Jawa Timur kini memegang luasan perhutanan sosial terbesar di Indonesia, dengan cakupan yang mencapai hampir 30 persen dari total nasional. Capaian itu membuat provinsi ini berada pada posisi strategis untuk mengembangkan model pengelolaan hutan yang tidak hanya menjaga kelestarian, tetapi juga memberi nilai ekonomi lebih besar bagi warga sekitar kawasan hutan.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendorong agar perhutanan sosial tidak berhenti sebagai program konservasi. Arah kebijakannya kini diperluas ke kemitraan usaha, hilirisasi, dan penguatan agroforestri agar hasil dari kawasan hutan memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.
Nilai transaksi ekonomi tertinggi di tingkat nasional
Khofifah Indar Parawansa menyebut nilai transaksi ekonomi dari sektor perhutanan sosial di Jawa Timur menjadi yang tertinggi dibandingkan provinsi lain. Menurut Gubernur Jawa Timur itu, capaian tersebut perlu terus diperkuat melalui pengembangan usaha agroforestri dan hubungan yang lebih erat dengan dunia usaha.
Ia menekankan bahwa kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci agar perhutanan sosial naik kelas. Dukungan teknologi, pendampingan perguruan tinggi, dan kemitraan usaha dinilai dapat mempercepat hilirisasi produk dari kawasan hutan.
Agroforestri didorong menjaga fungsi lingkungan
Pengembangan perhutanan sosial di Jawa Timur diarahkan untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat tanpa mengabaikan fungsi lingkungan. Melalui pola agroforestri, warga didorong menanam berbagai komoditas pertanian di kawasan hutan dengan tetap menjaga keberlanjutan.
Skema ini juga membuka ruang kemitraan antara kelompok tani hutan dan pelaku usaha. Bentuk kerja sama itu mencakup pendampingan budidaya, akses pasar, hingga penyerapan hasil produksi agar petani mendapatkan manfaat yang lebih pasti.
Kerja sama lapangan mulai dibangun di Jember
Di Kabupaten Jember, penguatan budidaya pertanian dan agroforestri telah dikembangkan bersama kelompok tani dan kelompok tani hutan. Model kerja sama tersebut mencakup pendampingan teknis, penguatan kemitraan, akses pasar, dan pengembangan usaha pertanian.
Pendekatan itu diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani. Pada saat yang sama, keterhubungan dengan pelaku usaha diharapkan membuat hasil panen lebih mudah terserap dan memiliki nilai ekonomi yang lebih baik.
Perguruan tinggi dan generasi muda ikut dilibatkan
Selain dunia usaha, perguruan tinggi juga diposisikan sebagai mitra penting dalam memperkuat sumber daya manusia di sektor perhutanan sosial. Keterlibatan akademisi dibutuhkan agar transfer teknologi dan pendampingan di lapangan berjalan lebih kuat.
Khofifah juga menilai generasi muda perlu dilibatkan untuk menjaga keberlanjutan pertanian dan perhutanan sosial. Langkah ini dipandang penting di tengah tantangan regenerasi petani pada masa depan.
Kolaborasi lintas sektor meluas
Penguatan perhutanan sosial di Jawa Timur turut ditopang kerja sama lintas sektor yang melibatkan perusahaan dan lembaga kehutanan. Sebelumnya, perusahaan pertanian PT Mekar Asta Nusantara (MANU) telah menjalin kerja sama dengan Balai Perhutanan Sosial Yogyakarta dan Dinas Kehutanan Jawa Timur.
Rangkaian kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan perhutanan sosial di Jawa Timur bergerak ke model yang lebih terbuka. Arah besarnya adalah menggabungkan fungsi lingkungan, penguatan ekonomi warga, dan peningkatan nilai tambah lewat kemitraan usaha serta agroforestri.
Source: money.kompas.com






