Pimpinan militer tertinggi Iran menegaskan bahwa angkatan bersenjata negaranya berada dalam kesiapan penuh untuk merespons jika Amerika Serikat dan Israel kembali melakukan tindakan yang dianggap sebagai agresi. Pernyataan itu disampaikan Mayor Jenderal Ali Abdollahi dalam pertemuan dengan Mojtaba Khamenei, di saat Teheran masih memandang situasi regional belum benar-benar tenang.
Abdollahi, yang memimpin Markas Pusat Khatam al Anbiya, menyebut kesiapan Iran tidak hanya menyangkut kekuatan tempur, tetapi juga moral, pertahanan, kemampuan ofensif, rencana strategis, serta perlengkapan dan persenjataan. Ia menegaskan bahwa semua unsur militer tetap berada pada tingkat siaga tinggi.
Dalam penjelasannya kepada Mojtaba Khamenei, Abdollahi mengatakan pasukan Iran akan bereaksi cepat, keras, dan penuh kekuatan jika pihak lawan melakukan kesalahan strategis, agresi, atau invasi. Ia juga menekankan bahwa angkatan bersenjata akan tetap tunduk penuh pada perintah pemimpin tertinggi.
Pesan yang disampaikan Abdollahi memperlihatkan bahwa Teheran masih ingin menjaga daya gentar di hadapan lawan-lawannya. Nada tersebut juga menunjukkan bahwa Iran belum menganggap gencatan senjata sepihak yang disebut masih berlaku sebagai jaminan keamanan yang benar-benar stabil.
Sinyal dari pertemuan dengan Mojtaba Khamenei
Pertemuan antara Mojtaba Khamenei dan pucuk militer Iran menjadi sorotan karena berlangsung di tengah hubungan yang belum sepenuhnya mencair dengan Washington dan Tel Aviv. Dalam kesempatan itu, Khamenei disebut memuji kesiapan angkatan bersenjata Iran.
Ia juga dikabarkan mengeluarkan arahan baru agar langkah menghadapi musuh dijalankan secara tegas setelah perang 40 hari melawan Amerika Serikat dan Israel. Arahan itu menegaskan bahwa keamanan nasional masih ditempatkan sebagai prioritas utama oleh kepemimpinan Iran.
Dari sisi politik, pertemuan tersebut juga memperlihatkan upaya menjaga kesan solid antara struktur komando militer dan kepemimpinan negara. Pesan yang muncul dari forum itu tidak hanya soal kesiapan tempur, tetapi juga soal kesatuan sikap di puncak kekuasaan Iran.
Latar konflik yang belum mereda
Ketegangan yang memicu pernyataan keras itu berawal dari konflik yang oleh Iran dipandang sebagai agresi tanpa provokasi dari Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari. Serangan itu disebut memicu pemboman terhadap infrastruktur militer dan sipil Iran.
Teheran menilai serangan tersebut bertujuan menjatuhkan Republik Islam Iran setelah kerusuhan yang melibatkan kelompok bersenjata yang disebut memiliki kaitan asing. Kelompok itu juga disebut menyerang aparat keamanan serta petugas layanan publik.
Konflik yang semula diperkirakan hanya berlangsung beberapa hari justru berkembang menjadi perang selama 41 hari. Selama periode itu, Iran membalas dengan serangan besar-besaran menggunakan drone dan rudal ke sejumlah target Amerika Serikat dan Israel.
Gencatan senjata yang rapuh
Setelah rangkaian serangan tersebut, kedua pihak disebut mengumumkan gencatan senjata sepihak yang masih berlaku sampai sekarang. Namun, pernyataan terbaru dari pejabat militer Iran menunjukkan bahwa ketenangan itu masih sangat rapuh.
Janji Abdollahi kepada Mojtaba Khamenei memperlihatkan bahwa ancaman dari Amerika Serikat dan Israel masih dipandang sebagai kemungkinan nyata oleh Teheran. Karena itu, kesiapan militer tetap dijaga pada level tinggi, baik dari sisi perlengkapan maupun strategi.
Situasi ini membuat pertemuan antara pemimpin tertinggi Iran dan komandan militernya menjadi lebih dari sekadar agenda rutin. Bagi Teheran, forum tersebut menjadi penanda bahwa negara itu masih menyiapkan diri jika ketegangan kembali meningkat.
Source: www.viva.co.id