Di Jatimulyo, Kabupaten Kulon Progo, perlindungan burung tidak lagi dipandang sebagai pembatas ekonomi, melainkan sumber penghidupan baru bagi warga. Desa yang dulu dikenal dengan aktivitas perburuan burung kini justru tumbuh sebagai Desa Ramah Burung.
Perubahan itu terlihat jelas dari bertambahnya aktivitas ekonomi lokal yang mengikuti hadirnya pengamatan burung. Warga membuka penginapan, menyediakan jasa pemandu, dan mengembangkan usaha pendukung pariwisata lainnya.
Konservasi yang ikut menggerakkan warga
Transformasi di Jatimulyo tidak hanya bertumpu pada perlindungan satwa, tetapi juga pada keterlibatan warga dalam setiap program. Edukator konservasi dan kreator konten lingkungan Mutia Hanifah atau Mudi menilai pendekatan semacam ini membuat masyarakat menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton.
Menurut Mudi, sejumlah organisasi di desa tersebut menjalankan program konservasi dengan menggunakan jasa warga desa sendiri. Pola itu membuat manfaat dari upaya menjaga alam dapat dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.
Salah satu contoh yang menonjol adalah program adopsi sarang burung. Melalui skema ini, warga ikut menjaga sarang hingga telur menetas dan anak burung dapat terbang bebas.
Aktivitas itu sekaligus memberi ruang bagi manfaat ekonomi untuk mengalir ke masyarakat yang terlibat. Dengan cara ini, perlindungan satwa dan kesejahteraan warga berjalan dalam satu rangkaian yang saling menguatkan.
Berawal dari aturan desa
Titik balik perubahan Jatimulyo dimulai pada 2014 ketika pemerintah desa menetapkan Peraturan Desa Nomor 8 tentang Pelestarian Lingkungan Hidup. Kebijakan itu menjadi dasar pergeseran cara pandang masyarakat terhadap satwa liar.
Jika dulu burung kerap diposisikan sebagai objek buruan, kini satwa tersebut dilihat sebagai aset yang harus dijaga bersama. Dari sini, berbagai inisiatif konservasi berbasis masyarakat mulai berkembang dan membentuk identitas baru desa.
Jurnal “Ekowisata di Desa Jatimulyo Kulonprogo, Benang Merah Konservasi Burung dan Pariwisata” menyebut, Jatimulyo kemudian tercatat menjadi habitat bagi lebih dari 100 jenis burung. Desa ini pun mulai dikenal sebagai destinasi pengamatan burung.
Ekowisata yang menambah nilai desa
Perubahan cara pandang itu membawa dampak yang lebih luas dari sekadar perlindungan satwa. Saat kunjungan pengamat burung meningkat, ekonomi lokal ikut bergerak dan membuka peluang usaha baru bagi warga.
Model ini memperlihatkan bahwa konservasi dapat dirancang untuk memulihkan ekosistem sekaligus memperkuat ekonomi desa. Ketika habitat terjaga, Jatimulyo memperoleh nilai tambah yang sebelumnya tidak muncul dari praktik perburuan.
Bagi Jatimulyo, burung yang dahulu diburu kini justru menjadi daya tarik utama. Dari perubahan itulah ekowisata bertumpu pada keberlanjutan berkembang dan memberi ruang baru bagi warga untuk memperoleh penghasilan.
Pengalaman desa ini menunjukkan bahwa konservasi berbasis masyarakat akan lebih bertahan ketika manfaatnya terasa langsung. Di Jatimulyo, menjaga alam tidak hanya berarti melindungi burung, tetapi juga menjaga sumber hidup yang tumbuh dari alam yang tetap lestari.
