yang lebih besar dalam rutinitas dibanding saat hanya dilihat dari daftar spesifikasi. Perbedaan kecil bisa lebih mengganggu dibanding angka performa yang tampak mengesankan.
Penyimpanan menjadi pertimbangan paling rawan
Bagian lain yang perlu benar-benar dihitung sebelum membeli adalah storage. Varian dasar 128GB disebut sangat mepet untuk kebutuhan editing video, karena satu proyek video kasual saja bisa memakan sekitar 30 hingga 50GB.
Kondisi itu membuat ruang penyimpanan cepat habis jika tablet dipakai untuk pekerjaan yang cukup berat. Apple memang menyediakan opsi hingga 1TB, tetapi kenaikan harganya disebut tidak masuk akal karena bisa menambah biaya hingga Rp8 jutaan hanya untuk memori.
Untuk menggambar, mencatat, dan komputasi harian, varian standar masih cukup aman. Tetapi untuk editor video profesional, keterbatasan storage dan cara kerja manajemen file di iPadOS bisa membuat MacBook atau PC terasa lebih menarik.
Setelah dipakai penuh selama tiga bulan, iPad Air M4 terlihat mampu menahan anggapan bahwa model Pro selalu wajib dipilih demi performa terbaik. Kecuali bagi pengguna yang benar-benar membutuhkan layar OLED 120Hz dan Face ID, iPad Air M4 tetap tampil sebagai pilihan yang sangat masuk akal bagi banyak orang.







