Istana Bahas Nama Said Iqbal Untuk Pos Buruh, Pelantikan Masih Menunggu Jadwal

Author: Redaksi Android62

Said Iqbal kembali menjadi sorotan setelah namanya disebut masuk dalam pembahasan Istana untuk mengisi posisi di Kabinet Merah Putih. Namun, pembahasan itu belum mengarah pada keputusan akhir, karena pemerintah masih menahan detail jabatan yang akan diberikan.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa diskusi mengenai nama Said Iqbal memang sedang berjalan. Saat berada di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (4/6/2026), ia menegaskan bahwa Istana belum membuka secara terbuka posisi yang sedang dibahas.

Posisi masih dibahas di Istana

Prasetyo belum memastikan apakah jabatan yang dimaksud akan berkaitan dengan Wakil Menteri Ketenagakerjaan atau Dewan Buruh. Menurutnya, nama jabatan itu masih dalam pembicaraan internal sehingga pengumuman resmi belum dilakukan.

Ia juga menutup rapat kemungkinan menyebut detail lebih jauh pada tahap ini. Prasetyo hanya menegaskan bahwa prosesnya masih berjalan dan penjelasan lengkap akan disampaikan kemudian.

Ketika ditanya soal waktu pelantikan, Prasetyo memberi sinyal bahwa jadwalnya belum dipastikan. Ia menyebut kemungkinan pelantikan dapat berlangsung pada Senin pekan depan, tetapi menegaskan bahwa publik masih harus menunggu informasi resmi.

Rekam jejak Said Iqbal di gerakan buruh

Nama Said Iqbal sendiri sudah lama lekat dengan isu ketenagakerjaan. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam advokasi hak-hak buruh di Indonesia dan memiliki pengalaman panjang di organisasi pekerja.

Said Iqbal lahir di Jakarta pada 5 Juli 1968. Ia berasal dari keluarga berdarah Aceh, dengan ayah dari Pidie dan ibu dari Meulaboh, serta lulus dari SMA Negeri 51 Jakarta pada 1987 sebagai juara umum.

Jejak pendidikannya juga cukup kuat. Ia menempuh Teknik Mesin di Politeknik Universitas Indonesia, meraih gelar Sarjana Teknik Mesin dari Universitas Jayabaya, lalu melanjutkan Magister Ekonomi di Universitas Indonesia.

Dari serikat pekerja ke panggung nasional

Karier organisasinya dimulai pada 1992 ketika ia menjadi ketua serikat pekerja di sebuah perusahaan elektronik di Bekasi. Dari sana, namanya terus menanjak hingga ikut mendirikan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia atau FSPMI.

Di organisasi itu, Said Iqbal pernah memegang sejumlah jabatan penting, termasuk Sekretaris Jenderal dan Presiden DPP. Pengaruhnya kemudian makin besar setelah ia terpilih sebagai Presiden KSPI pada 2012 dan hingga kini masih memimpin konfederasi tersebut dalam periode ketiganya.

Di tingkat internasional, ia juga aktif di berbagai forum pekerja. Said Iqbal pernah menjadi anggota Deputi Badan Pengurus ILO periode 2021–2024, terlibat dalam International Trade Union Confederation, dan menjabat Wakil Presiden ASEAN Trade Union Council.

Kaitannya dengan Partai Buruh

Pengaruh politik Said Iqbal ikut menguat saat Partai Buruh bangkit kembali pada 5 Oktober 2021. Dalam Kongres IV di Jakarta, ia terpilih secara aklamasi sebagai Presiden Partai Buruh periode 2021–2026.

Kebangkitan partai itu tidak lepas dari dinamika ketenagakerjaan nasional, terutama setelah pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja. Di bawah kepemimpinannya, Partai Buruh membawa gagasan negara kesejahteraan atau welfare state dengan menekankan distribusi kekayaan yang lebih adil dan peran negara dalam menjamin kesejahteraan rakyat.

Isyarat yang sejalan dengan rekam jejaknya

Isyarat Istana yang mengaitkan pos yang dibahas dengan isu buruh dianggap sejalan dengan latar belakang Said Iqbal. Selama ini ia memang dikenal vokal dalam urusan upah, perlindungan pekerja, dan kebijakan ketenagakerjaan.

Ia juga pernah menerima The Febe Elisabeth Velasquez Award dari serikat pekerja Belanda, FNV, pada 2013. Penghargaan itu diberikan atas dedikasinya memperjuangkan upah layak dan kesejahteraan pekerja.

Selain aktif di organisasi, Said Iqbal menulis sejumlah buku bertema ketenagakerjaan dan perjuangan buruh. Di antaranya Sepultura (Sebuah Cita-Cita Perjuangan), Pemerintah Gagal Menyejahterakan Buruh, serta Kerja Layak, Upah Layak, dan Hidup Layak Gagal Diwujudkan.

Selama bertahun-tahun, ia dikenal memimpin aksi besar di depan DPR dan Istana Negara. Dalam beberapa waktu terakhir, jalur politik formal lewat Partai Buruh juga menjadi salah satu ruang utama yang ia gunakan untuk memperjuangkan kepentingan pekerja melalui kebijakan dan proses legislasi.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru