Jalur Lintas Selatan Diposisikan Jadi Koridor Ekonomi Baru, Bakorwil Malang Genjot Sinergi Daerah

Bakorwil III Malang mendorong Selatan Jawa Timur tumbuh lewat pola pembangunan yang saling terhubung, bukan berjalan sendiri-sendiri. Fokusnya adalah membangun ekosistem ekonomi yang menyatukan potensi pertanian, perikanan, kelautan, pariwisata, budaya, hingga infrastruktur dalam satu arah yang sama.

Kepala Bakorwil Malang, Asep Kusdinar, menilai kawasan selatan sebenarnya sudah memiliki modal dasar yang kuat. Tantangan utamanya kini ada pada cara menghubungkan seluruh sumber daya itu agar hasil pembangunan tidak terpecah dan benar-benar memberi dampak bagi masyarakat.

Kolaborasi jadi kunci

Bakorwil memandang pembangunan Selatan Jawa Timur tidak bisa dikerjakan dengan pola sektoral. Karena itu, tata kelola berbasis kewilayahan terus didorong agar program lintas sektor dan lintas daerah bisa saling menguatkan.

Pendekatan ini diarahkan supaya pembangunan lebih efektif, terarah, dan berkelanjutan. Dengan cara tersebut, setiap unsur pembangunan diharapkan bergerak dalam satu kerangka yang sama, bukan berjalan tanpa arah yang seragam.

Sport tourism ikut didorong

Salah satu sektor yang mendapat perhatian besar adalah sport tourism. Kawasan selatan Jawa Timur dinilai punya daya tarik alam yang kuat, mulai dari pantai, pegunungan, kawasan konservasi, hingga destinasi unggulan lainnya.

Namun, Bakorwil menilai daya tarik itu tidak cukup jika hanya berhenti pada jumlah kunjungan wisatawan. Ekosistem pendukung juga harus tumbuh, termasuk UMKM, ekonomi kreatif, kapasitas masyarakat, dan layanan pendukung yang berkualitas.

Blue economy dan green economy

Selain pariwisata, Bakorwil Malang menempatkan blue economy dan green economy sebagai dasar pembangunan berkelanjutan. Potensi kelautan, perikanan, kehutanan, dan sumber daya lingkungan diarahkan agar tetap produktif tanpa mengabaikan kelestarian.

Asep menegaskan bahwa pertumbuhan yang dicari harus berkualitas. Ia menempatkan keseimbangan antara kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan sebagai syarat agar manfaat pembangunan bisa dirasakan hingga generasi mendatang.

Pembangunan manusia tidak boleh tertinggal

Perhatian Bakorwil tidak hanya tertuju pada proyek fisik dan penguatan ekonomi. Percepatan penanganan stunting juga tetap menjadi agenda penting karena kualitas sumber daya manusia dianggap menentukan keberhasilan pembangunan jangka panjang.

Karena itu, pembangunan infrastruktur dan ekonomi didorong berjalan seiring dengan peningkatan kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat. Tiga unsur ini dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari agenda kawasan selatan.

UMKM dan konektivitas penggerak ekonomi

Dalam strategi pembangunan kawasan, UMKM ditempatkan sebagai tulang punggung ekonomi daerah. Sektor ini dinilai strategis karena mampu membuka lapangan kerja dan memperluas manfaat pembangunan hingga ke tingkat masyarakat.

Bakorwil juga menaruh perhatian pada pengurangan kemiskinan di Malang Selatan. Asep menekankan perlunya kolaborasi banyak pihak, sementara Bakorwil siap menjadi simpul koordinasi pembangunan kewilayahan agar penguatan ekonomi lokal dan hilirisasi potensi daerah bisa dipercepat.

Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat ikut menjadi bagian dari langkah itu. Jalur Lintas Selatan juga diposisikan sebagai koridor pertumbuhan ekonomi baru yang bukan sekadar jalan penghubung, melainkan infrastruktur strategis untuk membuka akses ekonomi.

Dengan konektivitas yang lebih baik, potensi unggulan seperti pariwisata, pertanian, perikanan, industri kreatif, dan produk UMKM dinilai punya peluang lebih besar untuk berkembang. Pasar yang dijangkau juga diperkirakan semakin luas seiring terbukanya akses baru di wilayah selatan.

Pada akhirnya, Bakorwil menegaskan bahwa tujuan pembangunan Selatan Jawa Timur bukan hanya mengejar angka pertumbuhan ekonomi. Arah besarnya adalah menurunkan kemiskinan, membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat kualitas hidup warga melalui kerja sama pemerintah kabupaten/kota, perangkat daerah provinsi, dunia usaha, akademisi, media, komunitas, dan masyarakat.

Source: javasatu.com

Berita Terkait