Jawa Timur masih berada di posisi teratas dalam pengukuran inovasi daerah yang dilakukan Kemendagri, tetapi status itu tidak dianggap aman. Pemerintah pusat menilai daerah lain terus memperkuat inovasi, sehingga Jatim tetap harus bergerak cepat agar capaian yang sudah diraih tidak turun.
Peringatan itu menegaskan bahwa predikat daerah paling inovatif tidak cukup dipertahankan hanya dengan banyaknya program. Yang dibutuhkan adalah ekosistem yang membuat inovasi benar-benar dirasakan masyarakat dan penerima layanan publik.
Inovasi harus menyentuh layanan publik
Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri Kemendagri, Yusharto Huntoyungo, menilai inovasi daerah tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Ia menekankan bahwa hasilnya harus langsung mendukung program prioritas pemerintah dan target pembangunan berkelanjutan.
Menurut Yusharto, tantangan terbesar justru ada pada budaya kerja kolaboratif. Inovasi masih sering berhenti di masing-masing organisasi perangkat daerah, sehingga manfaatnya belum selalu tersambung secara utuh.
Ia memberi contoh kebutuhan kerja sama antara Dinas Pendidikan dan Dinas Perhubungan. Kolaborasi itu dinilai penting untuk mendukung layanan transportasi pelajar dan membuat akses pendidikan lebih mudah dijangkau masyarakat.
Jatim unggul, tetapi persaingan terus bergerak
Yusharto menyebut Jawa Timur masih memimpin pengukuran inovasi daerah yang dilakukan Kemendagri. Kondisi serupa juga terlihat di kabupaten dan kota di Jawa Timur yang banyak berada pada klaster tertinggi penilaian pemerintah daerah inovatif.
Meski begitu, ia mengingatkan bahwa posisi tersebut tidak aman karena daerah lain juga bergerak memperkuat inovasi. Karena itu, akselerasi tetap diperlukan agar prestasi yang sudah dicapai tidak merosot.
Kemendagri sendiri saat ini masih berada pada tahap persiapan penilaian inovasi daerah 2026. Dalam proses tersebut, kementerian juga menyerap masukan dari pemerintah daerah dan akademisi untuk menyempurnakan sistem penilaian.
Arah penilaian bisa dikaitkan dengan prioritas nasional
Yusharto membuka peluang adanya tema khusus dalam penilaian tahun depan yang dikaitkan dengan target Sustainable Development Goals dan program prioritas nasional pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menyebut ada 54 program prioritas nasional yang membutuhkan dukungan inovasi daerah agar target pembangunan tercapai sesuai waktu.
“Tanpa inovasi, akselerasi program tidak akan cukup tercapai hanya dengan cara-cara biasa,” kata Yusharto.
Pernyataan itu menegaskan bahwa penguatan inovasi daerah tidak lagi dipandang sekadar sebagai lomba penghargaan. Fokusnya bergeser pada kemampuan daerah membangun layanan yang lebih cepat, saling terhubung, dan relevan dengan kebutuhan warga.
Pendidikan jadi salah satu penggerak inovasi di Jatim
Di tengah dorongan itu, Dinas Pendidikan Jawa Timur memaparkan capaian prestasi dan inovasi pendidikan periode 2024-2025 di hadapan tim penilai Innovation Government Award Kemendagri. Kepala Dindik Jawa Timur Aries Agung Paewai menjelaskan sejumlah program yang berdampak langsung pada layanan pendidikan.
Dua contoh yang disorot adalah Program Terapan Ekonomi Guru Non-Aparatur Sipil Negara atau Proteg dan East Java Innovative Education Summit atau EJIES. Aries menyebut Dindik Jatim memberi dukungan jumlah inovasi terbanyak dalam ajang IGA Award dan Jawa Timur menjadi juara satu nasional.
Ia menambahkan bahwa kontribusi sektor pendidikan terhadap capaian inovasi daerah cukup signifikan. Peningkatan dari 2024 ke 2025 juga disebut terlihat tinggi.
Kemendagri, kata Aries, ikut melihat langsung berbagai program yang dibangun Dindik Jatim beserta dampaknya terhadap lingkungan sekolah dan masyarakat. Karena itu, pihaknya mendorong guru untuk terus menciptakan inovasi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan lapangan.
“Inovasi yang lahir merupakan jawaban atas persoalan yang ada di masyarakat,” ujar Aries.
Ribuan gagasan didorong agar punya dampak nyata
Aries juga menyebut ada 398 inovasi yang diajukan, dan 196 di antaranya telah mencapai tingkat kematangan tinggi berdasarkan hasil validasi serta tingkat kebermanfaatannya. Angka itu menunjukkan bahwa inovasi pendidikan di Jawa Timur tidak hanya banyak, tetapi juga dinilai punya nilai guna yang kuat.
Selain itu, kerja sama dengan media menjadi bagian penting dalam konsep pentahelix untuk memperluas publikasi inovasi pendidikan. Menurut Aries, langkah ini membantu gagasan yang lahir di lingkungan pendidikan menjangkau publik lebih luas.
EJIES menjadi wadah bagi insan pendidikan untuk menampilkan berbagai inovasi. Aries menyebut sekitar 24 ribu inovasi masuk dalam forum tersebut, yang memperlihatkan besarnya partisipasi dalam penguatan ekosistem inovasi pendidikan di Jawa Timur.
Dorongan Kemendagri dan capaian Dindik Jatim sama-sama menunjukkan bahwa penilaian inovasi kini menuntut hasil yang nyata. Bagi Jawa Timur, tantangannya bukan hanya mempertahankan posisi, tetapi juga memastikan inovasi terus bergerak melalui kolaborasi antarperangkat daerah dan dukungan ekosistem yang lebih terbuka.
Source: jatim.antaranews.com






