Israel Serang Lebanon Selatan Lagi, Gencatan Senjata dengan Hezbollah Kian Terkoyak

Author: Redaksi Android62

Serangan baru di Lebanon selatan kembali membuat gencatan senjata antara Israel dan Hezbollah terlihat semakin rapuh. Di saat kedua pihak saling tuding melanggar kesepakatan, militer Israel juga melaporkan satu tentaranya tewas dalam pertempuran di wilayah yang sejak pertengahan April berada di bawah gencatan senjata.

Ketegangan itu langsung memicu kekhawatiran bahwa front Lebanon belum benar-benar tenang. Hezbollah yang didukung Iran menolak tuduhan Benjamin Netanyahu bahwa kelompok itu membahayakan gencatan senjata, sementara Israel justru menegaskan tindakan Hezbollah telah merusak kesepakatan yang ada.

Tuduhan Saling Langgar Makin Keras

Hezbollah menyebut serangan terhadap target Israel di Lebanon selatan dan Israel utara sebagai “respons yang sah”. Dalam pernyataannya, kelompok itu mengatakan tindakan tersebut dilakukan sebagai balasan atas pelanggaran yang menurut mereka terus terjadi sejak hari pertama pengumuman gencatan senjata sementara.

Netanyahu mengambil sikap sebaliknya. Ia menegaskan bahwa Hezbollah membahayakan kesepakatan tersebut dan berjanji akan menargetkan kelompok itu secara “vigorously”. Ia juga mengatakan pelanggaran yang dilakukan Hezbollah pada praktiknya telah “membongkar gencatan senjata”.

Pernyataan dari kedua pihak menunjukkan bahwa ruang untuk meredakan konflik masih sempit. Selama saling tuding tetap berlangsung, perjanjian di perbatasan selatan Lebanon sulit dipandang stabil.

Peringatan Evakuasi Disusul Serangan

Di lapangan, ketegangan itu terlihat dari langkah militer Israel yang pada Minggu mulai menyerang Lebanon selatan setelah mengeluarkan peringatan evakuasi untuk tujuh lokasi. Media resmi Lebanon melaporkan serangan itu tetap berlangsung meski gencatan senjata dengan Hezbollah masih berlaku.

National News Agency menyebut salah satu serangan udara menghantam Kfar Tibnit. Laporan yang sama juga menyebut ada informasi awal mengenai korban luka atau tewas, meski rincian pastinya belum dijelaskan.

Rangkaian peringatan lalu serangan di beberapa titik membuat situasi di perbatasan kian tidak pasti. Kondisi itu memperkuat kesan bahwa kesepakatan yang belum lama diumumkan itu berada dalam tekanan berat.

Iran Bergerak di Jalur Keamanan dan Diplomasi

Di tengah memanasnya situasi Lebanon, Iran juga mengambil langkah keras di dalam negeri. Pada Minggu, otoritas Iran mengeksekusi seorang pria yang dinyatakan bersalah sebagai anggota kelompok militan Sunni Jaish al-Adl dan terlibat dalam serangan terhadap pasukan keamanan di tenggara, menurut keterangan kehakiman.

Sehari sebelumnya, Iran juga mengumumkan eksekusi terhadap seorang pria lain yang dituduh memberikan informasi intelijen kepada Israel. Dua eksekusi beruntun itu menunjukkan bahwa Teheran memandang spionase dan serangan bersenjata sebagai ancaman serius di saat ketegangan regional meningkat.

Pada saat yang sama, jalur diplomasi juga tetap dibuka. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dilaporkan tiba di Saint Petersburg untuk bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin.

Kunjungan itu menyusul rangkaian perjalanan cepat Araghchi ke Islamabad, Muscat, lalu Islamabad lagi dalam beberapa hari terakhir, menurut media pemerintah Rusia dan Iran. Pertemuan dengan Putin menambah dimensi lain dari krisis yang berkembang di kawasan.

Krisis Timur Tengah Meluas ke Banyak Arah

Perkembangan di Lebanon tidak berdiri sendiri, karena konflik yang terjadi kini bergerak di berbagai arah sekaligus. Ada serangan militer di perbatasan selatan Lebanon, ada tuduhan pelanggaran gencatan senjata, dan ada pula manuver politik Iran yang mencari dukungan ke Rusia.

Di Amerika Serikat, Donald Trump juga menegaskan bahwa penembakan di jamuan makan malam media di Washington pada Sabtu tidak akan mengalihkannya dari perang di Iran. “It’s not going to deter me from winning the war in Iran,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih setelah insiden itu.

Trump juga mengatakan tidak percaya insiden tersebut berkaitan dengan dirinya. Sikap itu menunjukkan bahwa Iran tetap berada di pusat perhatian politiknya meski ada gangguan keamanan di dalam negeri.

Seluruh rangkaian ini memperlihatkan bahwa Lebanon masih menjadi salah satu titik paling rawan dalam peta ketegangan regional. Selama saling tuding, serangan balasan, dan langkah keamanan keras terus berlanjut, gencatan senjata Israel-Hezbollah tetap berada dalam posisi yang sangat rentan.

Berita Terbaru