Iran Membalas AS, Pangkalan di Bahrain dan Kuwait Masuk Daftar Sasaran

Author: Redaksi Android62

Iran merespons serangan militer Amerika Serikat dengan meluncurkan rudal balistik dari wilayah barat dan tengah negara itu ke sejumlah pangkalan serta aset militer AS di kawasan Teluk. Bahrain dan Kuwait termasuk dalam daftar lokasi yang disebut menjadi sasaran, sementara sirene peringatan turut terdengar di Bahrain.

Eskalasi ini segera menimbulkan kekhawatiran baru di pasar energi global. Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia, kembali berada di pusat ketegangan karena Iran mengklaim menutup jalur pelayaran strategis tersebut.

Serangan balasan dan dampaknya di kawasan

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa rudal balistik ditembakkan ke target-target militer Amerika Serikat di wilayah Teluk. Dalam rangkaian klaim itu, Bahrain disebut menjadi lokasi dengan fasilitas di Juffair, wilayah yang menjadi markas Armada Ke-5 Angkatan Laut AS.

Di Kuwait, kantor berita IRNA menyebut Iran menghancurkan depot bahan bakar dan sistem pertahanan udara Patriot di Pangkalan Ali Al Salem, serta sistem radar strategis di Pangkalan Ahmed Al-Jaber. Iran juga mengklaim menghancurkan dua sistem radar di Oman.

Di sisi lain, aparat keamanan Yordania melaporkan berhasil mencegat empat rudal Iran yang melintasi wilayah udaranya. Rangkaian laporan ini menunjukkan bahwa konflik tidak lagi terbatas pada satu titik serangan, tetapi meluas ke beberapa negara di kawasan.

Selat Hormuz jadi titik paling sensitif

Kekhawatiran atas jalur pelayaran itu muncul setelah operasi militer AS pada Minggu, 12 Juli 2026, dilaporkan menargetkan sistem pertahanan udara, radar, peralatan drone, dan kapal-kapal kecil milik Iran. Washington menyebut operasi itu bertujuan mengurangi kemampuan Teheran untuk menyerang kapal sipil dan kapal komersial di Selat Hormuz.

Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC kemudian menegaskan pada Senin, 13 Juli 2026, bahwa Selat Hormuz merupakan wilayah Iran. Teheran juga mengklaim kembali menutup jalur tersebut, langkah yang langsung memicu kekhawatiran soal kelancaran distribusi energi dunia.

Susannah Streeter, pakar pasar dari Wealth Club, menyebut Selat Hormuz telah menjadi “tumit Achilles” bagi Amerika Serikat dalam konflik ini sekaligus kartu truf terkuat bagi Iran. Seiring meningkatnya ketegangan, harga minyak mentah Brent dilaporkan melonjak sekitar 4 persen pada Senin hingga menembus level di atas US$79 per barel.

Balasan atas serangan AS sebelumnya

Serangan militer AS sebelumnya dilaporkan menghantam sejumlah wilayah di Provinsi Hormozgan, Khuzestan, dan Markazi yang berada di sekitar Teheran. Serangan itu disebut menimbulkan sedikitnya dua korban tewas, menambah tekanan di tengah situasi yang masih bergerak cepat.

Washington menyatakan operasi tersebut diarahkan pada sistem pertahanan udara Iran, radar, peralatan drone, dan kapal-kapal kecil. Sasaran itu dipilih untuk menekan kemampuan Iran dalam mengganggu kapal sipil dan kapal komersial yang melewati jalur strategis tersebut.

Dengan situasi yang belum mereda, dua titik paling sensitif kini tetap sama: keamanan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk dan kendali atas Selat Hormuz. Selama keduanya masih diperebutkan, pasar energi dan stabilitas regional diperkirakan tetap berada dalam posisi waspada.

Source: www.medcom.id
Berita Terbaru