iPhone Fold disebut berpotensi menjadi iPhone termahal yang pernah dibuat Apple, dengan banderol yang diperkirakan berada di kisaran USD 2.000 hingga USD 2.600. Untuk varian kapasitas tertinggi, harganya disebut bisa menyentuh sekitar Rp 35-50 jutaan sebelum pajak.
Angka itu menjadi sorotan karena tekanan biaya pada produk Apple tidak hanya datang dari desain ponsel lipat, tetapi juga dari kondisi industri memori global yang sedang ketat. Dalam situasi ini, iPhone Fold bisa masuk ke kategori ultra-premium bahkan menurut standar Apple sendiri.
Tekanan biaya datang dari memori dan rantai pasok
Kenaikan harga memori menjadi salah satu faktor utama yang membuat proyeksi harga perangkat baru Apple terlihat semakin tinggi. RAM kini sangat dibutuhkan oleh sektor AI dan server besar, sehingga kapasitas produksi produsen memori banyak dialihkan ke produk yang berfokus pada kebutuhan tersebut.
Mirror melaporkan bahwa pergeseran produksi itu menekan pasokan untuk perangkat konsumen seperti laptop, tablet, dan ponsel. Saat permintaan tetap tinggi, biaya komponen ikut terdorong naik dan memberi dampak pada harga jual akhir perangkat.
Masalah tersebut belum berhenti di situ. Perang yang sedang berlangsung di Iran juga disebut mengganggu pasokan helium, gas yang penting dalam proses pembuatan semikonduktor.
Gangguan pada pasokan helium memperumit rantai produksi komponen elektronik. Ketika bahan penting untuk manufaktur chip ikut terganggu, biaya produksi pun berpotensi semakin meningkat.
Apple sudah memberi sinyal soal kenaikan biaya
Tim Cook sebelumnya mengatakan bahwa perusahaan berusaha menekan kenaikan harga besar yang dibebankan kepada Apple dan mencoba melindungi pelanggan. Namun, ia juga menyebut kondisi yang terjadi saat ini sudah tidak berkelanjutan.
Cook menegaskan bahwa pasokan berkurang ketika konsumen tetap menginginkan perangkat, sementara produsen memori menaikkan harga secara signifikan. Ia menilai Apple membutuhkan harga dan pasokan memori kembali ke tingkat yang wajar untuk pasar konsumen.
Pernyataan itu membuat pembahasan soal harga iPhone Fold terasa lebih masuk akal. Perangkat lipat biasanya memang menuntut biaya produksi lebih tinggi, sehingga tekanan harga komponen akan makin mudah mendorong banderolnya naik.
Rumor peluncuran akhir tahun dan dampaknya di Indonesia
Di tengah spekulasi harga tersebut, rumor yang beredar menyebut iPhone Fold bisa hadir pada akhir tahun ini. Perangkat itu digambarkan sebagai ponsel lipat yang dapat dibuka seperti buku untuk menampilkan layar bergaya tablet.
Jika benar meluncur, kombinasi format baru dan biaya komponen yang meningkat berpeluang membuat harga akhirnya melampaui lini iPhone lain. Kisaran USD 2.000 hingga USD 2.600 yang beredar sudah menempatkannya di segmen sangat eksklusif.
Untuk pasar Indonesia, angka itu disebut setara sekitar Rp 35-50 jutaan pada kapasitas tertinggi, dan itu belum termasuk pajak saat masuk ke dalam negeri. Artinya, harga final di pasar lokal masih bisa lebih tinggi lagi karena ada pajak dan biaya impor.
Meski begitu, seluruh pembahasan tentang iPhone Fold masih berada di ranah rumor. Apple belum mengumumkan secara resmi perangkat lipat tersebut, sehingga harga, waktu peluncuran, dan konfigurasi akhirnya masih menunggu kepastian.
Pasar kini menunggu apakah perangkat itu benar-benar hadir pada akhir tahun ini dan sejauh mana krisis memori akan memengaruhi harga jualnya. Jika tekanan biaya belum mereda, iPhone Fold berpotensi menjadi simbol baru mahalnya perangkat premium di era AI.
Source: inet.detik.com






