Jatuh Tempo Utang 2026 Sentuh Rp833,96 Triliun, Rupiah Masih Tertekan Konflik Timur Tengah

Rupiah kembali berada di bawah tekanan dan ditutup melemah ke level Rp17.181 per dolar AS. Pelemahan sebesar 38 poin atau 0,22% dari posisi sebelumnya di Rp17.143 per dolar AS menunjukkan pasar masih bergerak hati-hati ketika sentimen eksternal dan domestik sama-sama belum memberi ruang pemulihan.

Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah juga tercermin pada kurs acuan Bank Indonesia. JISDOR turun ke Rp17.179 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.142 per dolar AS, menandakan pelemahan mata uang domestik terjadi secara lebih luas di pasar.

Geopolitik belum mereda

Salah satu sumber kekhawatiran datang dari konflik Amerika Serikat dan Iran yang masih membayangi pasar. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pernyataan Presiden AS Donald Trump soal perpanjangan gencatan senjata tanpa batas waktu justru menambah ketidakpastian karena belum ada respons yang tegas dari Iran maupun Israel.

Situasi itu membuat pelaku pasar kesulitan membaca arah perkembangan tensi di Timur Tengah. Ketika kepastian politik melemah, aset berisiko seperti mata uang negara berkembang cenderung ikut tertekan.

Tekanan juga datang dari kebijakan AS yang masih mempertahankan blokade terhadap pelabuhan dan wilayah pesisir Iran. Iran menyebut langkah tersebut sebagai bentuk agresi, bukan jalan damai, sehingga peluang meredanya ketegangan belum terlihat kuat.

Minimnya pernyataan resmi dari pihak Iran ikut memperbesar ruang spekulasi di pasar. Media lokal Iran bahkan menegaskan bahwa negara itu tidak meminta perpanjangan gencatan senjata dan membuka kemungkinan melakukan perlawanan terhadap blokade AS.

Faktor domestik ikut menahan rupiah

Selain sentimen luar negeri, pasar juga mencermati situasi fiskal di dalam negeri. Beban utang pemerintah menjadi perhatian karena pada 2026 total jatuh tempo utang mencapai Rp833,96 triliun, angka yang disebut sebagai yang tertinggi dalam satu dekade terakhir.

Dari jumlah tersebut, sekitar Rp154,5 triliun berasal dari skema burden sharing antara pemerintah dan Bank Indonesia saat pandemi COVID-19. Besarnya kewajiban itu membuat pasar menyoroti kemampuan pemerintah menjaga stabilitas fiskal dan likuiditas pembiayaan.

Dalam kondisi seperti ini, strategi refinancing dinilai menjadi salah satu opsi yang kemungkinan ditempuh. Namun, langkah tersebut tetap sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar global yang belum menunjukkan stabilitas yang kuat.

Sikap pasar cenderung defensif

Perpaduan antara konflik AS-Iran dan beban utang domestik membuat pasar mengambil sikap lebih hati-hati. Investor cenderung menunggu perkembangan baru sebelum kembali agresif masuk ke aset berisiko, termasuk rupiah.

Selama dua tekanan utama itu belum mereda, ruang penguatan mata uang domestik masih terbatas. Pasar juga masih memantau apakah kebijakan dan pernyataan lanjutan dari pihak-pihak terkait dapat memberi sinyal yang lebih jelas bagi arah rupiah pada perdagangan berikutnya.

Source: mediaindonesia.com

Berita Terkait