Jalur Kabel Bawah Laut Di Selat Hormuz Mengancam Internet, AI, Dan Sistem Keuangan Dunia

Ancaman terhadap kabel serat optik bawah laut di Selat Hormuz kini dipandang sebagai risiko serius bagi ekonomi digital global. Jalur sempit itu tidak hanya penting untuk pengiriman minyak, tetapi juga menjadi lintasan ribuan kilometer kabel yang membawa hampir semua arus data internet dunia.

Gangguan pada kabel tersebut dapat berdampak jauh lebih luas daripada sekadar lambatnya koneksi. Layanan AI, komputasi awan, transaksi perbankan, hingga komunikasi video bisa ikut tersendat dalam waktu singkat jika jalur komunikasi ini terganggu.

Infrastruktur digital dunia memang sangat bergantung pada kabel bawah laut yang membentang antarbenua. Kabel-kabel itu menjadi fondasi koneksi berkecepatan tinggi dan menghubungkan lalu lintas data dari satu wilayah ke wilayah lain secara terus-menerus.

Di kawasan Teluk Persia, jaringan kabel aktif mendukung koneksi data luar negeri bagi banyak negara. Ketergantungan itu juga terlihat dari investasi besar perusahaan teknologi pada pusat data yang bergantung pada jalur tersebut untuk menjaga konektivitas Eropa dan Asia.

Kondisi ini membuat Selat Hormuz dipandang sebagai titik kegagalan tunggal yang sangat sensitif. Jika terjadi penutupan atau gangguan bersamaan di jalur itu, pemadaman internet dan gangguan sistem keuangan di banyak negara bisa muncul dalam waktu yang hampir bersamaan.

Kerentanan yang ikut dibaca sebagai sinyal ancaman

Kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam, atau IRGC, pernah memperingatkan kerentanan kabel di Selat Hormuz. Infografis tentang titik koordinat kabel serat optik itu dinilai sebagai sinyal ancaman terhadap infrastruktur komunikasi saat konflik memanas.

Iran disebut memandang pemutusan kabel secara bersamaan sebagai cara untuk memicu bencana digital. Strategi ini diposisikan sebagai tekanan terhadap kekuatan Barat dan sekutunya tanpa harus masuk ke konfrontasi nuklir.

IRGC sendiri memiliki tim bawah air dan kapal cepat yang dapat dipakai untuk misi perang asimetris. Di sisi lain, kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Teheran juga disebut pernah menunjukkan kemampuan merusak kabel di Laut Merah lewat tarikan jangkar kapal.

Dampak yang paling terasa di pusat teknologi Teluk

Risiko gangguan di Selat Hormuz juga langsung mengarah ke pusat data dan layanan digital di kawasan Teluk. Uni Emirat Arab dan Arab Saudi sedang menanamkan investasi miliaran dolar untuk membangun pusat data dan infrastruktur AI, dengan ambisi menjadikan kawasan itu pusat teknologi global.

Namun, ekosistem tersebut tetap bergantung pada koneksi data berkecepatan tinggi yang hanya tersedia lewat kabel bawah laut. Karena itu, konflik bersenjata bisa memberi dampak langsung pada fasilitas cloud milik Amazon Web Services di Bahrain dan Uni Emirat Arab.

Kerusakan kabel serat optik juga disebut dapat memicu kekacauan di bursa saham Dubai. Dalam skenario yang sama, operasional layanan teknologi bisa berhenti mendadak dan konektivitas untuk AI yang melayani pengguna di banyak benua ikut masuk ke titik kritis.

Perbaikan yang tidak mudah dilakukan

Memperbaiki kabel bawah laut di Selat Hormuz bukan pekerjaan cepat. Kapal khusus tidak bisa masuk ke wilayah konflik penuh ranjau, sementara pemilik kapal dan perusahaan asuransi menolak memberi izin operasional karena risiko fisiknya terlalu tinggi.

Proses perizinan di perairan negara tertentu juga sering menjadi hambatan birokrasi yang rumit dan memakan waktu. Akibatnya, gangguan layanan internet global dapat berlangsung lebih lama karena kru harus menunggu situasi benar-benar stabil sebelum mulai bekerja.

Industri telekomunikasi juga harus melakukan survei ulang dasar laut untuk memastikan tidak ada bangkai kapal atau objek berbahaya lain. Teknisi baru bisa memasang kembali kabel setelah jalur dipastikan aman bagi infrastruktur serat optik.

Efek yang tidak berhenti di Timur Tengah

Pemerintah Teheran melalui media afiliasinya mengeklaim negara-negara Arab lebih rentan secara digital daripada Iran. Kerusakan kabel bawah laut di Selat Hormuz disebut dapat menghentikan operasional penerbangan dan memicu kerugian finansial besar di pusat bisnis Timur Tengah.

Dampaknya tidak berhenti di kawasan itu. Efek domino dari gangguan kabel diperkirakan bisa menjalar ke Asia Selatan dan sebagian Eropa, terlebih karena insiden pemutusan kabel pernah menyebabkan perlambatan internet yang sangat signifikan di India dan Pakistan.

Sementara itu, sistem satelit orbit rendah seperti Starlink belum mampu menggantikan kabel fisik untuk menampung volume data yang sangat besar. Karena itu, konsorsium internasional mulai merancang jalur darat alternatif, meski masih menghadapi hambatan regulasi yang rumit.

Source: www.idntimes.com

Berita Terkait