Di tengah tekanan ekonomi global dan fiskal yang masih membayangi banyak daerah, Jawa Tengah tetap mampu menarik minat investor. Peresmian 23 Semarang Shopping Center dan groundbreaking Hyatt Place di kawasan Pearl of Java City, Semarang, menjadi tanda bahwa arus investasi ke provinsi ini belum melambat.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menilai kepercayaan investor menjadi modal penting di tengah situasi yang menantang. Menurut dia, proyek-proyek baru itu menunjukkan bahwa iklim usaha di Jawa Tengah masih dipandang menjanjikan untuk pengembangan usaha dan penciptaan kerja.
Faktor yang dijaga pemerintah daerah
Luthfi menyebut Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus menjaga iklim usaha melalui kemudahan perizinan, stabilitas keamanan, dan ketersediaan tenaga kerja yang kompeten. Ia menilai tiga hal itu menjadi penopang utama agar investasi tetap masuk ke daerah.
Ia juga menyoroti tumbuhnya kawasan industri di sejumlah wilayah, mulai dari Semarang, Kendal, Batang, hingga Demak. Menurutnya, perkembangan itu memperkuat citra Jawa Tengah sebagai provinsi yang menarik bagi investasi nasional maupun internasional.
Karena itu, kabupaten dan kota didorong ikut mengembangkan kawasan industri. Saat ini, sudah ada 12 kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus yang diajukan untuk memperluas daya tarik investasi di provinsi tersebut.
Investasi hijau mulai mendapat tempat
23 Semarang Shopping Center tidak hanya diposisikan sebagai pusat aktivitas ekonomi baru, tetapi juga sebagai contoh investasi yang membawa prinsip pembangunan berkelanjutan. Proyek itu dirancang dengan konsep ekonomi hijau yang memanfaatkan energi terbarukan, urban garden, dan ruang terbuka hijau.
Konsep tersebut diarahkan untuk membantu pengurangan emisi sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan. Luthfi juga menyebut Jawa Tengah memberi insentif pajak bagi investasi yang menerapkan energi terbarukan agar investasi hijau bisa tumbuh lebih luas.
Dampak ekonomi bagi warga sekitar
Dari sisi penyerapan tenaga kerja, proyek ini diperkirakan membuka sekitar 3.000 lapangan kerja. Kehadirannya juga diperkirakan memberi efek berganda bagi berbagai sektor usaha, termasuk UMKM di sekitar kawasan pengembangan.
Lokasinya yang tidak jauh dari Bandara Internasional Ahmad Yani dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung perdagangan, jasa, pariwisata, dan ekonomi kreatif. Posisi tersebut membuat proyek ini tidak hanya bernilai komersial, tetapi juga strategis bagi penguatan aktivitas ekonomi kawasan.
Luthfi menegaskan setiap investasi yang masuk ke Jawa Tengah harus memberi dampak nyata bagi masyarakat. Karena itu, pemerintah daerah terus mendorong keterlibatan UMKM dalam rantai ekonomi dari berbagai proyek investasi.
Ia juga menekankan pentingnya hilirisasi agar manfaat ekonomi tidak berhenti pada investor saja. Menurutnya, investasi di Jawa Tengah harus bersifat padat karya dan mampu menyerap banyak tenaga kerja agar manfaatnya dirasakan lebih luas oleh warga.
Source: timesindonesia.co.id






