Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali naik setelah Donald Trump menegaskan bahwa Teheran harus segera mencapai kesepakatan dengan Washington. Dalam wawancara di program Hannity yang tayang di Fox News, Trump menyampaikan bahwa ia tidak lagi punya banyak kesabaran terhadap Iran.
Pernyataan itu muncul ketika perundingan soal konflik dan program nuklir Iran masih belum menghasilkan terobosan. Situasi ini membuat tekanan politik terhadap Teheran terus membesar, sementara Washington tetap menekan agar ada langkah yang dianggap bisa meredakan krisis.
Sikap keras Trump terhadap Iran
Trump menyampaikan pesan yang cukup tegas kepada Iran. Ia menegaskan bahwa jika Teheran ingin situasi membaik, maka kesepakatan dengan Washington harus segera tercapai.
“Saya tidak akan lebih sabar lagi,” ujar Trump seperti dikutip dari Miami Heralds. Ucapan itu memperlihatkan bahwa Gedung Putih tidak ingin proses diplomasi berjalan terlalu lama tanpa hasil.
Nada keras tersebut juga menambah beban bagi Iran di tengah kebuntuan yang belum terpecahkan. Upaya diplomasi yang dijalankan sejauh ini belum memperlihatkan titik temu yang jelas.
Sengketa nuklir masih menjadi inti masalah
Sumber kebuntuan utama tetap berada pada program nuklir Iran. Amerika Serikat meminta Teheran menghentikan sejumlah langkah yang dinilai memicu krisis, tetapi Iran menolak tuntutan itu.
Iran juga disebut menolak menyerahkan persediaan uranium yang telah diperkaya. Sikap tersebut membuat ruang kompromi semakin sempit dan hubungan kedua negara kembali memanas.
Di sisi lain, gencatan senjata antara AS dan Iran sebenarnya telah berlangsung sejak April 2026. Namun, ketenangan itu tidak cukup untuk menghilangkan sumber konflik yang lebih dalam, terutama soal program nuklir.
Uranium Iran tetap jadi perhatian Washington
Trump juga menanggapi isu uranium Iran yang disebut disembunyikan. Ia menilai perhatian terhadap persediaan uranium penting, meski cara pandangnya tidak sepenuhnya hanya soal strategi keamanan.
“Saya rasa itu tidak perlu kecuali dari sudut pandang hubungan masyarakat. Sebenarnya saya merasa lebih baik jika mendapatkannya. Tetapi menurut saya, itu lebih untuk hubungan masyarakat daripada untuk hal lain,” kata Trump.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Washington masih memberi bobot besar pada kontrol material nuklir Iran. Isu uranium tetap menjadi bagian penting dari tekanan agar Teheran menerima kesepakatan yang diinginkan AS.
Efeknya merambat ke kawasan
Selain urusan nuklir, Trump juga menyinggung perang AS-Israel melawan Iran saat bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing. Gedung Putih menyebut keduanya sama-sama menilai pentingnya menjaga jalur pelayaran Selat Hormuz tetap terbuka.
Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi arus pasokan energi dunia karena menjadi rute utama perdagangan minyak dan gas global. China pun memiliki hubungan dekat dengan Iran dan dikenal sebagai salah satu pembeli utama minyak dari negara tersebut.
Dalam kondisi seperti ini, kebuntuan diplomasi tidak hanya berdampak pada Washington dan Teheran. Situasinya ikut memengaruhi kepentingan lebih luas di Timur Tengah dan pasar energi internasional.
Tekanan terhadap Teheran belum mereda
Di tengah negosiasi yang masih buntu, Washington tetap memberlakukan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran. Langkah itu ikut memperkeruh suasana geopolitik dan memperlebar tekanan terhadap Teheran.
Dengan perundingan yang belum menemukan titik temu, Iran masih bertahan pada posisinya soal program nuklir dan persediaan uranium. Sementara itu, AS tampak ingin hasil cepat dari jalur diplomasi yang sedang tersendat.
Source: www.beritasatu.com